BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �
Tampilkan postingan dengan label air susu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air susu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2009

air susu

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Susu adalah nutris yang infansi yang dimaksud dengan infansi adalah biasanya diminum oleh manusia atau karena susu mengandung formula yang baik untuk kesehatan. Misalnya adalah susu kerbau, atau sapi yang mengandung komposisi yang baik. Susu mengandung partikel laktosa dalam air dan dispersi protein dalam air. Protein lebih ebsar daripada partikel-partikel larutan yang ada kemudian mereka mengatur daerah batasan (Williams and Caliendo, 1988).


Susunan asam-asam lemak air susu dipengaruhi sumber-sumber lemak dalam ransum. Contohnya penambahan tallow menaikkan kadar olkat. Penambahan laid dan asam-asam lemak lainnya. Dengan demikian pula dapat diharapkan bahwa perubahan sumber lemak dalam ransum indus babi yang sedang menyusui dapat memperbaik keadaan umum anak-anak babi yang disusukan. Kolostrum lebih banyak mengandung oleat dan linoleat dan sedikit mengandung miristik palmitin, palmitoliek dan air susu biasa (Parakkasi, 1990).
Asi adalah zat yang mengandung macam-macam enzim, pada ASI berfungsi membantu penemaan bagi bayi, dimana fungsi pankreas belum sempurna. ASI adalah zat yang merupakan buffer yang meningkatkan PH. ASI mengandung zat-zat gizi dalam pencegahan maupun penatalaksanaan diave. ASI merupakan sumber kalori dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (Suetjiningsih, 1997).

Kasein dalam susu segar tidak membuka dengan pemanasan, tetapi jika susu menjadi sedikit asam dan digunakan temperatur tinggi. Kesein akan menjadi menggumpal dan menyebabkan susu membeku. Hal ini terjadi ketika susu masam atau ketika posisi asam bertambah (Anonimaus, 1999).
Kolustrum merupakan makanan yang kepekaannya tinggi dan volumenya sedikit mengandung lebih sedikit faktor lemak, vitamin yang ada larut dalam air, dibandingkan dengan ASI yang matang, tetapi kaya protein kolostrum akan berubah menjadi ASI yang matang antara 3 sampai 14 hari. ASI yang matang mempunyai beratus-ratus komponen yang dikenali (Buediharjo, 1988).


Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui sifat-sifat dari lemak dan protein pada air susu secara kulitatif.




Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pratikal test di laboratorium Biokimia, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan


















TINJAUAN PUSTAKA
Susu biasanya berarti cairan yang bergizi yang dihasilkan oleh kelenjar susu dari mamalia betina. Susu adalah sumber energi atau gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat menerima makanan padat, susu binatang (biasanya sapi) juga diolah menjadi berbagai produk seperti mentega, yagua, es krim, keju, susu kental manis, susu bubuk untuk konsumsi semua orang di dunia membutuhkan susu untuk menopang kehidupannya. Dewasa ini susu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk umur produktif susu membantu pertumbuhan mereka. Sedangkan untuk umur lanjut susu membantu menopang tulang agar tidak keropos, susu mengandung vitamain dan protein (http://www.wikipedia,com,2008).
Susu adalah minuman bergizi yang mengandung protein 3,2% dan kaya mineral kalsium (143 mg 1100 gr susu) dengan konsumsi relatif rendah, susu selama ini juga dikenal dengan bahan makanan yang diperkirakan mempunyai kemampuan untuk meningkat polutan. Di lingkungan udara pulutan dapat kita hindari jika kita meminum susu (http:II kolom prakific.net.od,2008).

Susu sapi mempunyai komposisi molekul-molekul yang mengandung lemak 3,8%, protein 3,2% laktosa 4,8% dan mineral 0,7% (Williams and Baum, 1996).

Susu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini karena komposisi nutrisinya sangat ideal untuk pertumbuhan mikroba. Apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Mikroba mulai terdapat pada saluran putting susu untuk mengurangi jumlah mikroba awal pada susu, maka padas pemerahan susu sebanyak 3-4 pancaran pertama harus dibuang (Nurwantoro dan Djajarijah, 1997).
Susu kental manis (SKM) adalah susu sapi yang diawetkan bukan oleh cara pemanasan tetapi pasteorisasi atau dengan pengeringan pH pada pembuatan susu bubuk. Susu kental manis merupakan salah satu cara pengawetan yang paling menguntungkan, karena gula yang ditambahkan baik yang berkualitas rendah maupun berkualitas tinggi (Husain dan Anwar, 2001)










BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
BAHAN
- Susu sapi segar
- Susu kedelai
- Susu dancow bubuk putih
- Susu dancow bubuk coklat
- Susu kental manis putih
- Susu kental manis coklat
- ASI
- Susu sapi segar + formalin
- Kental manis coklat
- Kental manis putih

Reagensia
- Aquadest
- Dretil eter
- Cuson o,1 N
- H2SO4
- PbCUH3 COOH o,1 N
- Milonase
- HNO3
- NaOH 166
- KMNO4 o,in

Alat
- Tabung reaksi
- Gelas ukur
- Pipet skala
- Kertas saring
- Beaker glass
- Corong
- Hot plate
- Pipet tetes
- Serbet
- Sarung tangan
- Masker
- Flanel

Prosedur Percobaan
a. Adanya lemak
- Diambil tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu
- Tiap tabung diisi 1 cc eter kemudian dipanaskan, dikocok dan diamati


b. Adanya protein
- Diambil rekasi masing-masing diisi dengan contoh susu 5 ml
- Dimasukkan pb (CHCooH)2 o,in 5 cc tetes demi tets
- Gumpalan disaring dengan kertas saring dan diamati

c. Reaski Biuret
- Diambil tabung reaksi masing-masing diisi dengan contoh susu
- Dimasukkan 1cc NaOH 0,1 N dan Cuso4 0,1 N 1 cc dan diaduk
- Dilakukan observasi visual

d. Reaksi milen

- Diambil tabung reaksi masing-masing diisi dengan contoh susu
- Dimasukkan milonase 2 cc
- Dipanaskan selama 10 menit
- Ditambahkan pb (CH3COOH)2 1 cc
- Dilakukan observasi visual

e. Reaksi Xantho protein
- Diambil tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu
- Dimasukkan milonase 2 cc
- Dipanaskan selama 10 menit
- Ditambahkan pb (CH3COOH)2 1 cc
- Dilakukan observasi visual

f. Uji Formalin
- Diambil tabung reaksi masing-masing diisi dengan contoh susu 9ml
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Diletakkan dengan 1 KMNO4 0,1 n 5 tetes
- Dikocok
- Diambil apakah warna KMNO4 bertahan jika warna KMNO4 luruh selama 30 menit berarti ada formalin
- Diambil perbedaannya











HASIL DAN REAKSI

Hasil
No. Bahan Pereaksi V. Visual Keterangan
1. Adanya lemak
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu d. putih
- Air susu d. coklat
- Air susu K.M putih
- Air susu K.M coklat
- Air susu Indomilk Putih
- Air susu Indomilk coklat
- ASI 1 cc eter
Endapan
Endapan
Encer
Endapan
Encer
Encer
Encer
Encer
Encer




Dipanaskan
Dikocok dan
diamati

2 Adanya protein
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu D. putih
- Air susu D. coklat
- Air susu K. M putih
- Air susu K. M coklat
- Air susu I. putih
- Air susu I. coklat
- ASI



5 CC
Pb (Ch3COOH)
O1/N

Bening
Bening
Putih
Kuning
Bening
Kuning
Putih
Kuning
Kuning


Gumpalan disaring dengan kertas saring


3 Adanya Biuret
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu D. putih
- Air susu D. coklat
- Air susu K. M putih
- Air susu K. M coklat
- Air susu I. putih
- Air susu I. coklat
- ASI

1CC NaOH
Oil N dan Cu SO4
Oil N
1 CC
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan
Endapan




Dikocok
diamati
4 Reaksi Millen
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu D. putih
- Air susu D. coklat
- Air susu K. M putih
- Air susu K. M coklat
- Air susu I. putih
- Air susu I. coklat
ASI


Milonase
2cc +
Pb
(CH3(COOH)2
kc
Endapan putih
Endapan putih
Putih
Putih
Coklat
Putih
Coklat
Putih
coklat



Dipanaskan
10 menit

5 Reaksi Xanthoprotein
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu D. putih
- Air susu D. coklat
- Air susu K. M putih
- Air susu K. M coklat
- Air susu I. putih
- Air susu I. coklat
ASI

HNO3 3cc
+ NaOH
1cc
Gumpalan kuning
Gumpalan kuning
Gumpalan kuning
Gumpalan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning




Dipanaskan 10 menit
6 Uji formalin
- Air susu sapi
- Air susu kedelai
- Air susu D. putih
- Air susu D. coklat
- Air susu K. M putih
- Air susu K. M coklat
- Air susu I. putih
- Air susu I. coklat
ASI




KmnO4
oilN
5 tetes
Tidak ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin
Ada formalin




Dipanaskan 10 menit





REAKSI
a. Adanya lemak
H2C-O- C

HC-O- C + 3 CH2CH30H C2H5  Larut

H2C-O- C

b. Adanya protein

R-C-C-OH-Pb (CH3 Ccon)2  N - C - C - O - Pb


O - C - C - NH2 - CH3 - COOH

c. Reaksi Millen

NH2 – C – C – OH + Pb (CH3COOH)2 N – C – C – O – Pb


O – C – C –NH2



d. Raksi Biuvet

R – C – C + NaOH – R – C – COONa + CuSO4 

Cu (R-CH2-CaNa)2 + (NH)2 SO4

e. Reaksi Xanthoprotein




f. Reaksi Formalin
H – CHO O2 + K MnO4  HCCOG
Formalin N. Formalin
HCHO HCCOH
Formalin As. Ramiat







PEMBAHASAN

Dari hasil pencobaan yang kita lakukan terdapat gumpalan kuning pada saat air susu sapi direaksikan dengan HNO3 3 cc dan NaOH 1 cc dan dipanaskan selama ± 10 menit. Susu menggumpal karena diberikan asam seperti HNO3¬, sebab itu pada saat dipanaskan dengan temperatur sedikit tinggi susu yang masam, dapat membeku atau menggumpal. Hal ini sesuai dengan literatur anomous (1999) yang mengatakan jika susu menjadi sedikit masam dan digunakan temperatur tinggi, kasein akan menjadi menggumpal dan menyebabkan susu membeku. Hal ini terjadi ketika susu masam atau ketika posisi asam bertambah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi susu adalah jenis ternak yang diperoleh waktu pemeliharaan pemerah makanan ternak, penyakit keragaman akibat musim, umur sapi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nuswantoto dan Djajanijah (1997) yang mneyatakan bahwa apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkan juga dalam keadaan steril.
Pada percobaan xantroprotein susu sebagai susu kedelai kemtal manis putih menghasilkan endepan kuning. Hal ini menandakan adanya protein yang terkandung pada susu tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Soetjiningsih (1997) yang mengatakan bahwa susu adalah sumber protein dengan mutu yang tinggi.
KESIMPULAN

1. Pada uji lemak, indomilk coklat yang ditambahkan 1CC dietil eten menjadi encer
2. Pada uji adanya protein, susu kedelai yang ditambahkan Pb (CH3COOH)2 menghasilkan endapan putih
3. Pada uji biuret, dan cow coklat yang ditambahkan NaOH dan CuSO4 akan menghasilkan endapan coklat
4. Pada uji millen, susu kental manis putih yang ditambahkan milonase dan Pb (CH3COOH)2 akan menghasilkan endapan putih
5. Pada uji formalin, susu sapi segar yang ditambahkan KMNO4 membuktikan bahwa pada susu sapi segar tidak terdapa formalin.











DAFTAR PUSTAKA

Anonimous., 1999. Management Of Serve Malnutrion World Health Organization, Geneva.
Boediharjo, S D., 1988. Pemberian Makanan Untuk Bayi. Penebar Swadaya, Jakarta
http://www.info ibu.com., 2008. Air Susu Ibu - Diakses tanggal 23 November 2008, 1 page
http://www.kolom.pacific.net.id, 2008. Susu - Diakses tanggal 23 November 2008, 1 page
http://www.wikipedia.com., 2008. Susu - Diakses tanggal 23 November 2008, 1 page
http://www.wikipedia.com., 2008. Susu - Diakses tanggal 23 November 2008, 1 page
Husaini , K. Y dan M. H Anwar., 2001. Makanan Bayi Bergizi, Gadjah Mada University press, Yogjakarta
Nuswantoto dan Djajanijah., 1997. Mikrobiologi pangan-Hewan-Nabati. Penerbit Kanisius, Jakarta
Parakkasi, A., 1990. Ilmu Gizi dan Makanan ternak. Penerbit Angkasa Bandung
Soetjiningsih.,1997. ASI. Penerbit Buku kedokteran, Jakarta
Williams, F and J.D Baum., 1996. Human Milk Baniang Nestle Nitrition Vevey. New York
Williams, E.R and A.M Caliendo., 1998. Nitrition. Mc. Graw Hill Company, New York

air susu

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk bayi. ASI mempunyai komposisi yang unik, sempurna susunan biokimiawi untuk kebutuhan bayi dan melindungi bayi dari bahaya kekurangan gizi maupun penyakit infeksi. Tidak ada makanan lain sebaik ASI, karena itu berikanlah ASI kepada anak anda. ASI dapat mencukupi seluruh kebutuhan makanan tambahan selain ASI (Husayni, 2001).
ASI mengandung bermacam-macam enzim. Enzim pada ASI tersebut berfungsi membantu pencernaan bayi dimana fungsi pankreas masih belum sempurna sebagai pengangkut logam-logam (Fe, Mg, Zn, Sc) dan berfungsi sebagai anti infeksi. ASI merupakan buffer yang bagus yang dapat meningkatkan Ph sebagai 5,5-6,0 (Williams and Baum, 1984).
Setiap macam susu berbeda susunan zat-zat gizi yang dikandungnya. Komposisi air susu disesuaikan dengan macam makhluk dan kecepatan pertumbuhan anak-anaknya. Anak sapi lebih cepat tumbuh dari anak manusia, oleh karena itu protein yang ada di dalam air susu sapi lebih banyak tiga kali lipat daripada protein di dalam ASI (World Health Organization, 1999).
ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri. Kolostrum adalah cairan yang lengket kekuningan yang mengisi sel-sel alveolor selama trimester terakhir kehamilan dan disekresikan selama beberapa hari setelah melahirkan. Jumlah kolustrum yang disekresikan sangat bervariasi berkisar antara 10-100 ml/hari, dengan rata-rata sekitar 30 ml. Sekresi itu akan meningkat secara bertahap dan mencapai komposisi matang pada 30-40 jam setelah lahir (Akre, 1987).
Perbandingan komposisi ASI dan susu sapi juga susu buatan pengganti ASI juga tersedia secara luas. Beberapa dari ratusan komponen dalam ASI sudah dibuat daftarnya, tetapi tidak berhasil menjelaskan perbedaan-perbedaan antara jenis susu tersebut. Sebagai contoh, protin susu bovine (lembu), baik dari air mendidih maupun kasein, struktur dan kualitasnya berbeda dengan protein ASI manusia, dan bias menimbulkan respon antigen (World Health Organization, 1999).
Anak sapi dapat membuat vitamin C di dalam badannya, sehingga anak sapi tidak membutuhkan vitamin C yang berasal dari makanan. Manusia tidak dapat membuat vitamin C, karena itu vitamin merupakan zat yang essensial yang harus didapatkan dari makanan. ASI mengandung vitamin C dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dari susu sapi. Jadi, ASI adalah makanan yang paling tepat untuk bayi (Husayni, 2001).

Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui sifat-sifat lemak dan protein pada susu secara kualitatif.

Kegunaan Percobaan

- Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Biokimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Susu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini karena komposisi nutrisinya sangat ideal untuk peretumbuhan mikroba. Apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Sumber-sumber pencemaran mikroba dalam susu adalah saluran putting susu, lingkungan kandang (lantai kandang, debu, udara dan air), tubuh dan kotoran sapi, pakan, peralatan pemerahan, pekerja, pencemaran selama penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran (Nurwantoro dan Abbas, 1997).
ASI juga mengandung zat-zat yang penting dalam pencegahan maupun penatalaksanaan diare, yaitu:
1. Protein ASI lebih rendah dari protein sapi tetapi kualitasnya lebih baik daripada protein susu sapi. Susu merupakan sumber protein dengan mutu yang tinggi
2. Lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi. Disamping itu ASI merupakan sumber kalori dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K)
3. Karbohidrat pada ASI terutama adalah laktosal, dimana laktosa ASI lebih tinggi daripada susu sapi yang merupakan sumber kalori bagi bayi.
4. Vitamin terdapat pada ASI.
5. Mineral pada ASI.
(Soetjiningsih, 1997).
Susu adalah nutrisi terpenting selama proses pertumbuhan. Masyarakat sekarang ini selalu mengkonsumsi susu karena tersedia dengan formula-formula yang penting bagi tubuh. Reaksi susu sangat mudah dipengaruhi pada proses penyimpanan. Karena susu yang disimpan di bawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi susu akan pecah, lemaknya akan terpisah dan terjadi denaturasi (Williams and Caliendo, 1990).
Susunan asam-asam lemak air susu pun dipengaruhi oleh sumber-sumber lemak dalam ransum. Sebagai contoh penambahan lard menaikkan kadar oleat dan asam-asam lemak tidak jenuh lainnya. Penambahan minyak jagung menaikkan linoleat, penambahan minyak kelapa menaikkan asam laurik dan asam minstik (Parakkasi, 1990).
Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah stadium laktasi, ras, keadaan gizi, diet. Stadium laktasi terdiri dari tiga tingkatan, yaitu kolostrum, air susu masa transisi dan air susu masa mature. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mama, kolostrum ini berlangsung sekitar 3 sampai 4 hari setelah ASI pertama kali keluar (Supariasa, 2001).
Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan ptotein. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (termasuk vitamin E, A dan K) dan mineral-mineral. Juga sangat tinggi imunoglobin dan faktor-faktor pelindung lainnya sehingga ASI dapat dianggap alamiah sebagaimana juga makanan alamaiah (Sulaiman, 1995).


BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Bahan

• Susu sapi Segar
• Susu Kedelai
• Susu Dancow Putih
• Susu Dancow Coklat
• Susu Indomilk Putih
• Susu Indomilk Coklat
• Susu Kental Manis Putih
• Susu Kental Manis Coklat
• Air Susu Ibu (ASI)
• Susu Sapi Segar + Formalin

Regensia

• Eter
• H2O (Air)
• Pb(CH3COOH)2
• NaOH 0,1 N
• CuSO4 0,1 N
• Milonase
• KMnO4 0,1 N

Alat

• Tabung Reaksi
• Rak Tabung Reaksi
• Penjepit Tabung Reaksi
• Kaki Tiga
• Kawat Kasa
• Bunsen
• Beaker Glass
• Pipet Tetes
• Label Nama
• Korek Api
• Brush Tabung Reaksi
• Serbet
• Flanel

Prosedur Percobaan

A. Adanya Lemak
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Tiap tabung diisi dengan 1cc eter, kemudian dipanaskan, dikocok, dan diamati.
B. Adanya Protein
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 5ml.
- Dimasukkan Pb(CH3COOH)2 0,1N 5cc tetes demi tetes.
- Disaring gumpalan dengan kertas saring dan diamati.
C. Reaksi Biuret
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan 1cc NaOH 0,1N dan CuSO4 0,1N 1cc dan dikocok.
- Dilakukan observasi visual.
D. Reaksi Milon (Logam Berat)
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan milonase 2cc.
- Dipanaskan selama 10 menit.
- Ditambahkan Pb(CH3COOH)2 1cc.
- Dilakukan obsevasi visual.
E. Reaksi Xanthoprotein
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan HNO3 1cc dan NaOH 1cc.
- Dipanaskan selama 10 menit.
- Dilakukan observasi visual.
F. Uji Formalin
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 9 ml.
- Dimasukkan dalam tabung reaksi.
- Diteteskan dengan KMnO4 0,1N 5 tetes.
- Dikocok
- Diamati apaka warna KMnO4 bertahan. Jika warna KMnO4 luruh selama 30 menit atau lebih cepat berarti mengandung formalin.
- Diamati perbedaanya.


HASIL DAN REAKSI

Hasil

No Bahan Pereaksi Observasi visual Keterangan
1. Adanya Lemak
Susu Sapi 1 cc Eter Endapan Putih Dipanaskan, Dikocok, diamati
Susu Kedelai 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Dancow Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Dancow Coklat 1 cc Eter Endapan Coklat Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Indomilk Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Indomilk Coklat 1 cc Eter Endapan Coklat Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Kental Manis Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Kental Manis Coklat 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
ASI 1 cc Eter Endapan Putih Dipanaskan, Dikocok, Diamati
2. Adanya Protein
Susu Sapi 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Susu Kedelai 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Dancow Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Putih Disaring
Dancow Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Kuning Disaring
Indomilk Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Putih Disaring
Indomilk Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Kuning Disaring
Kental Manis Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Kental Manis Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
ASI 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
3. Reaksi Biuret
Susu Sapi 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Susu Kedelai 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Gumpalan Putih Dikocok
Dancow Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Dancow Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
Indomilk Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Indomilk Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
Kental Manis Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Kental Manis Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
ASI 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
4. Reaksi Millon
Susu Sapi 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Susu Kedelai 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Dancow Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Dancow Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Gumpalan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
Indomilk Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Gumpalan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Indomilk Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
Kental Manis Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Kental Manis Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
ASI 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
5. Reaksi Xanthoprotein
Susu Sapi 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Dipanaskan 10 menit
Susu Kedelai 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Dancow Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Dancow Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Indomilk Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Indomilk Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Kental Manis Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Kental Manis Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
ASI 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Coklat Gumpalan Kuning
6. Uji Formalin
Susu Sapi KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Susu Kedelai KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Dancow Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
Dancow Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Indomilk Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
Indomilk Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Kental Manis Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Kental Manis Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
ASI KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Susu Sapi Formalin KMnO4 0,1 N 5 tetes (+++)


PEMBAHASAN

Pada percobaan yang telah dilakukan, diketahui bahwa pada uji adanya protein terjadi penggumpalan pada susu kedelai, susu bubuk putih, susu bubuk coklat dan ASI yang menunjukan terjadinya denaturasi protein. Hal ini sesuai dengan literatur Williams and Caliendo (1990) yang menyatakan bahwa pada susu yang disimpan di bawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi, susu akan pecah, lemaknya akan terpisah atau terjadinya denaturasi protein.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa pada percobaan reaksi Xanthoprotein, ASI yang ditambahkan 1 cc HNO3 0,1 N dan 1 cc NaOH 0,1 N menghasilkan warna kuning pucat sedangkan pada susu sapi menghasilkan warna kuning pekat. Ini karena protein yang terkandung dalam susu ASI lebih rendah daripada susu sapi. Hal ini sesuai dengan literatur Soetjiningsih (1997) yang menyatakan bahwa protein ASI lebih rendah dari protein susu sapi, lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi, dan karbohidrat pada ASI terutama Laktosa, dimana laktosa pada ASI ini lebih tinggi dari pada susu sapi.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI pada Uji adanya Lemak terjadi Endapan putih ini dikarenakan pada ASI terdapat kolostrum yang mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, disbandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Hal ini sesuai dengan literatur Sulaiman (1995) yang menyatakan bahwa Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI merupakan cairan yang pertama kali keluar yang menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi. Hal ini sesuai dengan literatur Akre (1987) yang menyatakan bahwa ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri.
Pada percobaan reaksi xantoprotein pada susu kedelai, susu kental manis dan dancow putih menghasilkan endapan kuning. Hal ini menandakan adanya protein yang terkandung pada susu tersebut. Hal ini sesuai denhan literature Soetjiningsih (1997) yang menyatakan bahwa susu adalah sumber protein dengan mutu tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi susu adalah jenis ternak yang diperah waktu pemerahan, pemerahan makanan ternak, penyakit keragaman akibat musim dan umur sapi. Ini sesuai dengan pernyataan Nurwantoro dan Abbas (1997) yang menyatakan bahwa apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Sumber-sumber pencemaran mikroba dalam susu adalah saluran putting susu, lingkungan kandang (lantai kandang, debu, udara dan air), tubuh dan kotoran sapi, pakan, peralatan pemerahan, pekerja, pencemaran selama penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran(Nurwantoro dan Abbas, 1997).


KESIMPULAN

1. Dari hasil percobaan adanya lemak, susu sapi ditambah dietil eter akan membentuk endapan.
2. Dari hasil percobaan adanya protein, susu indomilk cokelat dengan Pb(CH3COOH)2 akan membentuk larutan kuning.
3. Dari hasil percobaan reaksi biuret, susu yang diberi NaOH + CuSO4 tebentuk larutan berwarna kuning.
4. Dari hasil percobaan reaksi millon, susu indomilk yang ditambahkan dengan dengan millonase dan Pb(CH3COOH)2 terjadi gumpalan.
5. Dari hasil percobaan reaksi xantoprotein, semua susu putih yang ditambahkan HNO3 + NaOH menghasilkan gumpalan putih.
6. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Uji Formalin menghasilkan susu yang tidak mengandung formalin.


DAFTAR PUSTAKA

Akre, J., 1987. Pemberian Makanan Untuk Bayi. Kanisius, Jakarta.

Husayni, Y. K dan H. M. Anwar., 2001. Makanan Bayi Bergizi. UGM–Press, Yogyakarta.

Nurwantoro dan A. B. Djarijah., 1997. Mikrobiologi Pangan Hewan-Nabati. Kanisius, Jakarta.

Parakkasi, A., 1990. Ilmu Gizi Dan Makanan Ternak. Angkasa, Bandung.

Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC, Jakarta.

Sulaiman, A. H., 1995. Biokimia Untuk Pertanian. USU-Press, Medan.

Supariasa, I. D. N., B. Bakri., I. Fajar., 2001. Penilaian Status Gizi. Buku kedokteran, Jakarta.

Williams, E. R. and Caliendo, M. A., 1990. Nutrition. Mc Grow Hill Book, New York

Williams, A. F and J. D. Baum., 1984. Human Milk Banking. Raven Press, New York.

Wealth Health Organization., 1999. Management of Severe Malnutrition. WHO, Geneva.

air susu

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Susu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini karena komposisi nutrisinya sangat ideal untuk pertumbuhan mikroba. Apabila sapi dalam keadaan sehat. Maka susu yang dihasilkannya(sampai disisterne ambing) juga dalam keadaan steril. Mikroba mulai terdapat pada saluran putting susu. Untuk mengurangi jumlah mikroba awal pada susu, maka pada pemerahan susu sebanyak 3-4 pancaran pertama harus dibuang. Sumber-sumber pencemaran mikroba dalam susu adalah saluran puting susu(Nurwanto dan Djarijah, 1997).
Komposisi ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah :
- Stadium Laktasi
- Ras
- Keadaan Gizi
- Diet
Stadium laktasi terdiri dari tiga tingkatan, yaitu kolostrum, air susu masa transisi, dan air susu masa mature. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae. Kolostrum ini berlangsung sekitar 3 sampai 4 hari setelah ASI pertama kali keluar(Supariasa, dkk, 2001).
Perbandingan komposisi ASI dan susu sapi juga susu buatan pengganti ASI tersedia secara luas. Beberapa dari ratusan komponen dalam ASI sudah dibuat daftarnya, tetapi tidak berhasil menjelaskan perbedaan-perbedaan antara jenis susu tersebut. Sebagai contoh, protein susu bovine (lembu), baik dari air mendidih maupun kasein, struktur dan kualitasnya berbeda dengan protein ASI manusia dan bisa menimbulkan respon antigen (World Health Organization, 1999).
Susu adalah nutrisi terpenting selama proses pertumbuhan, masyarakat sekarang ini selalu mengkonsumsi susu karena tersedia dengan formula-formula yang penting bagi tubuh. Reaksi susu sangat mudah dipengaruhi pada proses penyimpanan karena susu yang disimpan dibawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi susu akan pecah, lemaknya akan terpisah dan terjadi denaturasi (Williams and Baum, 1984).
Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (termasuk vitamin E, A, dan K)dan mineral-mineral. Juga sangat tinggi imunoglobin dan factor-faktor pelindung lainnya sehingga ASI dapat dianggap alamiah sebagai mana juga makanan alamiah (Sulaiman, 1995).

Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui sifat-sifat lemak dan protein pada susu secara kualitatif.

Kegunaan Percobaan

- Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Biokimia Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Susunan asam-asam lemak air susu pun dipengaruhi oleh sumber-sumber lemak dalam ransum. Sebagai contoh, penambahan “tallow”, menaikkan kadar oleat, penambahan “lard” menaikkan kadar oelat dan asam-asam lemak tidak jenuh lainnya, penambahan minyak jagung menaikkan linoleat, penambahan minyak kelapa menaikkan asam laurik dan asam miristik. Jadi kolostrum lebih banyak mengandung oleat dan linoleat dan sedikit mengandung miristik, palmatin, palmitoleik dan linoleat dibanding dengan air susu biasa(Parakkasi, 1990).
Susu kental manis(SKM) adalah susu sapi yang diawetkan bukan oleh cara pemnasan seperti pasteurisasi atau dengan pengeringan seperti lazimnya pada pembuatan air susu bubuk, atau penurunan pH seperti pada susu asam, tetapi oleh penambahan gula sebanyak 40 sampai 50 persen dari total berat. SKM merupakan salah satu cara pengawetan yang paling menguntungkan, karena gula yang ditambahkan baik gula yang berkualitas rendah maupun berkualitas tinggi atau gula biasa mempunyai efek pengawetan yang kurang lebih sama (Husaini dan Anwar,2001).
ASI mengandung bermacam-macam enzim. Enzim pada ASI tersebut berfungsi membantu pencernaan bayi dimana fungsi pankreas masih belum sempurna sebagai pengangkut logam-logam(Fe, Mg, Zn, Se) dan berfungsi sebagai anti infeksi. Banyak dari enzim-enzim ini dapat melewati lambung karena mempunyai struktur tersier dan hidrofobik dan ASI merupakan buffer yang bagus yang dapat meningkatkan pH menjadi 5,5-6,0. Protein ASI lebih rendah dari protein susu sapi, lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi, dan karbohidrat pada ASI terutama Laktosa, dimana laktosa pada ASI ini lebih tinggi dari pada susu sapi(Soetjiningsih, 1997).
ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri. Kolostrum adalah cairan yang lengket kekuningan yang mengisi sel-sel alveolar selama trimester terakhir kehamilan, dan disekresi selama beberapa hari setelah melahirkan. Meski seorang ibu selama hamil juga menyusui anak yang lebih tua, produksi ASI tetap akan melalui fase kolostral (kolostrum) sesaat sebelum dan setelah kelahiran anak yang dikandungnya. Jumlah kolostrum yang disekresi sangat bervariasi sekitar antara 10-100 ml/hari(Akre, 19870).
Komposisi susu dapat sangat beragam tergantung pada beberapa faktor, akan tetapi angka rata-rata untuk semua jenis kondisi dan jenis sapi perah adalah sebagai berikut:
Lemak 3,9%
Protein 3,4%
Laktosa 4,8%
Abu 0,72%
Air 87,10%
Bersama dengan bahan-bahan lain dalam jumlah sedikit seperti sitrat, enzim-enzim, fosfolipid, vitamin A, vitamin B, dan Vitamin C(Buckle, dkk, 1987).


BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Bahan

• Susu sapi Segar
• Susu Kedelai
• Susu Dancow Putih
• Susu Dancow Coklat
• Susu Indomilk Putih
• Susu Indomilk Coklat
• Susu Kental Manis Putih
• Susu Kental Manis Coklat
• Air Susu Ibu (ASI)
• Susu Sapi Segar + Formalin

Regensia

• Eter
• H2O (Air)
• Pb(CH3COOH)2
• NaOH 0,1 N
• CuSO4 0,1 N
• Milonase
• KMnO4 0,1 N

Alat

• Tabung Reaksi
• Rak Tabung Reaksi
• Penjepit Tabung Reaksi
• Kaki Tiga
• Kawat Kasa
• Bunsen
• Beaker Glass
• Pipet Tetes
• Label Nama
• Korek Api
• Brush Tabung Reaksi
• Serbet
• Flanel

Prosedur Percobaan

A. Adanya Lemak
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Tiap tabung diisi dengan 1cc eter, kemudian dipanaskan, dikocok, dan diamati.
B. Adanya Protein
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 5ml.
- Dimasukkan Pb(CH3COOH)2 0,1N 5cc tetes demi tetes.
- Disaring gumpalan dengan kertas saring dan diamati.
C. Reaksi Biuret
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan 1cc NaOH 0,1N dan CuSO4 0,1N 1cc dan dikocok.
- Dilakukan observasi visual.
D. Reaksi Milon (Logam Berat)
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan milonase 2cc.
- Dipanaskan selama 10 menit.
- Ditambahkan Pb(CH3COOH)2 1cc.
- Dilakukan obsevasi visual.
E. Reaksi Xanthoprotein
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu.
- Dimasukkan HNO3 1cc dan NaOH 1cc.
- Dipanaskan selama 10 menit.
- Dilakukan observasi visual.
F. Uji Formalin
- Diambil Tabung reaksi, masing-masing diisi dengan contoh susu 9 ml.
- Dimasukkan dalam tabung reaksi.
- Diteteskan dengan KMnO4 0,1N 5 tetes.
- Dikocok
- Diamati apaka warna KMnO4 bertahan. Jika warna KMnO4 luruh selama 30 menit atau lebih cepat berarti mengandung formalin.
- Diamati perbedaanya.


HASIL DAN REAKSI

Hasil

No Bahan Pereaksi Observasi visual Keterangan
1. Adanya Lemak
Susu Sapi 1 cc Eter Endapan Putih Dipanaskan, Dikocok, diamati
Susu Kedelai 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Dancow Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Dancow Coklat 1 cc Eter Endapan Coklat Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Indomilk Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Indomilk Coklat 1 cc Eter Endapan Coklat Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Kental Manis Putih 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
Kental Manis Coklat 1 cc Eter Larutan Encer Dipanaskan, Dikocok, Diamati
ASI 1 cc Eter Endapan Putih Dipanaskan, Dikocok, Diamati
2. Adanya Protein
Susu Sapi 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Susu Kedelai 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Dancow Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Putih Disaring
Dancow Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Kuning Disaring
Indomilk Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Putih Disaring
Indomilk Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Kuning Disaring
Kental Manis Putih 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
Kental Manis Coklat 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
ASI 5 cc Pb(CH3COOH)2 Bening Disaring
3. Reaksi Biuret
Susu Sapi 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Susu Kedelai 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Gumpalan Putih Dikocok
Dancow Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Dancow Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
Indomilk Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Indomilk Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
Kental Manis Putih 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
Kental Manis Coklat 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Coklat Dikocok
ASI 1 cc NaOH + 1 cc CuSO4 0,1 N Endapan Putih Dikocok
4. Reaksi Millon
Susu Sapi 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Susu Kedelai 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Dancow Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Dancow Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Gumpalan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
Indomilk Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Gumpalan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Indomilk Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
Kental Manis Putih 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Putih Dipanaskan 10 menit dan diamati
Kental Manis Coklat 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
ASI 2 cc Milonase + 1 cc Pb(CH3COOH)2 Endapan Coklat Dipanaskan 10 menit dan diamati
5. Reaksi Xanthoprotein
Susu Sapi 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Dipanaskan 10 menit
Susu Kedelai 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Dancow Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Dancow Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Indomilk Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Indomilk Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Kental Manis Putih 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
Kental Manis Coklat 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Kuning Gumpalan Kuning
ASI 1 cc HNO3 + 1 cc NaOH Gumpalan Coklat Gumpalan Kuning
6. Uji Formalin
Susu Sapi KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Susu Kedelai KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Dancow Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
Dancow Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Indomilk Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
Indomilk Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Kental Manis Putih KMnO4 0,1 N 5 tetes (+)
Kental Manis Coklat KMnO4 0,1 N 5 tetes (++)
ASI KMnO4 0,1 N 5 tetes (-)
Susu Sapi Formalin KMnO4 0,1 N 5 tetes (+++)


PEMBAHASAN

Pada percobaan yang telah dilakukan, diketahui bahwa pasa uji adanya protein terjadi penggumpalan pada susu kedelai, susu bubuk putih, susu bubuk coklat dan ASI yang menunjukan terjadinya denaturasi protein. Hal ini sesuai dengan literatur Williams and Baum (1990) yang menyatakan bahwa Reaksi susu sangat mudah dipengaruhi pada proses penyimpanan karena susu yang disimpan dibawah suhu penyimpanan akan berakibat emulsi susu akan pecah, lemaknya akan terpisah dan terjadi denaturasi protein.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa pada percobaan reaksi Xanthoprotein, ASI yang ditambahkan 1 cc HNO3 0,1 N dan 1 cc NaOH 0,1 N menghasilkan warna kuning pucat sedangkan pada susu sapi menghasilkan warna kuning pekat. Hal ini dikarenakan protein yang terkandung dalam susu ASI lebih rendah daripada susu sapi. Hal ini sesuai dengan literatur Soetjiningsih (1997) yang menyatakan bahwa protein ASI lebih rendah dari protein susu sapi, lemak ASI lebih tinggi daripada lemak susu sapi, dan karbohidrat pada ASI terutama Laktosa, dimana laktosa pada ASI ini lebih tinggi dari pada susu sapi.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI pada Uji adanya Lemak terjadi Endapan putih ini dikarenakan pada ASI terdapat kolostrum yang mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, disbandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Hal ini sesuai dengan literatur Sulaiman (1995) yang menyatakan bahwa Kolostrum merupakan makanan yang kepekatannya tinggi dan volumenya sedikit. Mengandung lebih sedikit laktosa, lemak, dan vitamin-vitamin yang larut dalam air, dibandingkan dengan ASI matang, tetapi kaya akan protein, vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa ASI merupakan cairan yang pertama kali keluar yang menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi. Hal ini sesuai dengan literatur Akre (1987) yang menyatakan bahwa ASI yang pertama keluar adalah kolostrum, menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa transisi menuju kehidupan pasca lahir yang mandiri.


KESIMPULAN

1. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Uji Adanya Lemak terjadi endapan.
2. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Uji Adanya Protein terjadi larutan bening.
3. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Reaksi Biuret menghasilkan endapan.
4. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Reaksi Millon terjadi endapan.
5. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Reaksi Xanthoprotein menghasilkan gumpalan.
6. Dari hasil percobaan, susu sapi segar dengan Uji Formalin menghasilkan susu yang tidak mengandung formalin.


DAFTAR PUSTAKA

Akre, J., 1987. Pemberian Makanan Untuk Bayi. Kanisius, Jakarta.

Buckle, K. A., R. A. Edwards., G. H. Fleet and M.Wattoa., 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah Purwono dan Ading. UI-Press, Jakarta.

Husaini, Y. K dan H. M. Anwar., 2001. Makanan Bayi Bergizi. UGM–Press, Yogyakarta.

Nurwantoro dan A. B. Djarijah., 1997. Mikrobiologi Pangan Hewan-Nabati. Kanisius, Jakarta.

Parakkasi, A., 1990. Ilmu Gizi Dan Makanan Ternak. Angkasa, Bandung.

Soetjiningsih . , 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. EGC, Jakarta.

Sulaiman, A. H., 1995. Biokimia Untuk Pertanian. USU-Press, Medan.

Supariasa, I. D. N., B. Bakri., I. Fajar., 2001. Penilaian Status Gizi. Buku kedokteran, Jakarta.

Williams, A. F and J. D. Baum., 1984. Human Milk Banking. Raven Press, New York.

Wealth Health Organization., 1999. Management of Severe Malnutrition. WHO, Geneva.