BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Jumat, 01 April 2011

NANAS (Ananas comosus) Sebagai OBAT SEMBELIT

Budidaya Nanas (Ananas comosus)
Buah nenas (Ananas comosus) muda mempunyai mata berwarna kelabu atau hijau muda, kelopak kecil-kecil yang menutupi separuh dari mata dan  berwarna kelabu keputih-putihan sehingga buah tampak kelabu. Apabila buah  telah tumbuh maksimal (tua atau mature) dan sejalan dengan proses pematangan  maka warnanya berubah. Warna mata pada buah nenas  red  Spanish menjadi  cokelat kemerahan, kuning atau oranye muda. Untuk jenis smooth cayenne seperti  nenas Palembang warnanya kuning muda atau kuning emas.
            Tanaman tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3-5, tetapi  paling baik adalah pH tanah antara 5-6,5. Oleh karena itu, tanaman nenas bagus  pula dikembangkan di  lahan gambut . Tanaman nenas dapat tumbuh di tempat  terbuka, tetapi dapat pula tumbuh subur di tempat ternaungi pohon besar. Namun, di tempat terbuka yang mendapat sinar matahari terik, buahnya sering hangus.    Di daerah beriklim kering (4-6 bulan kering), tanaman ini masih mampu berbuah, asalkan kedalaman air tanah antara 50-150cm. Hal ini disebabkan akarnya dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air
            Aktivitas enzim bromelin ditentukan berdasarkan metode Murachi dengan menggunakan substrat kasein. Sebanyak 0,5 ml kasein (10mg/ml) direaksikan dengan 0,5 ml enzim dan 8 ml larutan buffer fosfat. Untuk mendapatkan kondisi optimum aktivitas enzim, maka dibuat variasi suhu, pH, serta lama inkubasi terhadap aktivitas enzim. Setelah diinkubasi, ke dalam  campuran reaksi ditambahkan 1 ml larutan asam trikloroasetat 30%. Panaskan lagi pada suhu yang sama selama 30 menit. Protein yang terkoagulasi dipisahkan dengan   kertas filtrat yang diperoleh diukur absorbansinya pada panjang gelombang 280 nm. Sebagai kontrol digunakan enzim yang telah dimat ikan aktivitasnya melalui pemanasan. Unit aktivitas  dinyatakan dalam 1 mikro mol tirosin yang dihasilkan  per ml enzim dalam15 menit pada kondisi percobaan. Untuk mengetahui jumlah tirosin yang dihasilkan digunakan kurva standar tirosin.
            Dari proses isolasi enzim bromelin dari bonggol nenas diperoleh ativitas enzim sebesar 107,80 unit/ml pada kondisi pH 7,5, suhu 550C dengan lama inkubasi 15 menit. Dari proses imobilisasi enzim bromelin dengan menggunakan kkaragenan sebagai matriks polimer diperoleh aktivitas enzim 26 unit/ml pada kondisi pH 7,5 suhu 600C dengan lama inkubasi 15 menit.Teknologi imobilisasi dapat meningkatkan difat termostabil dari enzim bromelin. Enzim imobil mempunyai kemampuan untuk digunakan secara berulang
            Analisis mengenai pengaruh variasi  konsentrasi NaCl (0,0%, 5,0%, 10,0%, 15,0%  dan 20,0% b/b) terhadap hidrolisis protein ikan  lemuru menunjukkan bahwa kondisi optimum  hidrolisat tercapai pada konsentrasi NaCl 15,0%  b/b. Hidrolisat protein ikan tersebut  mengandung protein terlarut sebesar 4,23%  dengan berat molekul kurang dari 14,2 x 10 3 Da,  dan derajat hidrolisis yang dimiliki sebesar  33,48%. 

Manfaat Nenas (Ananas comosus) untuk Kesehatan 
            Nenas memiliki segala macam manfaat. Berdasarkan kandungan  nutrisinya, ternyata kulit buah nenas mengandung karbohidrat dan gula yang  cukup tinggi. Kulit nenas mengandung 81,72 % air; 20,87 % serat kasar; 17,53 %  karbohidrat; 4,41 % protein dan 13,65 % gula reduksi. Mengingat kandungan  karbohidrat dan gula yang cukup tinggi tersebut maka kulit nenas yang  memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan kimia,  salah satunya etanol melalui proses fermentasi.  Efek farmakologis dan hasil  penelitian terhadap pengaruh penambahan  sari buah nenas terhadap mutu susu sapi telah dilakukan. Ternyata, pada penambahan 3,4 ml sari buah nenas diperoleh  populasi bakteri terendah, yaitu 37,60x 10' sel/ml dan kadar lemak tertinggi  7,594%. Pada penambahan 3,2 ml sari buah nenas diperoleh kadar  protein  tertinggi 19,138%.
            Nanas memang berpotensi  menjadi tanaman obat. Menurut  Dr Setiawan Dalimartha  dalam bukunya yang berjudul,  “Atlas Tumbuhan Obat  Indonesia”, enzim bromelain  dalam buah nanas berkhasiat  sebagai antiradang, membantu  melunakkan  makanan di  lambung,  mengganggu  pertumbuhan  sel kanker,  dan mencegah  terjadinya  penggumpalan  darah (blood  coagulation). Kandungan  serat nanas yang  cukup tinggi, cocok mengobati  sembelit. Makan  buah nanas,  sama artinya  mengonsumsi  obat pencahar  (konstipasi). Efeknya,  buang air besar yang tadinya  tersendat, menjadi lancar  kembali. Nanas juga cukup  baik dikonsumsi oleh orangorang yang sedang sakit.
            Dalam nanas terkandung zatzat yang dapat meningkatkan  penyerapan obat ke dalam  tubuh. Nanas merupakan buahbuahan yang mengandung  banyak vitamin dan berfungsi  sebagai tanaman obat. Selain  vitamin A, vitamin C, kalsium,  magnesium, natrium, kalium,  fosfor, dekstrosa, sukrosa,  juga enzim bromelain. Enzim  bromelain dalam nanas, selain   berkhasiat untuk antiradang,  juga membantu pencernaan  di lambung, menghambat  pertumbuhan sel kanker, dan  mencegah penggumpalan  darah.
            Kandungan serat dalam  nanas terbilang tinggi dan  cocok sebagai obat untuk  sembelit sehingga nanas dapat menjadi obat pencahar bagi mereka yang sulit buang air besar. Nanas juga baik dikonsumsi saat sedang sakit karena dalam nanas  terkandung zat-zat yang dapat membantu menyerap obat ke dalam tubuh.
Sembelit
§  Pilih 3 buah nanas yang belum masak. Kupas dan cuci bersih. Parut atau jus, kemudian peras airnya. Minum air perasan nanas 2 kali sehari setelah makan. Masing-masing setengah gelas.
§  Cuci bersih 300 gram buah papaya, 200 gram nanas setengah matang, lalu haluskan dengan blender, tambahkan air sebanyak 200 mL. 

KESIMPULAN

1.      buah nanas berkhasiat  sebagai antiradang, membantu  melunakkan  makanan di  lambung,  mengganggu  pertumbuhan  sel kanker,  dan mencegah  terjadinya  penggumpalan  darah (blood  coagulation).
2.      Kandungan  serat nanas yang  cukup tinggi,  cocok mengobati  sembelit. Makan  buah nanas,  sama artinya  mengonsumsi  obat pencahar  (konstipasi).
3.      obat untuk semebil yaitu cuci bersih 300 gram buah papaya, 200 gram nanas setengah matang, lalu haluskan dengan blender, tambahkan air sebanyak  200 mL
4.      Dari proses isolasi enzim bromelin dari bonggol nenas diperoleh ativitas enzim sebesar 107,80 unit/ml pada kondisi pH 7,5, suhu 550C dengan lama inkubasi 15 menit.
.
  
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2008. Nanas, Pelangsing tubuh. Diakses dari http://www.fk.undip.ac.id.

Hadju, V., 2010. Nanas Menghambat Serbuan Penyakit Serius. Koran Juni 2010. Diakses dari http://www.fajar.co.id.

Handayani, W., A. A. I. Ratnadewi, dan A. B. Santoso, 2007. Pengaruh Variasi Konsentrasi Sodium Klorida terhadap Hidrolisis Protein  Ikan Lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) oleh Protease Ekstrak  Nanas (Ananas comosus [L.] Merr. var. Dulcis) Jurnal  Teknologi Proses  Media Publikasi Karya Ilmiah   Teknik Kimia  6(1) Januari 2007: 1 – 9. ISSN 1412-7814

Sebayang, F., 2006. Pengujian Stabilitas Enzim Bromelin Yang Diisolasi Dari Bonggol Nanas Serta Imobilisasi Menggunakan Kappa Karagenan. Jurnal Sains Kimia Vol. 10, No.1, 2006: 20–26.

KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack.) SEBAGAI OBAT LUKA TERPUKUL (MEMAR)

         Tumbuhan kemining (Murraya paniculata (L) Jack) merupakan tumbuhan hutan, tumbuh di semak belukar atau ditanam orang sebagai perdu hias. Tumbuhan kmuning (Murraya paniculata (L) Jack) tumbuh kira-kira sampai setinggi 400 m di atas permukaan laut. Variasi morfologi besar sekali, tumbuhan kemuning biasanya dijumpai untuk memagari pekarangan adalah jenis yang berdaun kecil dan lebat. Tumbuhan yang termasuk suku Rutaceae ini, merupakan perdu atau pohon kecil yang bercabang banyak, tinggi 3 – 8 m, batangnya keras, beralur, tidak berduri. Daunnya merupakan daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3 – 9, yang tumbuh berseling, bentuk bundar telur sungsang, dengan ujung dan pangkal daun meruncing, tepi rata atau agak beringgit, panjang 2 – 7 cm, lebar 1 – 3 cm, permukaan licin dan mengkilat. Panjang tangkai daun 3 – 4 mm. Daun bila diremas tidak berbau. Bunganya bunga majemuk 1 – 8, warnanya putih, wangi keluar dari ujung batang atau ketiak daun. Buahnya buni berdaging, bulat telur atau bulat memanjang, lebar, merah mengkilat, panjang 8 – 12 mm, berbiji dua. Bagian tumbuhan yang sering digunakan sebagai obat adalah daun, buah dan kulit.
Tumbuhan ini dikenal dengan beberapa nama daerah, di Sumatera: Kemuning, kamunieng, di Jawa: kamuning, kamoneng, kemuning, Nusa tenggara: kajeni, kemuning, kamuni, kahabar, karizi, Sulawesi: kemuning, kamuni, kayu gading, kamoni, kamuning, palopo, Maluku: esehi, fanasa, kamoni, kamone (Siregar, 2005).


BUDIDAYA KEMUNING

Perbandingan λ maks senyawa pembanding dari literatur dengan senyawa hasil isolasi adalah 390 – 430 nm: 400 – 410 nm. Sedangkan hasil interpretasi spektrum infra merah pada bilangan gelombang 2918.1 – 2848.7 cm-1 (kuat) menunjukkan vibrasi rentangan –CH dari –CH2, pada 1739.7 – 1706.9 cm-1 (sedang) menunjukkan vibrasi gugus –CO, 1647.1 cm-1 (lemah) menunjukkan vibrasi rentangan –C=C-, 1456.2 (sedang) menunjukkan –CH dari CH3, 1375.2 (sedang) menunjukkan serapan –CH3, 1232.4 – 1022.2 cm-1 menunjukkan vibrasi rentangan –C-O pada alkohol dan 972.1 – 887.2 cm-1 menunjukkan vibrasi ulur dari HC=C-. interpretasi spektrum H1-NMR δ 0.6 – 3.0 ppm (senyawa pembanding kira-kira 1.7 ppm) dengan puncak multiplet menunjukkan adanya pergeseran kimia proton (-CH2-CH=C(CH3)2), (pembanding kira-kira 2.7 ppm) CH3OCO-, -C-CH3, aromatik, (senyawa pembanding 2.3 ppm) H-3 flavanon, δ 4.2 – 5.8 ppm (senyawa pembanding 4.2 – 6.0 ppm) dengan puncak multiplet menunjukkan adanya (H-2 dihidroflavonol), (H-2 flavanol), (-O-CH2-O-). Titik lebur senyawa hasil isolasi 197 – 198oC sedangkan untuk senyawa pembanding 196 – 197oC. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan senyawa yang diperoleh dari hasil isolasi mirip dengan senyawa auron.
Dari hasil kromatografi lapis tipis ekstrak daun Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) dengan pelarut ekstraksi etanol 40 % , menggunakan larutan pengembang etil asetat dan penampak bercak sinar UV 254 nm, 366 nm dapat disimpulkan sebagai berikut : Terdapat enam komponen senyawa kimia yang dimungkinkan merupakan senyawa golongan alkohol, keton tingkat tinggi, steroid, asam organik, terpen dan minyak atsiri. Pada percobaan uji aktivitas antibakteri terbukti ekstrak etanol daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack mempunyai daya antibakteri terhadap Escherichia coli secara in vitro dengan Kadar Hambat Minimum (KHM) 30 % b/v dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) 40 % b/v.
Daun tumbuhan kemuning (Murraya paniculata (L) Jack mengandung senyawa flavonoida kristal kuning berbentuk jarum sebanyak 99.6 mg dengan titik lebur 197 – 198oC. (Siregar, 2005).
Dari hasil analisis kuantitatif secara KLT terhadap ekstrak etanol daun kemuning dengan sinar UV 254 nm terdapat 6 bercak pada kromatogram dengan harga Rf masing-masing 0,45; 0,58; 0,62; 0,67; 0,68; 0,70. Masing – masing bercak dapat terpisah dengan baik dan tidak terjadi penumpukan. Ini menunjukkan bahwa larutan pengembang etil asetat dinilai sebagai eluen yang baik dalam memisahkan senyawa- senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol daun kemuning (Murraya panicula (L.) Jack). Begitu juga pada warna yang dihasilkan masing- masing bercak terlihat jelas dengan penampak sinar UV 254 nm. Sedangkan pada pengamatan dibawah sinar UV 366 nm bercak yang nampak lebih sedikit terdeteksi dan semua meredam. Harga Rf yang dihasilkan pada 4 bercak dengan sinar UV 366 nm adalah sama dengan penampak sinar UV 254 nm untuk letak bercak yang sama pada lempeng KLT. Ini menunjukkan bahwa senyawa kimia pada bercak itu adalah sama. Warna beberapa bercak dibawah sinar UV 254 nm yang memiliki intensitas warna paling kuat diantara bercak lainnya antara lain ungu (Rf 0.62), ungu jingga (Rf 0.67) hijau (Rf 0.68) dan coklat (Rf 0.70). Dengan demikian secara kuantitatif senyawa kimia tersebut kandungannya lebih tinggi. (Kartika, 2007).           
Berdasarkand ari hasil penelitian yang yang dilakukan menggunakan ekstrak air daun Kemuning terhadap kadar kolesterol darah kelinci, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian ekstrak air daun Kemuning (Muraya paniculata (L.) Jack,) konsentrasi 51,0 % dengan dosis 2,5 g/kg BB ,                       75 % dengan dosis 3,5 g/kg BB, dan 100 % dengan dosis 5 g/kg BB satu kali sehari secara oral pada kelinci dapat menurunkan kadar Kolesterol total, LDL kolesterol Trigliserida dan rasio kadar Kolesterol total : HDl-kolesterol darahk elinci. Dan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam menurunkan kadar Kolesterol total , LDL - kolesterol , Trigliserida , dan rasio kadar kolestenol total : HDL - kolesterol pada pernberian ekstrak air daun Kennrning konsentrasi 5O o/o , 75Yo,dan l}Q o/o (
Pemberian minyak kelapa dengan dosis 5 nrl / kg BB satu kali sehari selama2 minggu dapat meningkatkank adar Kolesterol total, LDl-kolesterol Trigliserida dan rasio kadar Kolesterol total : tlDl-kolesterol darah kelinci (Jualiawati, 1998).

KEGUNAAN KEMUNING
Kegunaan tumbuhan kemuning antara lain dapat menyembuhkan memar karena benturan, sakit rematik, sakit gigi, sakit borok, epidemik encephalitis B, lokal anaesthesis, orchitis, bronchitis, infeksi saluran kecing, datang haid tidak teratur, mengurangi lemak tubuh berlebihan, gigitan serangga, ular, bisul gatal, eksim dan penyakit koreng (Siregar, 2005).
Salah satu bagian tanaman yang sering digunakan untuk obat adalah daun. Di masyarakat khasiat daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) diantaranya untuk mengatasi nyeri, menurunkan demam, obesitas, penyakit infeksi seperti bisul, ekzema, ulkus, infeksi saluran kencing, infeksi saluran pernafasan, diare dan disentri.
Daun kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) mengandung senyawa kimia yang merupakan metabolit sekunder seperti minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, saponin, damar, dan tanin. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di tanaman Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) dilaporkan dalam beberapa karya ilmiah mempunyai aktivitas biologi sebagai obat pemati rasa (anestesia), penenang (sedatif), penurun panas (antipiretik), dan antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Kartika, 2007).

FUNGSI OBAT
Kemuning dan kaca piring, masing-masing daun segar, sama banyak, dicuci lalu digiling halus. Tambahkan sedikit arak sambil diaduk di atas api. Hangat-hangat ditempelkan pada bagian tubuh yang memar. 

KESIMPULAN

1.      Daya kemuning sebagai obat pemati rasa (anestesia), penenang (sedatif), penurun panas (antipiretik), dan antibakteri.
2.      Daun tumbuhan kemuning (Murraya paniculata (L) Jack mengandung senyawa flavonoida kristal kuning berbentuk jarum sebanyak 99.6 mg dengan titik lebur 197 – 198oC.
3.      Pengobatan memar dengan menggunakan daun kemuning digunakan daun yang masih segar.
4.      Cara pemberian pengobatan dengan meletakkan daun yang telah di masak pada bagian yang terkena luka pukulan (memar).
.
DAFTAR PUSTAKA

Juliawati, 1998. Pengaruh Ekstrak Air Daun Kemuning (Murraya Paniculata (L.)   Jack.) terhadap Kadar Kolesterol Darah Kelinci. Skripsi. Diakses dari   http://digilib.ubaya.ac.id.

Kartika, D. S., 2007. Profil Kromatogram Dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kemuning (Murraya Paniculata (L.) Jack.) Terhadap Bakteri
            Escherichia Coli In Vitr. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id.

Siregar, P. H., 2005. Isolasi Flavonoida dari Daun Tumbuhan Kemuning (Murraya paniculata [L] Jack) Jurnal Sains Kimia (Suplemen) Vol 9, No.3, 2005: 12-14. diakses dari http://repository.usu.ac.id.


KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii (Ness)BL.)

Ditinjau dari keatsirian minyaknya maka kayu manis dikenal dengan tiga tipe yaitu: kayu manis asal Ceylon Cinnamomum zaylanicum Ness, kayu manis asal Saigon Cinnamomumloureiril Ness dan kayu manis asal Cina Cinnamomum cassia Ness. Ketiga varietas tumbuhan tersebut dapat tumbuh di Indonesia tapi jarang dibudidayakan dengan pola perkebunan, namun dari familia Lauraceae yang banyak dibudidayakan di Indonesia dengan pola perkebunan adalah spesies kayu manis (Cinnamomum burmani) (Nainggolan, 2008).
Karakteristik tiga jenis minyak kayu manis:

Karakteristik
Berat jenis, 25 °/25 °C
Indeks bias, 25 °C
Putaran optik
Kelarutan dalam alkohol 70 %
Kadar Sinnamaldehida
C. zeylanicum *)
1,01 – 1,02
1,57 – 1,59
(0°) - (-2°)
Larut 1:3
55% - 78%
C. cassia **)
1,03 – 1,05
1,59 – 1,61
-
Larut 1:3
75% - 90%
C. burmanii***)
1,03
1,58
-3°
Larut jernih 1:1
74,0 %

Sumber : *) Masada, 1980. **) ISO, 1997. ***) (Ma’mun dan Suhirman, 2010).

Budidaya Tanaman Kayu Manis
Kayu manis menghendaki tanah yang subur, gembur dengan drainase yang baik serta kaya bahan organik. Sebagian besar tanaman kayu manis tumbuh di daerah yang memiliki suhu berkisar 10 - 230C, pada ketinggian 100 - 1.200 m dpl. Ketinggian terbaik untuk menghasilkan produk kulit kayu manis adalah 500 - 900 m dpl. Pada dataran rendah (300 - 400 m dpl) tanaman dapat tumbuh baik, tetapi produksi kulit rendah dengan ketebalan kulit kurang 2 mm serta warna kulit kuning kecokelatan. Semakin tinggi tempat tumbuhnya, maka terjadi perubahan warna kulit mendekati cokelat sampai kecokelatan.
Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan setek, cangkok, cabang air, layering dan memelihara tunas yang tumbuh pada tunggul bekas pohon yang sudah ditebang. Perbanyakan secara generatif melalui biji yang diperoleh dari pohon induk yang memiliki umur minimal ≥ 10 tahun dan telah masak sempurna. Penananam kayu manis di lapang dilakukan setelah bibit berumur 8 - 12 bulan, tinggi mencapai 60 – 80 cm. Jarak tanam tergantung elevasi dan umumnya digunakan adalah 1,5 x 1,5 m ; 2 x 2 m ; 2,5 x 2,5 m ; 3 x 3 m dan 4 x 4 m. Dari hasil penelitian menunjukkan jarak tanam yang terbaik adalah 2 x 3 m, hal ini bertujuan agar diperoleh batang yang lurus. Pemupukan pada tanaman kayu manis bervariasi jumlahnya tergantung umurnya. Pupuk kandang diberikan sebanyak 5 - 10 kg/pohon dengan cara disebarkan atau dibenamkan ke dalam tanah atau sekeliling parit di bawah tajuk tanaman setahun sekali. Untuk mendapatkan produksi kulit yang terbaik dilakukan pemupukan anorganik yang disesuaikan dengan umur tanaman (bertahap).
Pemakaian pupuk NPK berdasarkan umur tanaman

Umur tanaman (tahun)
Dosis pupuk umum (g/tanaman)
Dosis pupuk anjuran (g/tanaman)
1
100
25
2
150
50
3
200
75
4
300
100
5
450
-
6
750-1000
-

Sumber : Daswir et al. (2003)
Penyiangan dan sanitasi lingkungan dilakukan bersamaan dengan pemupukan, dianjurkan 2 - 4 kali dalam setahun. (Anonimous, 2008).
Pertumbuhan tanaman yang bermikoriza relatif lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bermikoriza. Hal ini disebabkan karena tanaman bermikoriza mempunyai kemampuan menyerap unsur hara dan air lebih baik. Hifa dari CMA dapat secara kimia merombak dan menyerap P yang terfiksasi dengan bantuan enzim fosfatase yang dihasilkannya. Selain itu CMA terbukti dapat mengekstrak Ca dan Mg serta beberapa unsur mikro yang biasanya bukan bagian dari pupuk buatan. Faktor lingkungan terutama intensitas cahaya dan suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan CMA serta keberhasilan simbiosisnya dengan inang. Intensitas cahaya matahari yang tinggi akan meningkatkan suhu tanah, selanjutnya suhu tanah akan mempengaruhi kapasitas dan derajad perkembangan CMA dalam menginfeksi akar tanaman. Diketahui bahwa pembentukan dan perkembangan cendawan mikoriza yang optimum terjadi pada suhu tanah 27-28 0C.
Peningkatan dosis CMA dari 50 g/bibit menjadi 100 g/bibit pada tingkat naungan 75% memberikan peningkatan pertumbuhan sebesar 3,64 cm sedangkan pada tingkat naungan 100% hanya sebesar 1,40 cm. Pada tingkat naungan 25% dan 50% peningkatan tinggi bibit akibat peningkatan dosis CMA berbeda tidak nyata. Penggunaan naungan pada kedua dosis CMA mampu meningkatkan tinggi bibit. Pada dosis CMA 50 g/bibit dan 100 g/bibit peningkatan naungan dari 25% sampai 75% menghasilkan peningkatan tinggi bibit masing-masing sebesar 3,61 cm dan 7,40 cm. Penggunaan naungan 100% pada kedua dosis CMA hanya memberikan peningkatan sebesar 3,58 cm dan 5,13 cm seperti yang tampak:

Dosis CMA
(g/bibit)
Tingkat naungan (%)
25 (N1)
50 (N2)
75 (N3)
100 (N4)
50 (M1)
30,58 c A
32,03 b A
34,19 a B
34,16 a B
100 (M2)
30,43 d A
32,41 c A
37,19 a A
35,56 b A

(Delvian, 2005).

Manfaat Kayu Manis
Minyak cassia bersifat anti bakteri, biasa digunakan dalam pasta gigi, obat pencuci mulut dan dalam pem-buatan obat tonic. Selain itu banyak digunakan dalam flavor makanan dan minuman termasuk minuman beral-kohol dan minuman ringan. Dalam jumlah kecil digunakan dalam parfum dan kosmetik. Minyak cinnamon mempunyai sifat aniseptik, anti mikroba dan sebagai parasitisida. Minyak kulit dan daun cinnamon banyak digunakan sebagai pewangi sekaligus pengobatan dalam pasta gigi, pencuci mulut, obat batuk dan perawatan gigi, juga sebagai flavor dalam makanan dan minuman seperti dalam coca cola. Minyak daun cinnamon digunakan dalam sabun, kosmetik, toilet deodoran, dan parfum. Batas maksimum pemakaian dalam makanan dan minuman adalah 0,057% untuk minyak cinnamon dan 0,047% untuk minyak cassia (Anonimous, 2008).
Komponen kimia yang terdapat pada minyak kulit kayu manis adalah -pinen, kamfen, -pinen, limonen, sineol, p-simen, d-kamfor, benzaldehid, linaleol, metil eugenol, sinamaldehid dan eugenol. Khasiat sirup kulit kayu manis dapat menyembuhkan rematik, asam urat, batuk/flu, melancarkan aliran darah, menghilangkan bau badan, menurunkan kadar kolesterol, menghilangkan masuk angin dan mencegah kanker (Delvian, 2005). Kayu manis pernah diteliti mengandung senyawa-senyawa: Sinamaldehida, eugenol, benzil bensoat, acetaugenol, phelandrene, dan lain-lain (Nainggolan, 2008). Komponen kimia utama yang terdapat pada ekstrak heksana kulit batang kayu Manis halmahera ialah a-terpineol; safrol; isoeugenol; kopaena; metileugenol; aloaromadendren; a-guaiena; kadinen; 1,2,3,4, 4a,5,6,8a-oktahidro- 4a,8-dimetil-2-(I-metiletenil) naftalena; a-muurolena; a-kubebena dan metoksieu- genol.
Identiflkasi spektrum massa yang diperoleh dari hasil analisis spektrometer massa dengan spektrum massa senyawa-senyawa yang telah diketahui yang terdapat pada bank data NIST library menunjukkan bahwa minyak atsiri dari daun kayu manis halmahera ini terdiri atas senyawa-senyawa monoterpena (sineol); 3,7-dimetil-3,6-oktadien- 3-ol; kamfor; p-linalool; a-terpineol seskuiterpena (kopaena, isokariofilena), turunan fenol (safrol, isoeugenol, metileugenol), hidrokarbon aromatik (2-metil-p-etiltoluena), dan alkana rantai pendek (n-dekana). Adapun komponen utama pada minyak atsiri dari daun ini adalah sineol, kamfor, dan safrol. Komponen kimia yang terkandung pada minyak atsiri dari kulit batang ini terdiri atas senyawa-senyawa dari golongan monoterpena (sineol; 1,7,7-trimetilsikI0- 2,2, 1 ,0(2,6) heptana; 3,7-dimetil-3,6-oktadien-3-01; mirsenol; kamfor; p-Iinalool; a-terpineol) seskuiterpena (kopaena, isoka-riofilena, emerofilena, kadinena, a-muuro- lena, a-kubebena, guaikol, elemol), turunan fenol (safrol, isoeugenol, metileugenol), hidrokarbon aromatik (2-metil-p-etiltoluena), atkana rantai pendek (n-dekana) dan hidrokarbon teroksigen (3,3-dimetilbutil oksirana) (Agusta, dkk, 2010).


KESIMPULAN

1. Dari hasil penelitian menunjukkan jarak tanam yang terbaik adalah 2 x 3 m, hal ini bertujuan agar diperoleh batang yang lurus.
2. Semakin tinggi tempat tumbuhnya, maka terjadi perubahan warna kulit batang kayu manis mendekati cokelat sampai kecokelatan.
3. Peningkatan dosis CMA dari 50 g/bibit menjadi 100 g/bibit pada tingkat naungan 75% memberikan peningkatan pertumbuhan sebesar 3,64 cm sedangkan pada tingkat naungan 100% hanya sebesar 1,40 cm.
4. Pada tingkat naungan 25% dan 50% peningkatan tinggi bibit akibat peningkatan dosis CMA berbeda tidak nyata.
5. Khasiat sirup kulit kayu manis dapat menyembuhkan rematik, asam urat, batuk/flu, melancarkan aliran darah, menghilangkan bau badan, menurunkan kadar kolesterol, menghilangkan masuk angin dan mencegah kanker


DAFTAR PUSTAKA

Agusta, A. , Y. Jamal, dan M. Harapini, 2010. Komponen Kimia Minyak Atsiri Kayu Manis Halmahera (Components of Essential Oil From Kayu Manis Halmahera). Hayati, April 1997, hlm 23-26. Vol 4, No. 1, http://e-jurnal.perpustakaan.ipb.ac.id [23 September 2010].

Anonimous, 2008. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Volume 14 No. 2, Agustus 2008. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id [19 September 2010].

Delvian, 2005. Pengaruh Cendawan Mikoriza Arbuskula Dan Naungan Terhadap Pertumbuhan Bibit Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii Bl.) (The Effect of Vesicular Arbuscular Mycorrhizal and Shade yo Growth of Cinnamon (Cinnamomum Burmanii BL.). Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Pertanian Agrisol. Vol. 4 No. 1 Juni 2005, http://prepository.usu.ac.id [19 September 2010].

Nainggolan, M., 2008. Isolasi Sinamaldehida Dari Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanii). Tesis. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Ma’mun dan S. Suhirman, 2010. Karakteristik Minyak Atsiri Potensial. http://balittro.litbang.deptan.go.id [23 September 2010].

Kamis, 17 Juni 2010

BUDIDAYA PISANG

PENDAHULUAN



Latar Belakang

Pisang telah ada sejak manusia ada. Memang, saat itu pisang masih merupakan tanaman liar karena awal kebudayaan manusia adalah sebagai pengumpul. Mereka hanya mengumpulkan makanan dari tumbuhan yang ada di sekitar mereka tanpa menanamnya.
Pada masyarakat Asia Tenggara, diduga pisang telah lama dimanfaatkan. Masyarakat di daerah itu, saat berkebudayaan pengumpul (food gathering), telah menggunakan tunas dan pelepah pisang sebagai bagian dari sayur. Bagian-bagian lain dari tanaman pisang pun telah dimanfaatkan seperti saat ini. Pada saat kebudayaan pertanian menetap dimulai, pisang termasuk tanaman pertama yang dipelihara.
Beberapa bukti sejarah baik tertulis maupun berupa relief di tempat-tempat yang dianggap penting menunjukkan bahwa tanaman pisang telah lama dibudidayakan. Tulisan pertama tentang pemeliharaan pisang berasal dari India. Disebutkn bahwa pemeliharaan itu dilakukan di Epics ; Pali Boeddhist, 500-600 SM. Disebutkaan pula bahwa ”buah sebesar taring” itu memang disukai binatang-binatangbertaring atau bertaduk.
Di Cina, awal kebudayaan pisang dimulai dan terpusat di Yangtse dan Sungai Kuning. Pada zaman batu-batuan kuno dari tanah Yunani dikatakan bahwa pisang termasuk flora dari tanah India sekitar 300 tahuin SM. Sumber lain menyebutkan bahwa sebelum perhubungan benua Eropa dengan benua Asia ditemukan, bangsa portugis telah mengenal pisang dari Teluk Guines di Afrika.
Ahli sejarah dan botani mengambil kesimpulan, bahwa asal mula tanaman pisang adalah Asia Tenggara. Oleh para penyebar agama Islam, Pisang disebarkan ke sekitar Laut Tengah. Dari Afrika Barat menyebar ke Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Asia Tenggara, termasuk Indonesia disebut sebagai sentra asal tanaman pisang. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia meliputi daerah tropik dan subtropik. Dimulai dari Asia Tenggara ke Timur melalui Lautan Teduh sampai ke Hawai. Selain itu juga ke barat melalui Samudera Atlantik,Kepulauan Kanari, sampai ke Benua Amerika. Oleh karenanya, tanaman pisang kini telah menjadi tanaman dunia karena tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui Teknik Budidaya Tanaman Pisang (Musa paradisiaca).

Kegunaan Penulisan

- Sebagai tugas pada mata kuliah Agronomi Tanaman Buah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.



TINJAUAN PUSTAKA


Botani Tanaman

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Liliopsida
Genus : Musa
Spesies : Musa sp.
Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada di bagian bawah tanah. Akar ini tumbuh menuju bawah sampai kedalaman 75-150 cm. sedang akar yang berada d bagian saming umbi batang ke sampan atau mendatar. Dalam perkembangannnya akar samping bisa mencapai 4-5 m (Satuhu dan Ahmad, 2000).
Batang pisang sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang. Di bagian atas umbi batang terdapat titik tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Sedang yang berdiri tegak di atas tanah yang biasanya dianggap batang itu adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun panjang yang saling melangkup dan menutupi dengan kuat dan kompak sehingga bisa berdiri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 m tergantung jenisnya (Satuhu dan Ahmad, 2000).
Daun pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang. Pada bagian bawahnya berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30-40 cm. Daun pisang mudah sekali robek atau terkoyak oleh hembusan angin yang keras karena tidak mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun (Satuhu dan Ahmad, 2000).
Bunganya berkelamin satu, berumah satu dalam tandan. Daun penumpu bunga berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung berwarna merah tua, belilin, dan mudah rontok dengan panjang 10-25 cm. Bunga tersusun dalam dua baris melintang. Bunga betina berada di bawah bunga jantan (jika ada). Lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi, panjangnya 6-7 cm. benang sari 5 buah pada bunga betina tidak sempurna, bakal buah peregi, sedang pada bunga jantan tidak ada (Satuhu dan Ahmad, 2000).
Sesudah bunga keluar, akan terbentuk sisir pertama, kemudian memanjang lagi dan terbentk sisir kedua, ketiga, dan seterusnya. Jantungnya perlu dipotong sebab sudah tidak ba menghasilkan sisir lagi (Satuhu dan Ahmad, 2000).

Iklim
Pisang termasuk tanaman yang gampang tumbuh. Tanaman ini dapat tumbuh di sembarang tempat. Namun, agar produktivitas tanaman optimal, sebaiknya pisang ditanam di dataran rendah. Ketinggian tempat haruslah di bawah 1.000 meter di atas permukaan laut.
Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan. Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.

Tanah
Jenis tanah yang disukai tanaman pisang adalah tanah liat yang mengandung kapur atau tanah alluvial dengan pH antara 4,5-7,5. Karenanya, tanaman pisang yang tumbuh di tanah berkapur sangat baik, seperti d Pulau Madura yang banyak memiliki bukit- bukit kapur. Di daerah beriklim kering antara 4-5 bulan pun pisang masih tumbuh subur asalkan air tanah tidah lebih dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Sementara kedalaman air tanah yang sesuai untuk pisang yang ditanam di iklim biasa adalah 50-200cm di bawah permukaan tanah (Satuhu dan Ahmad, 2000).
Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan. Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50-200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 – 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.
Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl.


MANFAAT PISANG


Bunga

Bunga pisang disebut juga jantung pisang karena bentuknya seperti jantung. Biasanya dimanfaatkan untuk dibuat sayur, karena kandungan protein, vitamin, lemak, dan karbohidratnya tinggi. Selain dibuat sayur, bunga pisang ini dapat pula dibuat manisan, acar, maupun lalapan.

Daun

Daun pisang banyak dimanfaatkan untuk membungkus. Daun-daun yang sudah tua dan robek-robek bisa digunakan untuk pakan ternak seperti, kambing, sapi atau kerbau. bila jumlah daun seperti itu berlebihan bisa pula dibuat kompos.

 Batang

Batang pisang banyak dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya, untuk membuat lubang pada banguanan, alas untuk memandikan mayat, untuk menutup saluran air bi9la ingin mengalirkan air atau membagi air, untuk tancapan wayang, untuk membungkus bibit-bibitan, untuk tali industripengolahan tembakau (dengan dikeringkan terlebih dahulu), dan baik pula dibuat kompos. Selain itu, air dari batang pisang dapat dimanfaatkan untuk penawar racun dan untuk pengobatan tradisional

Buah

Buah pisang banyak digunakan sebagai makanan seperti tepung, anggur, sale, sari buah, pisang goreng, pisang rebus, keripik pisang, dan sebagainya.

Kulit Buah

Kulit buah pisang digunakan sebagai bahan pakan ternak.

Bonggol

Pengertian bonggol pisang ini adalah batang tanaman pisang yang berupa umbi batang (batang aslinya). Bonggol batang pisang muda dapat dimafaatkan untuk sayur.



BUDIDAYA PISANG


Pembibitan

Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).
Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan didalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar.
Penyiapan Bibit
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi perlakuan sebagai berikut:
a) Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
b) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi mengering. Buang daun-daun yang lebar.
c) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
d) Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.
e) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.
Pengolahan Media Tanam

Pembukaan Lahan

Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan sosial. Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat, pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi, pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.
Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.

Teknik Penanaman

Penentuan Pola Tanaman
Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau tanaman pangan semusim. Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi, pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen dengan kelapa.
Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
Cara Penanaman
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.

Pemeliharaan Tanaman

Penjarangan
Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang. Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah 5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.
Penyiangan
Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak. Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.
Perempalan
Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.
Pemupukan
Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur sebagai sumber kalsium. Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah. Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalamsetahun).
Pengairan dan Penyiraman
Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air yang berada di antara barisan tanaman pisang.
Pemberian Mulsa
Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah. Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma, tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh dipasang terus menerus.
Pemeliharaan Buah
Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.



Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama
1) Ulat daun (Erienota thrax.)
Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun menggulung seperti selubungdan sobek hingga tulang daun. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.
2) Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian : sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan.
3) Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis)
Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.
4) Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.

Penyakit
1) Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah. Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
2) Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
3) Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian : dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB).
4) Layu
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman layu dan mati. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
5) Daun pucuk
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian yang diserang adalah daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok. Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
Gulma
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan: 1) Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon. 2) Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan, tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya Geophila repens.
2) Menutup tanah dengan plastik polietilen



CARA PERBANYAKAN TANAMAN PISANG DENGAN SISTEM KULTUR JARINGAN


Perbanyakan benih pisang dapat dilakukan secara konvensional (pemisahan dari anakan dari induknya, pembelahan bonggol) dan kultur jaringan. Perbanyakan benih dengan anakan paling banyak digunakan oleh petani karena mudah dilaksanakan, namunperolehan benih sedikit dan tidak seragam sehingga kurang efisien dalam skala usaha yang luas.

Perbanyakan benih melalui kultur jaringan memerlukan keahlian dan ketelitian yang tinggi karena mengunakan sarana dan bahan yang steril, sehingga memerlukan modal yang cukup banyak.
Kedua cara tersebut diatas dapat dipilih disesuaikandengan kondisi biaya, tenaga dan waktu yang diperlukan. Kedua cara perbanyakan tersebut masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut :

Cara perbanyakan Keuntungan Kerugian
Anakan (konvensional) - Biaya murah - Perolehan bibit per pohon sedikit
- Memerlukan waktu yang cukup lama
Kultur jaringan - Dapat memproduksi dalam jumlah yang banyak
- Kecil kemungkinan terinfeksi penyakit
- Lebih cepat berbuah - Biaya mahal

Benih Rebung
Bentuk benih berupa tunas yang belum berdaun, tinggi antara 20-40 cm.
Cara ini dilakukan dengan melakukan pembongkaran karena tunas masih kecil dan berada didekat permukaan tanah.
Benih Anakan Mudah
Berupa tunas yang sudah keluar daun, tetapi daunnya masih menggulung sehingga menyerupai pedang. Tingginya antara 41-100 cm.
Benih anakan sedang
Berupa tunas yang sudah berdaun mekar sehelai. Tingginya antara 101-150 cm.
Benih Anakan Dewasa
Anakan yang telah berdaun lebih dari dua helai,tingginya antara 151-175 cm. Cara perbanyakan ini sulit didapatkan dalam jumlah banyak secara serempak dan memerlukan waktu yang relatif lama.
Benih dari belahan bonggol
Berupa bahan dari persemaian belahan bonggol yang pohonnya telah dipungut hasilnya.
Keuntungan dari cara perbanyakan dengan belahan bonggol sebagai berikut:
- memperoleh keuntungan dalam jumlah banyak dan keuntungan seragam
- Mempermudah pengangkutan
- Tahan lama dalam penyimpanan
- Memudahkan perlakuan benih untuk pencegahan serangan OPT.

Tahapan Pembuatan Benih
Tunas Anakan:
- Tentukan pohon induk yang unggul dan dari populasi yang benar-benar bebas dari serangan penyakit
- Pilih anakan segar dan sehat, kemudian bongkar dengan menggunakan cangkul atau linggis
- Kumpulkan benih pada tempat yang teduh, bersihkan akar beserta tanahnya,kurangi daunnya, seleksi menurut besar dan tingginya benih untuk mendapatkan benih yang seragam.
- Celupkan benih kedalam larutan formalin 5% selama 20 menit atau ke dalam air panas 550 C selama 30 menit.
- Angkat dan kering anginkan benih ditemapat teduh
- Benih dapat ditanam langsung (anakan dewasa) atau ditanam dalam polybag ( tunas anakan/rebung).
Benih belahan bonggol
- Tentukan pohon induk yang unggl dan dari populasi yang benar-benar bebas dari serangan penyakit
- Bongkar pohon/bonggol dengan alat cangkul atau linggis
- Bersihkan bonggol dari tanah dan akar-akar ya ng masih menempel secara hati-hati agar mata tunas tidak rusak
- Potong batang semu dan sisakan 10-12,5 cm dan diatas pangkal bonggol
- Periksa warna bonggol tersebut arah membujur sehingga menjadi beberapa belahan bonggol dengan ukuran 10x10x10 cm. tiap belahan bonggol memiliki satu mata tunas
- Masukkan belahan bonggol kedalam air panas 550 C selama 60 menit dana masukkan kedalam laruta ZPT IBA 20 ppm. Selama 60 menit. Tujuan merendam kedalam air panas adalah untuk menghilangkan hama penyakit dan ZPT untuk merangsang pertumbuhan tunas
- Angkat dan kering anginkan benih ti tempat yang teduh dengvan menggunakan alas plastik atau tempat dari bambu
- Selanjutnya benih dapat ditanam di persemaian atau ditanam dalam polybag sebelum ditanam dilapangan. Benih asal belahan bonggol biasanya setelah berumur 3 bulan setelah keluar daun 2-3 helai.



PANEN DAN PASCA PANEN


PANEN
Mutu pisang yang baik sangat ditentukan oleh tingkat ketuaan buah dan penampakannya. Tingkat ketuaan buah diukur berdasarkan umurnya, sedang penampakan yang baik diperoleh dari penanganan pasca panen yang baik.
Secara fisik sebetulnya mudah dilihat karena tanda-tanda ketuaan mudah diamati. Tanda-tanda buah pisang sudah tua diantaranya sebagai berikut:
1. Buah tampak berisi, bagian linger (tepi) buah sudah tidak ada lagi.
2. Warna buah hijau kekuningan. Untuk buah pisang dengan tingkat kematangan penuh, maka pada tandannya aka nada buah yang sudah masak (2-3 buah)
3. Tangkai di putik telah gugur
1. Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.
2. Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah. Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.
3. Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.
4. Perkiraan Produksi
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.


PASCA PANEN

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.
Pisang yang masih berupa tandan ini, sesampai di penampung akan diperam sebelum dipasarkan. Ada dua perlakuan sebelum pisang diperam. Pertama dilakukan penyisiran, kedua tetap dibiarkan utuh berupa tandan. Proses pemeramannya dengan asap, karbit atau gas etilen. Masing-masing punya kelebihan sendiri-sendiri. Penyisiran sebelum pemeraman memiliki keuntungan karena transportasinya lebih murah. Bobot tangkai tandan pisang bisa sampai 20% dari total bobot tandan. Kalau truk dari Lampung yang masuk Jakarta mengangkut 7 ton pisang tandanan, maka yang 1,4 ton adalah tangkai tandan.
Kalau penyisiran dilakukan di kebun, maka tangkai tandan pisang itu bisa dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik. Di lain pihak ada penghematan ongkos angkut. Dengan biaya angkut Rp 100,- per kg. maka dari tiap rit dengan bobot 7 ton, ada penghematan biaya Rp 140.000,- Kalau dalam keadaan normal tiap harinya ada sekitar 100 truk pisang dari Lampung ke Jakarta, maka penghematan yang bisa didapat mencapai Rp 14.000.000,- per hari atau Rp 420.000.000,- per bulan. Belum lagi penghematan yang bisa diperoleh dari upah menyisir yang lebih murah di Lampung daripada di Jakarta. Pasca panen pisang modern maupun tradisional, memang sama-sama menggunakan pola penyisiran. Dalam pasca panen modern, pisang harus segera disisir begitu dipanen. Sisiran pisang dimasukkan ke dalam bak berisi air yang mengalir untuk menghilangkan getahnya. Selanjutnya sisiran digrade, disortir, dikeringkan lalu dikemas plastik vacum dan dimasukkan ke dalam kardus. Pisang mentah yang telah dikemas ini, kemudian dimasukkan ke dalam cold storage dan dikirim dengan kapal laut ke negara importir. Dengan kemasan vacum dan suhu 14° C, pisang mentah ini bisa bertahan tetap segar sampai jangka waktu satu bulan.
Pemeraman
Buah pisang tergolong buah-buahan yang klimaterik.Artinya buah yang kurang tua saat panen akan menjadi matang selama penyimpanan. Hanya saja, mutunya kurang baik, rasanya kurang enak, dan aromanya kurang kuat. Buah yang cukup tingkat ketuaannya akan menjadi matang dalam4-5 hari setelah panen tanpa perlakuan pemeraman. Namun, kematangan tidak seragam dan warnanya kurang menarik.
Permeraman sering dilakukan pada pisang. Tujuan pemeraman ialah untuk mempercepat kematangan buah dan menyeragamkan kematangan buah. Banyak cara yang dilakukan untuk pemeraman pisang diantaranya ialah pemeraman dengan pemeraman dengan karbit, asap, ethrel, daun gamal, ethylene, dan sebagainya.

Pemeraman dengan gas Etilen
Di negara konsumen, pisang ini tetap disimpan dalam cold storage. Pemasakan (pemeraman) dilakukan secara bertahap sesuai daya serap pasar. Untuk memasakkannya, kardus dan plastik kemasan dibuka, lalu ditaruh dalam rak pemeraman. Rak ini berada dalam ruang bersuhu antara 20 sd. 22° C. Ke dalam ruang pemeraman ini dialirkan gas etilen. Dalam jangka waktu 24 jam, seluruh pisang akan masak dengan ditandai warna kulitnya yang kuning cerah. Biasanya, yang diperlakukan demikian hanyalah pisang cavendish serta golden fingger (lady finger). Namun perlakuan demikian sebenarnya bisa diterapkan untuk semua jenis pisang.
Pemeraman tradisional (Asap)
Secara tradisional (untuk dikonsumsi sendiri), masyarakat memeram pisang dengan terlebih dahulu disisir, dijemur lalu dimasukkan ke dalam lubang dengan lapisan daun lamtoro atau albisia yang telah dilayukan. Kemudian lubang ditutup tanah. Dalam jangka waktu tiga hari seluruh pisang yang diperam akan masak. Namun cara demikian tidak mungkin dilakukan secara massal. Para pemeram pisang di kawasan Ciawi, Cibedug dan Cijeruk, kab. Bogor, membuat lubang permanen (ruang bawah tanah) yang dukuatkan dengan batako. Bagian atas lubang dicor dengan semen. Ruang bawah tanah ini hanya diberi lubang ukuran 60 X 60 cm. yang bisa dibuka dan ditutup.
Melalui lubang inilah tandan pisang utuh dimasukkan dan ditata. Setelah ruang bawah tanah itu penuh tandan pisang, pintu lubang ditutup. Melalui lubang kecil yang diberi pipa besi dimasukkan asap. Caranya, sabut atau daun kelapa kering ditaruh pada ujung lubang lalu dibakar dan dikipas-kipas. Asap akan masuk ke dalam ruang melalui pipa besi tadi. Setelah ruangan penuh asap, sabut yang terbakar diambil dan lubang kecil itu juga ditutup. Pemeraman demikian hanya berlangsung selama 24 jam. Setelah itu pisang diambil dan disisir untuk dipasarkan.
Agar dicapai tingkat kemasakan penuh (pisang siap untuk dikonsumsi), pemeraman dalam ruang berasap juga harus dilakukan selama 3 X 24 jam. Namun akibatnya pisang tidak bisa tahan lama didisplai di pasar swalayan atau kios buah di kawasan Puncak. Dengan lama pemeraman hanya 24 jam, maka warna pisang masih hijau kekuningan. Daging buahnya sendiri meskipun sudah mulai empuk, namun belum siap untuk dikonsumsi. Hari itu pisang disisir, besuknya didistribusikan dan hari berikutnya ketika didisplai, pisang sudah siap untuk dikonsumsi. Pisang dengan tingkat kemasakan demikian akan tahan didisplai sampai sekitar satu minggu.
Pemeraman dalam ruang berasap ini berkembang di sekitar Ciawi, Cibedug, Cijeruk dan sekitarnya, karena suhu harian rata-rata di kawasan ini memang cocok untuk memeram pisang yakni 22° C.
Pengeraman dengan karbit
Selain dengan asap, ada juga pemeram yang menggunakan gas karbit (yang biasa digunakan untuk mengelas). Kelebihan gas karbit adalah, mudah pengoperasiannya, masaknya pisang lebih merata, warna kuningnya lebih cerah. Meskipun pisang ambon kuning masih sangat muda, apabila diperam dengan gas karbit akan masak dengan warna kulit yang kuning cerah merata.
Kelemahan pemeraman dengan karbit adalah, daya tahan pisang lebih pendek dari yang diperam dengan asap. Selain itu, rasa pisang juga menjadi lebih hambar jika dibanding dengan yang diperam menggunakan asap. Pembeli yang jeli, akan dengan mudah membedakan, mana pisang yang diperam dengan karbit, dan mana yang dengan asap. Pembeli awam, biasanya akan memilih pisang yang diperam dengan karbit, karena penampilannya yang lebih menarik. Sementara konsumen yang sudah berpengalaman akan lebih memilih pisang hasil pemeraman dengan asap. Meskipun warna kulitnya agak kurang cerah, namun rasanya lebih manis daripada yang diperam dengan gas karbit

PENGOLAHAN PISANG

Proses pengolahan diperlukan karena buah-buahan merupakan komoditas pertanian yang sangat mudah mengalami kerusakan sehingga umur simpannya sangat singkat. Selain itu ada sebagian buah yang bersifat musiman atau dengan kata lain tidak berbuah sepanjang masa. Hal ini menyebabkan pada masa musim panen tiba produksi buah menjadi sangat melimpah, sedangkan pada masa yang lain buah-buahan ini sulit ditemukan. Kondisitersebut di atas menyebabkan rendahnya nilai ekonomis beberapa komoditas buah. Bahkan pada saat musim panen tiba banyak buah yang tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali.

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia. Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia. Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.
Buah pisang sangat prospektif sebagai bahan baku industri. Hal tersebut karena kemudahan dalam mendapatkan bahan baku, serta berbagai produk dapat diolah dari buah pisang sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Pengolahan berbagai produk olahan dapat meningkatkan penganekaragam pangan serta memberikan alternatif dalam memasarkan produk (buah segar atau produk olahan). Bentuk-bentuk olahan buah pisang antara lain.

a. Tepung Pisang
Pemanfaatan tepung pisang cukup luas dalam industri pangan, sebagai bahan makanan (bubur) balita juga sebagai bahan baku produk roti (bakery). Sebagai bahan baku industri, ketersediaan buah pisang dapat dipenuhi karena tanaman pisang mudah dibudidayakan, dapat tumbuh diberbagai kondisi lahan dan panen sepanjang tahun (tidak tergantung musim). Buah pisang yang digunakan sebagai bahan baku tepung pisang adalah buah pisang tua tetapi belum matang. Pada kondisi tersebut kadar pati buah mencapai maksimum sehingga sesuai untuk pembuatan tepung. Tahap pengolahan tepung pisang adalah pengukusan/ perebusan buah pisang, pengupasan, pengirisan dan pengeringan. Selanjutnya gaplek pisang dilakukan penepungan/penggilingan dan pengayakan. Komposisi gizi tepung pisang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi kimia tepung dan rendemen gaplek pisang.

Komponen Tepung Pisang
Kadar air (%) 5,85-11,6
Kadar pati (%) 64,69-67,31
Kadar total gula (%) 18,24-20,04
Kadar serat kasar (%) 1,96-2,51
Kadar protein 3,36-4,12
Kadar vitamin C 0,0325-0,0326
Kadar total asam 0,36-0,71
Rendemen gaplek pisang (%) 15,4-18,8

b. Sale Pisang
Sale pisang merupakan jenis makanan yang dibuat dari buah pisang matang yang diawetkan dengan cara pengeringan. Sale ini mempunyai rasa yang khas dengan daya simpan cukup lama. Mutu sale sangat dipengaruhi oleh warna, rasa, aroma dan daya simpannya. Mutu sale tergantung jenis pisang, tidak semua jenis pisang enak diolah menjadi sale. Pembuatan sale pada prinsipnya melalui tahapan pengupasan, permukaan buah dikerok dan dikeringkan.

c. Sari Buah Pisang
Varietas pisang yang sesuai untuk pembuatan sari buah pisang adalah pisang raja. Buah pisang harus matang penuh dapat menghasilkan warna yang menarik, aromanya kuat dan rasanya enak. Buah yang kurang matang menghasilkan sari buah yang rasanya sepet (kurang enak). Prinsip pembuatan sari buah pisang adalah pengukusan selama 7-10 menit, buah dihancurkan (diblender) dengan penambahan air 1 : 3. Kemudian disaring dan ditambah gula sampai 15% (TSS) dan asam sitrat 2,5-3 g/lt sari buahnya. Sari buah dimasukkan dalam botol dan dipasteurisasi selama 30 menit.

d. Keripik Pisang
Buah pisang yang dipergunakan untuk keripik adalah buah masih mentah tetapi tua dan bisa juga pisang matang namun digoreng dengan penggoreng vakum. Pembuatan keripik adalah dikupas dan dipotong tipis-tipis. Irisan buah pisang direndam dalam larutan Na metabisulfit 0,05%, asam sitrat 0,1% dan garam 1% selama 30 menit. Pisang ditiriskan kemudian digoreng dengan minyak. Setelah matang dikemas dalam kaleng atau kantong plastik dan ditutup rapat. Jenis pisang yang enak diolah keripik adalah pisang kepok, pisang nangka, pisang siem dan pisang tanduk.

e. Selai Pisang
Bahan baku selai adalah buah pisang matang dan beraroma kuat serta tidak busuk. Pisang dikukus selama selama 10 menit, dikupas dan dihancurkan (diblender) dengan ditambah air seperlima bagian. Gula ditambahkan sebanyak 750 g per kg bahan dan asam sitrat 3 g per kg bahan. Campuran ini dimasak sampai kental.

f. Saos Tomat
Saos tomat dapat diolah dari bubur buah pisang dan ditambah bumbu-bumbu. Untuk bahan saos dapat dipilih buah pisang yang nilai ekonomi segarnya rendah (murah), namun setelah diolah menjadi saos justru memiliki nilai ekonomi tinggi. Buah pisangdiperlukan cukup matang. Prinsip pembuatan saos adalah buah pisang pengupasan, pemotongan, penghancuran, pemasakan bubur buah dan ditambah gula dan garam. Sementara itu bumbu saos dihancurkan hingga halus dan dibungkus dengan kain saring, kemudian dimasukkan dalam bubur pisang. Selama pemasakan tambahkan zat pewarna merah, cuka 25% dan asam sitrat.

g. Buah Pisang Dalam Sirup
Buah pisang dalam sirup diolah dari buah pisang yang matang dan tidak busuk. Buah dikupas dan direndam dalam larutan asam sitrat 0,5% sambil dikerok bagian luarnya. Buah ditiriskan dan dipotong-potong menurut selera. Kemudian dikukus selama 5 menit dan diatur dalam wadah. Selanjutnya, buah dituangi sirup 30% dalam keadaan panas. Wadah ditutup dan dipasteurisasi selama 30 menit.

h. Dodol Pisang
Dodol pisang dapat diolah dari buah pisang yang kurang baik mutu segarnya, sehingga nilai tambahnya dapat ditingkatkan setelah diolah menjadi dodol. Buah pisang matang dikupas (4 kg), diris tipis, direndam dalam larutan Na metabisulfit atau kapur sirih1 g per 1 lt air selama 5-10 menit. Kemudian ditiriskan, dihancurkan, tambahkan tepung terigu 400 g. Campuran tersebut masukkan dalam wajan, dimasak sambil diaduk, tambah gula pasir 1 kg, benzoat 1 sdm. Setelah mencapai kekentalan tertentu masukkan dalam oyang, dikeringkan, dipotong dan dibungkus plastik.

DAFTAR PUSTAKA


Http://endrah.blogspot.com/2010/02/teknologi-pengolahan-pisang.html, diakses tanggal 16 Mei 2010.

Http://insidewinme.blogspot.com/2007/11/pedoman-budidaya-pisang.html. Budidaya pisang. diakses tanggal 12 mei 2010.

Satuhu, S dan Ahmad S. 2000. Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar Pisang. Jakarta. Penebar Swadaya.