PENDAHULUAN
Latar Belakang
Transpirasi adalah proses dipersiasi energi dan transpirasi berfungsi di dalam penguapan yang terjadi akibat sinar matahari. Transpirasi memberikan gaya penggerak utama untuk penyerapan air tanaman melawan gaya gravitasi dan tahanan gesekan dalam jalur ini melalui tanaman. Laju pengambilan air terutama dikendalikan oleh laju transpirasi, tekanan akar, dan penyerapan air secara aktif hanya memainkan peranan yang kecil dalam penyerapan dan hanya tampak apabila transpirasi rendah atau berhenti (Pandey and Sinha, 2000).
Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati. Transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil karbondioksida dari udara untuk berfotosintesis. Lebih dari 20% yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain batang, bunga, buah. Transpirasi menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem (Http://id.wikipedia.co.id, 2008).
Air merupakan salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air yang ada di dalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktasi bergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan gas. Proses keluarnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan gas. Proses keluarnya air dari tubuh tumbuhan disebut transpirasi (Http://www.google.com, 2008).
Kutikula yang menutupi epidermis pada kedua belah permukaan sangat membatasi kehilangan air. Walaupun demikian, air menguap dari permukaan mesofil yang basah dan uapnya akan keluar melalui sejumlah stomata yang terdapat pada kedua belah permukaannya. Transpirasi pada tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu transpirasi stomata dan transpirasi kutikula. Sebagian dari air terlepas melalui stomata, kehilangan air melalui kutikula hanya 5 sampai 10 persen dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah sedang (Wilkins, 1989)
Transpirasi air sangat besar diserap dari lahan oleh akar yang dapat membuat karbohidrat. Kebanyakan transpirasi hasilnya didalam bentuk uap air. Penguapan air ini dari permukaan yang dikenal dengan transpirasi (Miller, 1931)
Transpirasi tidaklah hanya diuntungkan tetapi juga penting di dalam penyerapan CO2 dari atmosfer selama fotosintesis. Di dalam alam transpirasi banyak dilakukan oleh tanaman yang berklorofil (Pradhan, 1997).
Pada proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi tanaman juga akan terus mendapat air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin(Http://www.google.com, 2008).
Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil yang tidak terhindarkan dari suatukepentigan telah berubah menjadi keuntungan. Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa transpirasi. Namun bila dilakukan juga tampaknya transpirasi memberi manfaat. Transpirasi merupakan proses pendiginan, tetapi bila transpirasi mendinginkan daun, tentu proses fisika lain yang melakukan hal tersebut. Bila tidakj terjadi transpirasi, daun akan lebih panas beberapa derajat(Salisbury dan Ross, 1995).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan dari laju transpirasi adalah untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap laju transpirasi tanaman pacar air (Balsamina impatient).
Kegunaan Penulisan
- Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Untuk memberikan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air didalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian-bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jmlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air hilang melalui stomata (Lakitan, 2000).
Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Dengan terbukanya stomata lebih besar, lebih banyak pula kehilangan air, tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata, yang paling utama dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya kelembaban. Pada sebagian besar tanaman budidaya cahaya menyebabkan stomata terbuka. Pada tingkat kelembaban di dalam daun yang rendah sel-sel pengawal kehilangan turgornya, mengakibatkan penutupan stomata (Gardner dkk, 1995).
Faktor-faktor tanaman, juga mengubah ET dengan mempengaruhi tanaman terhadap pergerakan air dari tanah ke udara, yaitu :
- Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup.
- Jumlah dan ukuran stomata.
- Jumlah daun.
- Penggulungan atau pelipatan daun (Gardner dkk, 1991).
Membuka dan menutupnya stomata merupakan bahan penyelidikan yang susah. Mekanisme membuka dan menutupnya stoma berdasarkan perubahan turgor dan perubahan turgor itulah akibat perubahan osmosis dari sel-sel penutup. Sel-sel penutup pada malamnya persenannya lebih tinggi daripada sel pagi hari. Pada pagi hari masih ada kepadatan amilum di dalam sel-sel penutup stoma. Pengaruh sinar matahari dapat digantikan oleh lampu dengan membangkitkan klorofil-klorofil untuk mengadakan fotosintesis. Hal ini dapat memunculkan adanya transpirasi (Dwidjoseputro, 1994).
Pada tanaman yang bertranspirasi bebas, air dievaporasi dari dinding sel epidermis dan mesophyl yang lembab di dalam daun hilang ke atmosfer melalui stomata. Karena hilangnya air, potensial air dalam apoplast daun turun ke bawah potensial sel daun juga lebih rendah dari potensial xylem dan tanah. Hal ini mengakibatkan penarikan cepat air dari sel daun dan merendahnya potensial sel (Fitter dan Hay, 1999).
Faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah :
- Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya dibandingkan dengan di dalam gelap. Hal ini terjadi karena cahaya mendorong / merangsang tumbuhnya stomata.
- Suhu. Tumbuhan bertranspirasi lebih cepat pada suhu yang tinggi. Pada suhu 30oC daun dapat bertranspirasi tiga kali lebih cepat dibandingkan suhu 20oC.
- Kelembaban. Laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nibsi udara sekitar tumbuhan. Laju difusi setiap substansi dalam kedua daerah menurun.
- Angin. Adanya angin juga mengakibatkan meningkatnya laju transpirasi.
- Air tanah. Tumbuhan tidak dapat bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban hilang, tidak digantikan oleh air segar (Kimbal, 1983).
Sinar matahari, seperti dibicarakan di depan, maka sinar menyebabkan membukanya stomata dan gelap menyebabkan menutupnya stomata. Jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas, maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stomata dan dengan demikian memperbesar transpirasi(Dwidjoseputro, 1994).
Ada dua tipe transpirasi yaitu, transpirasi kutikula adalah evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis dan transpirasi stomata, yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun dan stomata (Loveless, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi antara lain yaitu faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme buka menutupnya stomata. Kelembaban ada disekitar tanaman, suhu udara, suhu daun tanaman. Angin juga dapat mempengaruhi laju transpirasi. Angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering (Pradhan, 1997).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 25 dpl. Percobaan dilakukan tanggal 24 September 2008, pada pukul 15.00 WIB.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tanaman pacar air (Balsamania impatient) 10 buah. Sebagai objek percobaan, kapas sebagai penutup erlenmeyer agar tidak ada udara yang masuk, vaselin sebagai penutup bagian tanaman, air sebagai sumber untuk transpirasi.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kipas angin sebagai faktor angin, timbangan untuk menimbang percobaan, sinar matahari sebagai faktor cahaya, dan erlenmeyer sebagai tempat atau wadah bagi pacar air.
Prosedur Percobaan
- Disediakan 10 tanaman yang berukuran sama begitu juga jumlah daunnya.
- Disediakan 10 buah erlenmeyer, isi air dengan volume sama.
- Dimasukkan air ke dalam gelas beaker masing-masing sebanyak 250 mL.
- Disiapkan bahan tanaman dalam 2 kelompok, yaitu 5 buah tanaman untuk kelompok angin dan 5 buah kelompok cahaya.
- Setiap kelompok tanaman diberi perlakuan, yaitu :
a. Tanpa perlakuan (kontrol)
b. Dilapisi vaselin
c. Tanpa akar
d. Potong setengah daun
e. Tanpa daun.
- Dimasukkan bahan tanaman ke dalam erlenmeyer, lalu mulut erlenmeyer ditutup dengan mempergunakan kapas.
- Ditimbang berat awal masing-masing erlenmeyer + Balsamania impatient (sebagai bobot awal).
- Diletakkan erlenmeyer sesuai kelompoknya yaitu 5 erlenmeyer di bawah sinar matahari dan 5 erlenmeyer lainnya di bawah kipas angin selama 1 jam.
- Ditimbang bobot akhirnya.
- Dihitung laju transpirasi tanaman = Bobot Awal – Bobot Akhir
Waktu
= g/s
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Faktor Angin
Perlakuan Berat Awal (gr) Berat Akhir (gr) Laju Transpirasi (gr/s)
Kontrol
Potong 1/2 daun
Tanpa daun
Tanpa akar
Dilapisi vaseline 472.3
439.4
469.1
453
448.2 471.1
438.8
468.9
431.2
448.2 6.6 x 10-4
3.3 x 10-4
1.1 x 10-4
6.1 x 10-4
0
Faktor Cahaya
Perlakuan Berat Awal (gr) Berat Akhir (gr) Laju Transpirasi (gr/s)
Kontrol
Potong 1/2 daun
Tanpa daun
Tanpa akar
Dilapisi vaseline 456.6
461.6
464.4
453
432.4 455
460.6
463.4
451.9
431.1 8.8 x 10-4
2.7 x 10-4
5.5 x 10-4
6.1 x 10-4
7.2 x 10-4
Perhitungan
Faktor Angin
LT (kontrol) = Berat Awal – Berat Akhir = 1.2 = 6.6 x 10-4
Waktu 1600
LT (potong ½ daun) = Berat Awal – Berat Akhir = 0.6 = 3.3 x 10-4
Waktu 1600
LT (tanpa daun) = Berat Awal – Berat Akhir = 0.2 = 1.1 x 10-4
Waktu 1600
LT (tanpa akar) = Berat Awal – Berat Akhir = 21.8 = 6.1 x 10-4
Waktu 1600
LT (dilapisi vaseline) = Berat Awal – Berat Akhir = 0 = 0
Waktu 1600
Faktor Cahaya
LT (kontrol) = Berat Awal – Berat Akhir = 1.6 = 8.8 x 10-4 gr/s
Waktu 1800
LT (potong ½ daun) = Berat Awal – Berat Akhir = 0.5 = 2.7 x 10-4 gr/s
Waktu 1800
LT (tanpa daun) = Berat Awal – Berat Akhir = 1 = 5.5 x 10-4 gr/s
Waktu 1800
LT (tanpa akar) = Berat Awal – Berat Akhir = 1.1 = 6.1 x 10-4 gr/s
Waktu 1800
LT (dilapisi vaseline) = Berat Awal – Berat Akhir = 1.3 = 7.2 x 10-4 gr/s
Waktu 1800
Pembahasan
Pada hasil percobaan dapat dilihat bahwa pada faktor cahaya, laju transpirasi paling tinggi terjadi pada tanaman yang mendapat perlakuan kontrol sebesar 8,8 x 10-4. Karena sinar matahari dapat secara langsung mendorong agar stomata dapat tumbuh dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan literatur Kimbal (1983), yang menyatakan bahwa tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya dibandingkan dengan dalam gelap. Hal ini terutama karena cahaya mendorong / merangsang tumbuhnya stomata.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju transpirasi terendah dari faktor cahaya terdapat pada perlakuan tanpa daun yaitu sebesar 2,7 x 10 - 4 gr/s. Hal ini disebabkan tidak adanya stomata. Sebab salah satu syarat yang menimbulkan terjadinya transpirasi pada tanamn adalah adanya stomata pada daun. Tidak adanya stomata daun, maka menyebabkan berkurangnya transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (2000) yang menyatakan bahwa transpirasi adalah proses kehilangan air didalam bentuk uap dan dapat terjadi jika adanya stomata pada daun tanaman.
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa faktor cahaya sangat berpengaruh besar pada laju transpirasi. Dapat dilihat bahwa pada perlakuan kontrol, laju transpirasi mencapai 8.8 x 10-4, sedangkan pada perlakuan ½ daun laju transpirasinya adalah 2.7 x 10-4 gr/s. Pada perlakuan kontrol, pada saat inilah faktor cahayanya tertinggi, dan perlakuan ½ daun, pada saat inilah faktor cahayanya yang terendah. Hal ini sesuai dengan literatur Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan bahwa sinar menyebabkan stomata membuka. Jadi, banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas, maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stomata dan dengan demikian memperbesar transpirasi. Hal ini menyebabkan perlakuan kontrol, menghasilkan laju transpirasi yang tinggi.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa faktor tertinggi dari angin adalah perlakuan kontrol sebesar 6.6 x 10-4. Hal ini disebabkan oleh angin. Angin juga dapat mempengaruhi laju transpirasi jika udara yang bergerak melalui permukaan daun. Hal ini sesuai dengan literatur Pradhan (1997) yang menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah faktor internal yaitu angin, karena angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun.
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa pada faktor angin, laju transpirasi terendah tardapat pada perlakuan dilapisi vaselin. Hal ini disebabkan oleh karena vaselin digunakan sebagai pengganti lilin pada daun tanaman. Dimana pada umumnya daun yang dilapisi lilin, stomata pada daun tidak membuka lebar (stomata tertutup). Sehingga hal inilah yang menyebabkan turunnya laju transpirasi pada tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Gardner, dkk (1995) yang menyatakan bahwa transpirasi melalui stomata.
Dari hasil percobaan didapat pada faktor angin, laju transpirasi terendah adalah 0, dengan perlakuan tanaman pacar air dilapisi vaseline artinya tanaman tidak melakukan transpirasi karena diseluruh permukaanya dilapisi oleh vaseline. Akibatnya, stomata ataupun bulu akar tidak dapat melakukan transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Wikipedia (2008) yang menyatakan bahwa stomata atau mulut daun. Sebagian besar transpirasi terjadi disini, dan air diserap secara osmosis ke dalam akar melalui rambut akar dan sebagian besar ion bergerak menurut gradien potensial air melalui xylem.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu :
1. Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi dengan cahaya dibandingkan dengan gelap.
2. Suhu. Tumbuhan dapat lebih cepat bertranspirasi pada suhu tinggi
3. Kelembaban. Laju transpirasi yang tinggi juga dipengaruhi oleh kelembaban nibsi udara di sekitar tumbuhan.
4. Angin. Adanya angin lembut dapat mempercepat laju transpirasi.
5. Air tanah. Tumbuhan tidak dapat terus bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban hilang tidak digantikan oleh air di dalam tanah.
Hal ini sesuiai dengan literatur Kimbal (1983) yang menyatakan faktor cahaya adalah faktor yang paling banyak / tinggi laju transpirasinya karena tumbuhan lebih cepat bertranspirasi bila berada pada cahaya terang dibandingkan dengan cahaya yang gelap, karena cahaya yang terang mendorong tumbuhnya stomata pada daun. Angin, jika tidak ada angin, maka laju transpirasi juga tidak mungkin terjadi karena angin bergerak melalui permukaan daun dan air tanah, bila penyerapan air oleh akar tidak dapat mengimbangi laju transpirasi maka stomata tertutup
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada faktor cahaya didapati laju transpirasi tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan berat awal 456.6 dan berat akhir 455 dengan laju transpirasi 8.8 x 10-4.
2. Pada faktor cahaya didapati laju transpirasi terendah terdapat pada perlakuan ½ daun dipotong dengan berat awal 461.1 dan berat akhir 460.6 dengan laju transpirasi sebesar 2.7 x 10-4.
3. Pada faktor angin didapati laju transpirasi tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan berat awal 472.3 dan berat akhir 47.1 dengan laju transpirasi sebesar 6.6 x 10-4.
4. Pada faktor angin didapati laju transpirasi terendah terdapat pada perlakuan tanaman yang dilapisi vaseline seesar 0 dengan berat awal 448.1 dan berat akhir 448.2.
5. Pada faktor cahaya dan faktor angin, faktor yang mempengaruhi laju transpirasi tertinggi adalah faktor cahaya.
Saran
Dalam melakukan penimbangan berat awal dan berat akhir, praktikkan lebih teliti karena mempengaruhi perhitungan laju transpirasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D., 1994. Penghantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.
Fitter, A. H dan R. K. M. Hay., 1999. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan Sri Andani daN E. B Purbayanti. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Gardner, F. P ; R. B. Perace dan R. L. Mitchell., 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan H. Susilo. UI – Press, Jakarta.
Http:// id. Wikipedia. co. id., 2008. Transpirasi. Diakses tanggal 20 september 2008. 2 page.
Http: // www. Google., 2008. Sistem Transpirasi Tumbuh. Diakses tanggal 20 september 2008. 2 page.
Http: // www. Google., 2008. Transpirasi. Diakses tanggal 20 september 2008. 2 page.
Kimball, J. W., 1983. Biologi. PT Erlangga, Jakarta.
Lakitan, B., 2000. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo, Jakarta.
Loveless, A. R., 1993. Prinsip – prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Miller, E. C., 1931. Plant Physiology. Mc Graw Hill Company. Inc, New York.
Pandey, S. N and B. K. Sinha., 2000. Plant Phisiology. Kanpur.
Pradhan, S., 1997. Plant Physiologi. Har – Anand, New Delhi.
Salisbury, B. F dan Ross, W. C., 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press, Bandung.
Wilkins, M. B. 1989. Fisiologi Tanaman I. Terjemahan M. M Sutedjo dan A. G. Kartasapotra. Bumi Aksara, Jakarta.
Jumat, 02 Oktober 2009
laju transpirasi
Diposting oleh arenloveu di 7:09:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, laju transpirasi
laju transpirasi
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Untuk tanah kering, suatu tumbuhan harus melindungi persediaan airnya agar terhindar dari kekeringan karena suhu udara yang terlalu panas, dan tumbuhan harus mempunyai ketahanan kedua-duanya untuk menggantikan kerugiannya dan untuk menyediakan air ekstra untuk pertumbuhan. Kerugian air yang tak bisa diacuhkan ketika daun-daun akan melakukan fotosintesis, stomata akan terbuka agar CO2 dapat masuk, tetapi di waktu yang sama air juga menghambur ke luar. Sebagai tambahan, proses fotosintesis memerlukan air untuk syarat berlangsungnya proses tersebut (seperti halnya beberapa proses yang berkenaan dengan metabolisme lain). Oleh karena itu jika suatu tumbuhan terlalu besar untuk bergantung pada difusi, maka tumbuhan itu harus mempunyai suatu sistem yang siap mengangkut air dari lokasi tersedianya air ke lokasi tumbuh yang tidak tersedia air untuk selanjutnya digunakan daun-daun dan organ tubuh tumbuhan untuk berfotosintesis. Ini akan menunjukkan bagaimana air adalah kebutuhan yang sangat penting, dan memelihara siklus tumbuh, dan bagaimana selaput kayu melayani untuk pengangkutan yang interlokal
(Wiley and Sons, 1982).
Transpirasi adalah suatu proses yang mengakibatkan pembuangan energi dan dikatakan transpirasi mengakibatkan kehilangan air serta pembuangan tenaga yang diterima tumbuhan dari matahari. Daun-daun menyerap sejumlah energi dari matahari dan hanya sebagiannya dipakai oleh tumbuhan. Kurang dari satu per sen dari energi yang diterima dari matahari untuk digunakan dalam berfotosintesis (Pandey and Sinha, 1972).
Transpirasi adalah suatu istilah yang berlaku untuk hilangnya air berupa suatu uap air dari jaringan tumbuhan. Transpirasi pada prinsipnya adalah salah satu dari difusi dan penguapan, tetapi bukan penguapan dengan sempurna yang terbuka dengan bebas. Erlier ahli tumbuhan mengatakan bahwa transpirasi benar mengakibatkan tingkat kerugian air dari suatu jaringan yang hidup akan jelas berbeda dengan jaringan yang mati (Curtis and Clark, 1950).
Telah diketahui bahwa transpirasi melalui kutikula, melalui stomata dan melalui lentisel. Sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang dibicarakan adalah hanya transpirasi yang melalui daun, karena hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya permukaan daun, dan juga karena daun-daun itu lebih terkena udara dibandingkan dengan bagian tanaman yang lain (Dwidjoseputro, 1994).
Walaupun beberapa jenis tumbuhan dapat hidup dengan tanpa melakukan transpirasi, tetapi jika transpirasi berlangsung pada tumbuhan agaknya dapat memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut, misalnya:
a. mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembuluh xilem
b. menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal
c. sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun.
(Lakitan, 1993).
Dalam udara yang tenang, tahanan lapisan udara tak-campur akan sangat besar daripada tahanan-tahanan lainnya sampai pembukaan stomata menjadi sangat kecil, sehingga transpirasi berubah sedikit saja dengan perubahan-perubahan dalam pembukaan stomata pada pembukaan yang besar. Walaupun demikian, dalam kondisi berangin, transpirasi berubah dengan perubahan dalam pembukaan stomata yang meliputi seluruh kisaran pembukaannya. Meningkatnya pengendalian transpiasi oleh stomata pada pembukaan yang kecil dan pada kecepatan angin yang lebih besar (Goldsworthy dan Fisher, 1992).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan “Laju Transpirasi” ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap laju transpirasi tanaman pacar air (Balsamina impatient).
Kegunaan Percobaan
-Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
-Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak terhindarkan dari suatu kepentingan telah berubah menjadi keuntungan. Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi memberikan manfaat. Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun (Salisburry dan Ross, 1996).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapaty terus terjamin (Brittlate, 2007).
Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas) mislnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan (Anonimous a, 2007).
Daun juga sering kali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata (tranpirasi stomata) (Lubis, 2000).
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya. Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata)
2. faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin)
(Anonimous b, 2007).
Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro, 1994).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Witham and Devlin, 1983).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara, Medan dengan ketinggian tempat 25 m dpl pada tanggal 21 September 2007 sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah tanaman pacar air sebagai objek percobaan, kapas sebagai penutup erlenmeyer, vaselin sebagai bahan penghambat penguapan air, air sebagai pelarut dalam gelas erlenmeyer.
Adapun alat yang digunakan adalah erlenmeyer sebagai tempat tanaman, pisau sebagai alat potong, kipas angin sebagai faktor eksternal transpirasi, timbangan untuk mengukur berat tanaman, kalkulator sebagai alat bantu menghitung laju transpirasi, cahaya matahari sebagai faktor eksternal.
Prosedur Percobaan
-disiapkan 10 tanaman pacar air yang berukuran sama begitu juga jumlah daunnya
-disedikan 10 erlenmeyer, diisi air dengan volume yang sama
-dimasukkan air kedalam gelas beker masing-masing 250 ml
-disiapkan bahan tanaman dalam 2 kelompok yaitu 5 tanaman untuk kelompok angin dan 5 tanaman untuk cahaya
-diberi perlakuan yaitu:
a.tanpa perlakuan
b.dilapisi vaselin
c.tanpa akar
d.potong setengah daun
e.tanpa daun
-dimasukkan tanaman kedalam erlenmeyerdan ditutup kapas
-ditimbang berat awal erlenmeyer + blasmina impatient
-diletakkan erlenmeyer sesuai kelompoknya 5 dibawah sinar matahari dan 5 dibawah kipas angin (1 jam)
-ditimbang bobot akhir
-dihitung laju transpirasi: bobot awal - bobot akhir = gr/s
waktu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
A. Cahaya
Perlakuan Berat Awal Berat Akhir Laju Transpirasi
(gr) (gr) gr/menit gr/detik
Kontrol 431,6 431,4 6,66. 10-3 1,11. 10-4
Dilapisi vaselin 393,7 393,5 6,66. 10-3 1,11. 10-4
Tanpa akar 388,0 387,8 6,66. 10-3 1,11. 10-4
Potong ½ daun 450,8 450,7 3,33. 10-3 5,55. 10-5
Tanpa daun 448,3 448,1 6,66. 10-3 1,11. 10-4
B. Angin
Perlakuan Berat Awal Berat Akhir Laju Transpirasi
(gr) (gr) gr/menit gr/detik
Kontrol 416,0 415,9 3,33. 10-3 5,55. 10-5
Dilapisi vaselin 405,³ 404,7 0,023 3,88. 10-4
Tanpa akar 444,5 444,4 3,33. 10-3 5,55. 10-5
Potong ½ daun 419,7 419,6 3,33. 10-3 5,55. 10-5
Tanpa daun 404,4 404,2 6,66. 10-3 1,11. 10-4
Perhitungan
LT = Berat awal – Berat akhir
Waktu
Dimana: waktu (t) = 30 menit = 1800 detik
A. Angin
LT (Kontrol) = 416 – 415,9 = 3,33. 10-3 gr/menit
30
= 416 – 415,9 = 5,55. 10-5 gr/detik
1800
LT (Dilapisi vaselin) = 405,4 – 404,7 = 0,023 gr/menit
30
= 405,4 – 404,7 = 3,88. 10-4 gr/detik
1800
LT (Tanpa akar) = 444,5 – 444,4 = 3,33. 10-3 gr/menit
30
= 444,5 – 444,4 = 5,55. 10-5 gr/detik
1800
LT (Potong ½ akar) = 419,7 – 419,6 = 3,33. 10-3 gr/menit
30
= 419,7 – 419,6 = 5,55. 10-5 gr/detik
1800
LT (Tanpa daun) = 404,4 – 404,2 = 6,66. 10-3 gr/menit
30
= 404,4 – 404,2 = 1,11. 10-4 gr/detik
1800
B. Cahaya
LT (Kontrol) = 431,6 – 431,4 = 6,66. 10-3 gr/menit
30
= 431,6 – 431,4 = 1,11. 10-4 gr/detik
1800
LT (Dilapisi vaselin) = 393,7 – 393,5 = 6,66. 10-3 gr/menit
30
= 393,7 – 393,5 = 1,11. 10-4 gr/detik
1800
LT (Tanpa akar) = 388,0 – 387,8 = 6,66. 10-3 gr/menit
30
= 388,0 – 387,8 = 1,11. 10-4 gr/detik
1800
LT (Potong ½ akar) = 450,8 – 450,7 = 3,33. 10-3 gr/menit
30
= 450,8 – 450,7 = 5,55. 10-5 gr/detik
1800
LT (Tanpa daun) = 448,3 – 448,4 = 6,66. 10-3 gr/menit
30
= 448,3 – 448,4 = 1,11. 10-4 gr/detik
1800
Pembahasan
Dari hasil percobaan laju transpirasi pada faktor cahaya yang tertinggi yakni 1,11.10-4 gr/detik pada perlakuan kontrol, dilapisi vaselin, tanpa akar dan tanpa daun. Kesamaan nilai laju transpirasi pada keempat perlakuan ini diakibatkan karena terjadinya kesalahan pada saat praktikum, sehingga tidak sesuai dengan literatur Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan sinar menyebabkan menutupnya stomata, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju transpirasi terendah pada faktor cahaya terdapat pada perlakuan potong ½ daun yakni 5,55. 10-5 gr/detik. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah stomata, maka transpirasi juga berkurang walaupun terbuka karena pengaruh dari cahaya. Hal ini sesuai dengan literatur Lubis (2000) yang menyatakan kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga bawah stomata dan hilang ke udara melalui pori stomata (transpirasi stomata).
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju transpirasi terbesar pada faktor angin terdapat pada perlakuan dilapisi vaselin yakni 3,88. 10-4 gr/detik. Hal ini dikarenakan kesalahan pada saat praktikum, sebab lapisan lilin, dalam hal ini vaselin seharusnya memperkecil laju transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous a (2007) yang menyatakan pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun, maka daunnya berbulu, bentuknya kecil, mempunyai lapisan lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju transpirasi terkecil pada faktor angin terdapat pada perlakuan kontrol, tanpa akar, potong ½ daun yakni 5,55. 10-5 gr/detik. Kesamaan nilai laju trasnpirasi pada ketiga perlakuan ini diakibatkan karena kesalan pada saat praktikum. Ketiga perlakuan seharusnya memiliki nilai laju transpirasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan dengan vaselin. Dimana seluruh bagian tanaman mampu melakukan transpirasi yang tidak dihalangi oleh lapisan lilin. Hal ini sesuai dengan literatur Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan bahwa sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi akan tetapi biasanya yang dibicarakan adalah hanya transpirasi yang melaui daun karena hilangnya molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar melalui daun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu:
1. faktor dari dalam tumbuhan:
- jumlah daun
- luas daun
- jumlah stomata
2. faktor luar:
- suhu
- cahaya
- kelembaban
- angin
Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous b (2007) yang menyatakan besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, jumlah stomata)
2. faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin)
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Laju transpirasi tertinggi dengan faktor cahaya terdapat pada perlakuan kontrol, dilapisi vaselin, tanpa akar, tanpa daun yakni 1,11. 10-4 gr/detik.
2. Laju transpirasi terendah dengan faktor cahaya terdapat pada perlakuan potong ½ daun yakni 5,55. 10-5 gr/detik.
3. Laju transpirasi tertinggi dengan faktor angin terdapat pada perlakuan tanpa daun yakni 1,11. 10-4 gr/detik.
4. Laju transpirasi terendah dengan faktor angin terdapat pada perlakuan dilapisi vaselin yakni 3,88. 10-4 gr/detik.
5. Dari data diperoleh bahwa laju transpirasi lebih cepat terjadi dengan faktor cahaya bila dibandingkan dengan faktor angin.
Saran
Diharapkan para praktikan lebih teliti dalam melakukan penimbangan agar tidak terjadi kesalahan pada data yang kemudian akan mempersulit dalam penulisan pembahasan.jurnal maupun laporan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous a. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi. 24 Oktober 2007. 2 page.
Anonimous b. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Laju-Transpirasi. 24 Oktober 2007. 1 page.
Brittlate. 2007. Sistem Transportasi dan Transpirasi Dalam Tanaman. Powered by SMF, Simple Machines LLC.
Curtis, O.F. and D.G. Clark. 1950. Plant Physiology. Mc Graw-Hill Book Company. Inc, New York.
Dwidjoseputro, D. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia Pustaka Utama, Medan.
Goldsworthy, P.R. dan N.M. Fisher. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. UGM Press, Yogyakarta.
John, W and Sons. 1982. Laboratory Studies In Botany Permissions Departement, New York.
Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Lubis, K. 2000. Tanggap Tanaman Terhadap Kekurangan Air. USU Press, Medan.
Pandey, S.N. and B.K. Sinha. 1972. Plant Physiology. Vikas Publishing House PVT LTD, New Delhi.
Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1996. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB Press, Bandung.
Wiley, J and Sons. 1982. Laboratory Studies In Botany Sixth Edition. Permission Department, John Wiley & Sons, Inc, New York.
Witham, F.H. and Devlin, R.M. 1983. Plant Physiology. Wodsworth Publishing, Company. California.
Diposting oleh arenloveu di 7:03:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, laju transpirasi
Jumat, 11 September 2009
koesien respirasi
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Respirasi harus berlangsung pada setiap sel yang hidup aktif untuk mempertahankan kehidupanya disamping timbuhan, binatang pun berespirasi. Perbedaan antara respirasi dengan pernapasan. Perlu dipahami sepenuhnya, terutama karena adanya pemakaian umum istilah respirasi yang disamakan denganpernapasan. Disini oksigen dan karbon dipertukarkan melalui permukaan membra yang halus (Winarno dan Srikandi, 1994).
Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O2 dan melepaskan CO2 dalam volume yang sama. Namun, seperti kita ketahui,respirasi lebih sekedar pertukaran gas secara sederhana., yaitu senyawa dioksida menjadi CO2. Sedangkan O2 yang diserap dioreduksi membentuk H2O (Fither and Hay, 1999).
Dari daur krebs akan keluar electron dan ion H+ yang dibawa sebagai (NADH + H+ + I elektron) dan FADH2+ sehingga dalam mitokondria (degan adanya siklus krebs yang dilanjutkan degan okisdasi melalui sistim pengangkutan electron) akan terbentuk air, sebagai hasil sampingan respirasi selain CO2. Produk sampingan respirasi tersebut pada tumbuhan dan melalui paru – paru pada peristiwa pernapasan. (http://www.respirasi.biologi sel.com, 2008)
Respirasi merupakan tindakan balas metabolisme dan proses yang berlaku dalam sel atau memutus membrane plsma untuk menghasilkan tenaga biokimia dari pada molekul bahan api dan pelepasan sisa – sisa sel. Tenaga dilepskan oloh pengoksidasian molekul bahan api dan disimpan sebagai pembawa “tinggi tenaga”. Tindak balas yang yang terlibat dalam respirasi ialah tinakan balas dalam metabolisme (http:// ms. wikipedia. org, 2008).
Respirasi aeorob ialah suatu proses pernapasan yang membutuhukan oksigen dari udara. Seperti telah diterangkan diatas, maka jika 1 gramol keksosa yang menjadi bahan bakar untuk dioksidakan oleh 6 Gram mol oksigen, maka akhir dari prose situ berupa 6 gram mol CO2 + 6 gram mol H2O + 675 Kal. (Goldsworthy dan Fisher, 1990).
Perbedaan spesies – spesies yang mempunyai acuan (pathway) C3 dan C4 (http : www. utm.usu.my, 2008)
1. Species C4 lebih pada Am mempunyai kadar Fs yang lebih tinggi dari C3 lebih – lebih dalam keadaan intensitas cahaya yang tinggi.
2. Tumbuhan C4 mugkin menggunakaqn lebih banyak tenaga dari pada C3 juga untuk mengikat CO2.
3. Perbedaan dalam adaptasi untuk C3 danC4 berbeda mekanisme menigkatkan CO2
4. Adanya perbedaan anatomi.
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan menentukan keofisien respirasi dari kecambah jagung (Zea mays) dan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus).
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah suatu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Sumatera Utera, Medan.
- Sebagai Informasi bagi pihak yang membutuhkan
TINJAUAN PUSTAKA
Suatu indeks untuk dapat menilai substrat yang digunakan dalam respirasi dalah koesien respirasi degan singkatan KR atau RQ (Respiration quetiont) yang diperoleh dari
RQ = Evolusi CO2 (mol/ konsumsi O2 mol)
Harga RQ = 1 untuk oksidasi karbohidrat, kurang dari 1 (0,7 – 0,8) untuk lipid dan mendekati satu untuk protein.Untuk lipid, hanya demikian adalah akibat senyawa ini lebih tereduksi dari karbohidrat yakni jumlah H lebih banyak dari O dalam molekulnya (Sitompul dan Guritno, 1995).
Kegunaan suhu rendah pada tempat dapat menurunkan kerja enzim – enzim respirasi .Hubungan antara respirasi serupa dengan hubungan antara suhu dan reaksi kimiawi. Pada kisaran suhu tertentu laju renspirasi meningkat dua taau tiga kali lipat dengan setiap kenaikan suhu 10 derajat sampai suhu diatas 37,8 C. (Sutarmi, dkk, 1990).
Nisbah CO2 terhadap ) O2 ini disebut koeisien respirasi RQ ,, sering hamper mendekati satu . Biji yang sedang berkecambah dari tumbuhan kacangan – kacangan yang mengandung pati sebagai cadangan makanan menunjukan nilai RQ sekitar 1,0 tapi, biji berbagai tumbuhan lebbih banyak mengandung lemak atau minyak yang kaya hydrogen dan rendah kandungan oksigen. Bila lemak 0,7 ,sebab cukup banyak oksigen diperlukan untuk mengubah hydrogen menjadi H2O dan mengubah hydrogen menjkadi CO2.( Salisbury dan Ross, 1995 )
Beberapa partikel glukosa yang berasal dri pati yang dioksidasi seluruhnya menjadi CO2 dan H2O. Molekul Glukosa lainya diubah menjadi molekul sukrosa didalam skutelum, dan kemudian diangkutkeakar dan batang yang sedang tumbuh, dan disitu sebagian terespirasi dan sebagian lagi diubahmenjadi bahan dinding sel,protein,dan bahan lainya yang bibutuhkan untuk pertumuhan kecambah. (Juwono dan Achmad,1993)
Pada umumnya respirasi selalu menggunakan oksigen (respirasi aeorob), tetapi beberapa sel dapat pula melakukan respirasi tanpa menggunakan oksigen dari luar tetapi menggunakan oksigen dari luar tetapi menggunakan bahan anorganik yang ada didalam substrat bahan – bahan anorganik ini bertindak sebagai aseptor electron terakhir. (Mukherji and Ghosh,2001)
Titik kompensasi suatu tanaman dipengruhi oleh temperature dan oleh faktor – faktor yang sebelumnya telah berpengaruh kepada tanaman yang diselidiki. Maka dapat kita simpulkan, bahwa suatu tanaman tidak mungkinmempertahankan diri dalam titik kompensasinya, ia memerlukan mininum cahaya yang diatas titik kompensasinya. (Pradhan, 2001)
Koisen respirasi itu benar – benar 1(satu),jika yang menjadi substrat itu gu;la (biasanya glukosa dan fruktosa), sedang gula itu mengalami oksidasi yang sempurna sampai memberikan hasil akhir CO2 dan H2O. Dalam praktek KRitu jarang kedapatan tepat 1, sebab banyak factor turut serta menentukan angka itu. (Kumar and Singh,1997)
Suatu hasil koesien respirasi dapat dilihat sesuai dengan banyaknya atom C dan atom O yang ada didalam persenyawaan organic an yang digunakan oleh tanaman sebagai substrat untuk di oksidasikan dalam respirasi, dapat kita berikan iktisar sebasi berikut :
Nama substrat jumlah C :O K.Respirasi CO2 : O2
Heksosa jml C= jml O 1,0
Protien jml C > jml O < 1,0 (0,8 – 0,9)
Lemak jml C > jml O < 1,0 (o,7)
As.Organik jml C < jml O > 1,0 (1,33)
(Dwidjoseputro, 1994)
Kekurangan O2 maupun kelebihan CO2 mempunyai efek yang segera tampak pada kegiatan respirasi biji – bijian, akar dan batang. Jika konsentrasi Co2 naik sampai 10 % dankonsentrasi O2 turun sampai 0%. Hal ini sering kali terjadi dalam tanah yang buruk ventilasinya makia respirasinya akan terhenti dan akan membewa segala akibatnya (Fuller and Donald, 1999).
Respirasi tergantung ppada ketersediaan substrat, tanaman yang kelaparan, yang kandungan pati, fruktosa atau gulanya rendah. Tumbuhan sehat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan.Faktor yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat, keersediaan oksigen’ suhu, jenis dan umur tanaman. ( Salisbury dan Ross, 1995 )
Pembahasan
Dari hasil peercobaan yang dilakukan diperoleh bahwa nilai KR dari kacang hijau lebih tinggi dari jagung. Dimana kacang hijau KR = 0,88 sedangkan Jagung KR = 0,68. ini dikarenakan kacang – kacangan mengandung pati dan rendah akan kandungan lemak atau minyak dimana lemak banyak mengandung hydrogen dan rendah akan oksigen sehingga proses respirasi lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan literatur dari Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa tumbuhan kacangan – kacangan yang mengandung pati sebagai cadangan makanan menunjukan nilai RQ sekitar 1,0 tapi, biji berbagai tumbuhan lebbih banyak mengandung lemak atau minyak yang kaya hydrogen dan rendah kandungan oksigen.
Koesien respirasi pada tanaman Jagung lebih rendah dari pada tanaman Kacang hijau, biasa disebabkan oleh perkecambahan yang kurang baik atau umur kecambah yang belum cukup umur sehingga pembentukan substrat, patinya rendah disebabkan umur kecembah.hal ini sesuai dengan literatur dari Salisbury dan Ross (1995) yan g menyatakan ,respirasi tergantung pada ketersediaan substrat, tanaman yang kelaparan , yang kandungan pati, fruktosa atau gulanya rendah. Tumbuhan sehat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan.Faktor yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat, keersediaan oksigen’ suhu, jenis dan umur tanaman.
Pada percobaan yang dilakukan, hasil KR pada kacang hijau dan jagung tidak mendekati 1 yaitu 0,6 dan 0,8 hal ini kemungkinan disebabkan Faktor – faktor yang dapat mempengarihi kecembah pada saat percobaan, atau kindusi pertumbuhan kecambah yang kurang optimum, sehingga menyebabkan hasil KR tidak sesuai pernyataan yang ada.hal ini sesuai literature dari Kumar and Singh (1997) yang menyatakan bahwa, Koisen respirasi itu benar – benar 1(satu),jika yang menjadi substrat itu gu;la (biasanya glukosa dan fruktosa), sedang gula itu mengalami oksidasi yang sempurna sampai memberikan hasil akhir CO2 dan H2O. Dalam praktek KR itu jarang kedapatan tepat 1, sebab banyak factor turut serta menentukan angka itu.
Pada perkecambahan Jagung dan Kacang hijau yang berada dalam labu Erlenmeyer awalnya kecambah berespirasi dengan O2 yang masih tertinggal didalam labu Erlenmeyer tersebut. Dan penumpahan NaOH setelah 10 menit, kecepatan respirasi akan bertambah karena NaOH bertindak sebagai katalisator yang mempercepat terjadinya respirasi dengan menggunakan O2 yang diambil dari meatyl blue.Hal ini menyebabkan meatyl blue naik pada pipa kapiler lebih cepat .
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Besar Koesien respirasi dari kecambah Jagung ( Zea mays ) adalah 0,68.
2. Besar Koesien respirasi dari Kacang hijau ( Phaseolus radiatus) adalah 0.88.
3. KR (Koisien Respirasi) dari Kacang hijau lebih besar dari KR Jagung.
4. Besarnya Va’ pada kecambah Jagung adalah 266,67 dan besarnya Vb’ kecambah Jagung adalah 829,87.
5. Besarnya Va’ pada kecambah Kacang hijau adalah 172,6 dan besarnya Vb’ kecambah Kacang hijau adalah 1484,33.
Saran
Diharapkan saat melakukan percobaan,sesuai dengan prosedur percobaan,dan dalam mengukurtinggi metyl blue harus betul – betul tept agar diperoleh hasl yang benar dan sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D., 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.
Fither, A.H and K.M,Hay., 1999. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan Sri Andi dan E.D Purbayanti.Gadjah Mada University Perss. Yogyakarta.
Fuller, J. Harry and Donald D. Ritchie. 1999. General Botany. Faifth Edition. Barnes and Nobel Books. New York
Goldsworthy, Peter. R and Fisher,N.M., 1990. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Terjemahan Tohari. Gadjah madha University
Perss. Bandung.
http:// m.s. wikipedia. org/ wiki/ respirasi sel/ . co. id.,2008. Diakses tanggal 13 September 2008
http:// www.Respirasi/ Biologi Sel/ .co. id., 2000. Diakses Tanggal 10 September 2000
http:// www.google .co.id/ USU. my. html/ Respirasi., 2008 diakses tanggal 21 Oktober 2008
Juwono dan A. Zulfa. J.,1993. Biologi Sel. Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta
Kumar, S and Singh, H.N., 1997. Plant Metabolismm. University Of Kentucky. USA
Mukreji, S and Gosh. A.k., 2001. Plant Physiology. Tata McGraw Hill
Publishing Company Limitted. New Delhi
Pradhan, S.. 2001. Plant Physiology. Har – anand Publication. Pvt. Itd.
New Delhi
Salisbury, Frank dan Ross, Cleon.w. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Kedua. Biokimia Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung
Sitompul, S.M dan Guritno, Bambang., 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Bandung
Sutarmi, S. T.,1990. Botani Umum. Penerbit Angkasa. Bandung
Winarno,F.G dan S. Ferdias. 1994. Biofermentasi dan Biosintesa Protein. Teknologi Hasil Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Penerbit Angkasa. Bandung.
Diposting oleh arenloveu di 10:57:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, koesien respirasi
koesien respirasi
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Respirasi harus berlangsung pada setiap sel yang hidup aktif untuk mempertahankan kehidupanya disamping timbuhan, binatang pun berespirasi. Perbedaan antara respirasi dengan pernapasan. Perlu dipahami sepenuhnya, terutama karena adanya pemakaian umum istilah respirasi yang disamakan denganpernapasan. Disini oksigen dan karbon dipertukarkan melalui permukaan membra yang halus (Winarno dan Srikandi, 1994).
Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O2 dan melepaskan CO2 dalam volume yang sama. Namun, seperti kita ketahui,respirasi lebih sekedar pertukaran gas secara sederhana., yaitu senyawa dioksida menjadi CO2. Sedangkan O2 yang diserap dioreduksi membentuk H2O (Fither and Hay, 1999).
Dari daur krebs akan keluar electron dan ion H+ yang dibawa sebagai (NADH + H+ + I elektron) dan FADH2+ sehingga dalam mitokondria (degan adanya siklus krebs yang dilanjutkan degan okisdasi melalui sistim pengangkutan electron) akan terbentuk air, sebagai hasil sampingan respirasi selain CO2. Produk sampingan respirasi tersebut pada tumbuhan dan melalui paru – paru pada peristiwa pernapasan. (http://www.respirasi.biologi sel.com, 2008)
Respirasi merupakan tindakan balas metabolisme dan proses yang berlaku dalam sel atau memutus membrane plsma untuk menghasilkan tenaga biokimia dari pada molekul bahan api dan pelepasan sisa – sisa sel. Tenaga dilepskan oloh pengoksidasian molekul bahan api dan disimpan sebagai pembawa “tinggi tenaga”. Tindak balas yang yang terlibat dalam respirasi ialah tinakan balas dalam metabolisme (http:// ms. wikipedia. org, 2008).
Respirasi aeorob ialah suatu proses pernapasan yang membutuhukan oksigen dari udara. Seperti telah diterangkan diatas, maka jika 1 gramol keksosa yang menjadi bahan bakar untuk dioksidakan oleh 6 Gram mol oksigen, maka akhir dari prose situ berupa 6 gram mol CO2 + 6 gram mol H2O + 675 Kal. (Goldsworthy dan Fisher, 1990).
Perbedaan spesies – spesies yang mempunyai acuan (pathway) C3 dan C4 (http : www. utm.usu.my, 2008)
1. Species C4 lebih pada Am mempunyai kadar Fs yang lebih tinggi dari C3 lebih – lebih dalam keadaan intensitas cahaya yang tinggi.
2. Tumbuhan C4 mugkin menggunakaqn lebih banyak tenaga dari pada C3 juga untuk mengikat CO2.
3. Perbedaan dalam adaptasi untuk C3 danC4 berbeda mekanisme menigkatkan CO2
4. Adanya perbedaan anatomi.
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan menentukan keofisien respirasi dari kecambah jagung (Zea mays) dan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus).
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah suatu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Sumatera Utera, Medan.
- Sebagai Informasi bagi pihak yang membutuhkan
TINJAUAN PUSTAKA
Suatu indeks untuk dapat menilai substrat yang digunakan dalam respirasi dalah koesien respirasi degan singkatan KR atau RQ (Respiration quetiont) yang diperoleh dari
RQ = Evolusi CO2 (mol/ konsumsi O2 mol)
Harga RQ = 1 untuk oksidasi karbohidrat, kurang dari 1 (0,7 – 0,8) untuk lipid dan mendekati satu untuk protein.Untuk lipid, hanya demikian adalah akibat senyawa ini lebih tereduksi dari karbohidrat yakni jumlah H lebih banyak dari O dalam molekulnya (Sitompul dan Guritno, 1995).
Kegunaan suhu rendah pada tempat dapat menurunkan kerja enzim – enzim respirasi .Hubungan antara respirasi serupa dengan hubungan antara suhu dan reaksi kimiawi. Pada kisaran suhu tertentu laju renspirasi meningkat dua taau tiga kali lipat dengan setiap kenaikan suhu 10 derajat sampai suhu diatas 37,8 C. (Sutarmi, dkk, 1990).
Nisbah CO2 terhadap ) O2 ini disebut koeisien respirasi RQ ,, sering hamper mendekati satu . Biji yang sedang berkecambah dari tumbuhan kacangan – kacangan yang mengandung pati sebagai cadangan makanan menunjukan nilai RQ sekitar 1,0 tapi, biji berbagai tumbuhan lebbih banyak mengandung lemak atau minyak yang kaya hydrogen dan rendah kandungan oksigen. Bila lemak 0,7 ,sebab cukup banyak oksigen diperlukan untuk mengubah hydrogen menjadi H2O dan mengubah hydrogen menjkadi CO2.( Salisbury dan Ross, 1995 )
Beberapa partikel glukosa yang berasal dri pati yang dioksidasi seluruhnya menjadi CO2 dan H2O. Molekul Glukosa lainya diubah menjadi molekul sukrosa didalam skutelum, dan kemudian diangkutkeakar dan batang yang sedang tumbuh, dan disitu sebagian terespirasi dan sebagian lagi diubahmenjadi bahan dinding sel,protein,dan bahan lainya yang bibutuhkan untuk pertumuhan kecambah. (Juwono dan Achmad,1993)
Pada umumnya respirasi selalu menggunakan oksigen (respirasi aeorob), tetapi beberapa sel dapat pula melakukan respirasi tanpa menggunakan oksigen dari luar tetapi menggunakan oksigen dari luar tetapi menggunakan bahan anorganik yang ada didalam substrat bahan – bahan anorganik ini bertindak sebagai aseptor electron terakhir. (Mukherji and Ghosh,2001)
Titik kompensasi suatu tanaman dipengruhi oleh temperature dan oleh faktor – faktor yang sebelumnya telah berpengaruh kepada tanaman yang diselidiki. Maka dapat kita simpulkan, bahwa suatu tanaman tidak mungkinmempertahankan diri dalam titik kompensasinya, ia memerlukan mininum cahaya yang diatas titik kompensasinya. (Pradhan, 2001)
Koisen respirasi itu benar – benar 1(satu),jika yang menjadi substrat itu gu;la (biasanya glukosa dan fruktosa), sedang gula itu mengalami oksidasi yang sempurna sampai memberikan hasil akhir CO2 dan H2O. Dalam praktek KRitu jarang kedapatan tepat 1, sebab banyak factor turut serta menentukan angka itu. (Kumar and Singh,1997)
Suatu hasil koesien respirasi dapat dilihat sesuai dengan banyaknya atom C dan atom O yang ada didalam persenyawaan organic an yang digunakan oleh tanaman sebagai substrat untuk di oksidasikan dalam respirasi, dapat kita berikan iktisar sebasi berikut :
Nama substrat jumlah C :O K.Respirasi CO2 : O2
Heksosa jml C= jml O 1,0
Protien jml C > jml O < 1,0 (0,8 – 0,9)
Lemak jml C > jml O < 1,0 (o,7)
As.Organik jml C < jml O > 1,0 (1,33)
(Dwidjoseputro, 1994)
Kekurangan O2 maupun kelebihan CO2 mempunyai efek yang segera tampak pada kegiatan respirasi biji – bijian, akar dan batang. Jika konsentrasi Co2 naik sampai 10 % dankonsentrasi O2 turun sampai 0%. Hal ini sering kali terjadi dalam tanah yang buruk ventilasinya makia respirasinya akan terhenti dan akan membewa segala akibatnya (Fuller and Donald, 1999).
Respirasi tergantung ppada ketersediaan substrat, tanaman yang kelaparan, yang kandungan pati, fruktosa atau gulanya rendah. Tumbuhan sehat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan.Faktor yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat, keersediaan oksigen’ suhu, jenis dan umur tanaman. ( Salisbury dan Ross, 1995 )
Pembahasan
Dari hasil peercobaan yang dilakukan diperoleh bahwa nilai KR dari kacang hijau lebih tinggi dari jagung. Dimana kacang hijau KR = 0,88 sedangkan Jagung KR = 0,68. ini dikarenakan kacang – kacangan mengandung pati dan rendah akan kandungan lemak atau minyak dimana lemak banyak mengandung hydrogen dan rendah akan oksigen sehingga proses respirasi lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan literatur dari Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa tumbuhan kacangan – kacangan yang mengandung pati sebagai cadangan makanan menunjukan nilai RQ sekitar 1,0 tapi, biji berbagai tumbuhan lebbih banyak mengandung lemak atau minyak yang kaya hydrogen dan rendah kandungan oksigen.
Koesien respirasi pada tanaman Jagung lebih rendah dari pada tanaman Kacang hijau, biasa disebabkan oleh perkecambahan yang kurang baik atau umur kecambah yang belum cukup umur sehingga pembentukan substrat, patinya rendah disebabkan umur kecembah.hal ini sesuai dengan literatur dari Salisbury dan Ross (1995) yan g menyatakan ,respirasi tergantung pada ketersediaan substrat, tanaman yang kelaparan , yang kandungan pati, fruktosa atau gulanya rendah. Tumbuhan sehat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan.Faktor yang mempengaruhi respirasi adalah ketersediaan substrat, keersediaan oksigen’ suhu, jenis dan umur tanaman.
Pada percobaan yang dilakukan, hasil KR pada kacang hijau dan jagung tidak mendekati 1 yaitu 0,6 dan 0,8 hal ini kemungkinan disebabkan Faktor – faktor yang dapat mempengarihi kecembah pada saat percobaan, atau kindusi pertumbuhan kecambah yang kurang optimum, sehingga menyebabkan hasil KR tidak sesuai pernyataan yang ada.hal ini sesuai literature dari Kumar and Singh (1997) yang menyatakan bahwa, Koisen respirasi itu benar – benar 1(satu),jika yang menjadi substrat itu gu;la (biasanya glukosa dan fruktosa), sedang gula itu mengalami oksidasi yang sempurna sampai memberikan hasil akhir CO2 dan H2O. Dalam praktek KR itu jarang kedapatan tepat 1, sebab banyak factor turut serta menentukan angka itu.
Pada perkecambahan Jagung dan Kacang hijau yang berada dalam labu Erlenmeyer awalnya kecambah berespirasi dengan O2 yang masih tertinggal didalam labu Erlenmeyer tersebut. Dan penumpahan NaOH setelah 10 menit, kecepatan respirasi akan bertambah karena NaOH bertindak sebagai katalisator yang mempercepat terjadinya respirasi dengan menggunakan O2 yang diambil dari meatyl blue.Hal ini menyebabkan meatyl blue naik pada pipa kapiler lebih cepat .
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Besar Koesien respirasi dari kecambah Jagung ( Zea mays ) adalah 0,68.
2. Besar Koesien respirasi dari Kacang hijau ( Phaseolus radiatus) adalah 0.88.
3. KR (Koisien Respirasi) dari Kacang hijau lebih besar dari KR Jagung.
4. Besarnya Va’ pada kecambah Jagung adalah 266,67 dan besarnya Vb’ kecambah Jagung adalah 829,87.
5. Besarnya Va’ pada kecambah Kacang hijau adalah 172,6 dan besarnya Vb’ kecambah Kacang hijau adalah 1484,33.
Saran
Diharapkan saat melakukan percobaan,sesuai dengan prosedur percobaan,dan dalam mengukurtinggi metyl blue harus betul – betul tept agar diperoleh hasl yang benar dan sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D., 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.
Fither, A.H and K.M,Hay., 1999. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan Sri Andi dan E.D Purbayanti.Gadjah Mada University Perss. Yogyakarta.
Fuller, J. Harry and Donald D. Ritchie. 1999. General Botany. Faifth Edition. Barnes and Nobel Books. New York
Goldsworthy, Peter. R and Fisher,N.M., 1990. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Terjemahan Tohari. Gadjah madha University
Perss. Bandung.
http:// m.s. wikipedia. org/ wiki/ respirasi sel/ . co. id.,2008. Diakses tanggal 13 September 2008
http:// www.Respirasi/ Biologi Sel/ .co. id., 2000. Diakses Tanggal 10 September 2000
http:// www.google .co.id/ USU. my. html/ Respirasi., 2008 diakses tanggal 21 Oktober 2008
Juwono dan A. Zulfa. J.,1993. Biologi Sel. Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta
Kumar, S and Singh, H.N., 1997. Plant Metabolismm. University Of Kentucky. USA
Mukreji, S and Gosh. A.k., 2001. Plant Physiology. Tata McGraw Hill
Publishing Company Limitted. New Delhi
Pradhan, S.. 2001. Plant Physiology. Har – anand Publication. Pvt. Itd.
New Delhi
Salisbury, Frank dan Ross, Cleon.w. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Kedua. Biokimia Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung
Sitompul, S.M dan Guritno, Bambang., 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Bandung
Sutarmi, S. T.,1990. Botani Umum. Penerbit Angkasa. Bandung
Winarno,F.G dan S. Ferdias. 1994. Biofermentasi dan Biosintesa Protein. Teknologi Hasil Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Penerbit Angkasa. Bandung.
Diposting oleh arenloveu di 10:57:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, koesien respirasi
inisiasi akar
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Stek adalah mengusahakan perakaran dan bagian tanaman ( cabang daun ) dari induknya untuk ditanam. Pada umumnya sebelum tanaman stek ditanam atau disesuaikan dahulu pada medium stek yang terdiri dari campuran pasir dan tanah. Ada bagian lain dari suatu tanaman yang bias digunakan atau diperbanyak dengan jalan vegetatif ( Ashari, 1995 ).
Seperti halnya mencangkok, dan perbanyakan dengan cara stek ini juga diperoleh tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. Sifat ini meliputi ketahanan terhadap serangan penyakit. Rasa buah, warna dan keindahan bunga dan sebagainya. Tetapi bila dibandingkan dengan cangkokan, tek mempunyai kelebihan. Kalau cangkok memerlukan bantuan pohon induk untuk menumbuhkan akar – akarnya sampai mampu berdiri sendiri, tapi stek tidak demikian. Stek dengan kekuatannya sendiri akan menambahkan akar dan daun sampai menjadi tanaman sempurna d an mampu menghasilkan bunga dan buah ( Wudianto, 1998 ).
Media stek harus selalu dijaga kelembabannya. Stek dalam wadah, tingkat kelembaban medianya bias dilihat dari titik – titik air yang menempel pada plastik atau kaca penutupnya. Tidak danya titik air pada tempat itu menandakan bahwa media telah kering. Cara mengatasinya dengan menyirami media ( Sutedjo, 2002 ).
Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan daun sampai menjadi tanaman sederhana dan mampu menghasilkan buah dan bunga. Pada stek juga diperoleh tanaman baru yang mempunyai stek seperti induknya. Sifat ini meliputi ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa buah, warna dan keindahan bunga. Hormon yang ada pada tanaman itu, jumlahnya sangat sedikit, maka perlu ditambah, agar pertumbuhan tanaman lebih cepat ( Lakitan, 1994 ).
Fungsi sistem akar yang paling nyata adalah untuk mendukung tumbuhan secara kukuh dalam tanah. Walaupun demikian, bila suatu tanaman dicabut, kebanyakan akar – akar halus tertinggal dalam tanah. Dari pandangan mekanik sistem akar akan lebih spesifik kalau akar pokok lebih kuat dan jumlah cabang harus dikurangi ( Sutedjo, 2002 ).
Stek dapat dilakukan dengan menggunakan bagian – bagian tumbuhan seperti batang, daun, akar sampai cabang suatu tanaman, sehingga stek terbagi menjadi stek akar, stek cabang, stek daun dan stek umbi dan sebagainya. Sebagian orang menyebut stek cabang dengan stek kaya, karena umumnya tanaman yang dikembang biakkan dengan cabang ini adalah tanaman yang berkaya. Cara pengembangan vegetatif dengan stek daun banyak diterapkan pada tanaman hias, terutama tanaman hias yang sekunder, daunnya berdaging dan kandungan airnya tinggi. Daun yang dipilih untuk stek ini harus yang telah cukup umurnya, dengan itu daun memiliki karbohidrat yang tinggi ( Sunaryono, 1990 ).
Sebelum praktek membuat stek perlu disadari bahwa tidak setiap jenis tanaman mudah di stek. Dikenal tiga jenis stek yang umumnya dipakai yaitu ; stek lunak ; stek setengah lunak ; stek keras ( Prawiranata, 1981 ).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan Inisiasi akar adalah untuk mengetahui pertumbuhan stek tanaman Mawar ( Rosa sp) pada konsentrasi zat pengatur tumbuhan yang berbeda.
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak – pihak yang membutuhkan
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rukmana ( 1997 ) mawar merupakan bunga hias berupa herba dengan batang berduri yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Familia : Rosaceae
Genus : Rosa
Spesies : Rosa sp
Mawar adalah semak dari genus Rosa sekaligus bunga yang dihasilkan tanaman ini . Rosa sp ( mawar ) memiliki akar tunggang yang dapat memanjat hingga dua sampai lima meter ( Lakitan, 1994 ).
Batang bunga mawar pada umumnya memiliki dari berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat ditanaman lebih bisa mencapai 20 meter ( Prihmantoro, 1997 ).
Rosa sp terdiri dari lima helai daun mahkota dengan Rosa cericea yang hanya memiliki empat helai daun mahkota. Sebagian spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5 – 15 cm, dua – dua berlawanan. Daun majemuk dari setiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit tiga atau lima hingga sembilan atau tiga belas anak daun dan daun penumpu ( stipula ) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi bergerigi, meruncing pada ujung daun ( Prawiranata, 1981 ).
Bunga menghasilkan buah agregat ( berkembang dari satu bunga dengan bunga putik ) yang disebut Rosa hips. Masing – masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal, sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar ( Lakitan, 1994 ).
Warna bunga biasanya putih, dan merah jambu, atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Bunga biasanya terletak di ujung cabang atau batang, kadang tersusun dalam kelopak, kelopak bentuk segitiga, berbulu, panjang ± 1 cm. Mahkota berbentuk dual asimetris, panjang 2 – 4 cm dan halus ( Dwidjosepoetro, 1986 ).
Bunga mawar memiliki buah berbentuk seperti buah buni, bila masak bewarna hitam, berlekuk dan berbiji yang berjumlah 1 - 2 biji dalam satu buah ( Gardner, dkk, 1991 ).
Syarat Tumbuh
Iklim
Angin tidak mempengaruhi dalam pertumbuhan bunga mawar. Sedangkan untuk curah hujan, bagi pertumbuhan bunga mawar yang baik adalah 1500 – 3000 mm / tahun. Memerlukan sinar matahari 5 – 6 jam per hari. Di daerah cukup sinar matahari, mawar akan rajin dan lebih cepat berbunga serta berbatang kokoh. Sinar matahari pagi lebih baik dari pada sinar matahari sore, yang menyebabkan pengeringan tanaman ( Fisher and Peter, 1984 ).
Tanaman mawar mempunyai daya adaptasi sangat luas terhadap lingkungan hidup / tumbuh, dapat ditanam di daerah beriklim sub-tropis / dingin maupun di daerah tropis / panas. Suhu udara 18 – 25 ˚C dan kelembaban 70 – 80 % ( Fisher and Peter, 1984 ).
Tanah
Penanaman dilakukan secara langsung pada tanah secara permanen di kebun atau di dalam pot. Tanaman mawar cocok pada tanah liat berpasir ( kandungan liat 20 – 30 % ), subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik ( Gardner, dkk, 1991 ).
Pada tanah latosol, endosol memiliki sifat fisik dan kesuburan tanah yang cukup baik ( Prihmantoro, 1997 ).
Derajat keasaman tanah yang ideal adalah pH = 5,5 – 7,0. Pada tanah asam ( pH = 5,8 ) perlu pengapuran kapur dolomit, Calcit ataupun Zeagro dosis 4 – 5 ton / hektar.Pemberian kapur bertujuan untuk menaikkan pH tanah, menambah unsur – unsur Ca dan Mg, memperbaiki kehidupan mikroorganisme, memperbaiki bintil – bintil akar, mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al, serta menambah ketersediaan unsur – unsur P dan Mo. Tanah berpori – pori sangat dibutuhkan oleh akar mawar ( Fahn, 1991 ).
Media Tanam
Tumbuhan yang umumnya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan. Tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kandungan humus yang tinggi dan tata air cukup, mulai dari ketinggian 200 m -1800 m di atas permukaan laut ( Lakitan, 1994 ).
Untuk menghindari kelebihan air dalam pot, maka dasar pot diberi lubang dan sebelum media itu di masukkan ke dalam pot lebih baik dasar pot diberi pecahan genting atau koral ( Rukmana, 1997 ).
Banyak media yang dapat digunakan untuk menyesuaikan stek ini asalkan gembur dan halus sehingga akar yang baru keluar tidak terhalang pertumbuhannya ( Fisher and Peter, 1984).
ZPT IBA
Rootone F adalah salah satu contoh ZPT yang berbentuk tepung. Cara pemakaiannya yaitu dengan membasahi lebih dulu pangkal stek kurang lebih 2 cm, lalu dicelupkan ke dalam ZPT ( Salisbury dan Ross, 1995 ).
Bila sewaktu akan menyemaikan stek tadi, kita tidak menggunakan ZPT, maka ZPT bisa diberikan pada saat stek telah disemaikan. ZPT ini berfungsi untuk memperbaiki pertumbuhan batang dan tunas ( Prihmantoro, 1997 ) .
IBA ( Indol Butirat ) dapat aktif pada konsentrasi yang sangat kecil. Akan lateral juga dipengaruhi auksin dan pemakaian zat – zat pendorong akar. IAA dibagi menjadi IBA, NAA, dan Alkohol ( Devlin and Witham, 1985 ).
C3H6COOH
N
H
( Salisbury dan Ross, 1990 ).
Kelebihan ZPT IBA :
- Meningkatkan produksi bunga
- Meningkatkan jumlah tunas
Kekurangan ZPT IBA :
- Tidak dapat bekerja / aktif pada konsentrasi tinggi
( Pardey and Sinha, 2002 ).
Inisiasi Akar
Stek adalah suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian dari tanaman ( akar, batang, daun, dan tunas ) dengan tujuan agar bagian – bagian itu membentuk akar, dengan dasar itu muncullah istilah stek akar, stek batang, stek daun, dan stek umbi ( Pardey and Sinha, 2002 ).
Salah satu syarat untuk melakukan stek agar pertumbuhan tanaman bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna kehijauan, karena cabang ini memiliki kandungan nitrogen dan karbohidrat yang tinggi sehingga mempercepat pertumbuhannya yang ditandai dengan tumbuhnya bagian – bagian baru dari tanaman ( Devlin and Witham, 1983 ).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Departemen Budidaya Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian ± 25 m dpl. Percobaan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 7 September 2007.
Bahan dan Alat
Bahan yang di gunakan pada percobaan yaitu Mawar sebagai objek percobaan, top soil dan pasir dengan komposisi 2 : 1 yang digunakan sebagai media tanam, polibeg sebagai tempat media tanam, plastik untuk menutup atau menyungkup batang tanaman, tali plastik untuk mengikat plastik dengan polibeg, label nama untuk menulis perlakuan kosentrasi.
Alat yang digunakan yaitu gunting sebagai alat potong, meteran sebagai alat ukur panjang / tinggi, gelas beaker sebagai tempat rootone, timbangan untuk mengukur berat, alat tulis untuk menulis hasi di buku data, dan buku data sebagai tempat untuk menuliskan hasil.
Prosedur Percobaan
- Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda sepanjang ± 30 cm
- Direndam cabang bagian bawah dalam larutan rootone F, masing – masing 0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, dan 1500 ppm selama ± 5 menit
- Diisi media ke dalam polibeg yaitu campuran top soil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 lalu disiram dengan air
- Ditanam tanaman, disiram sedikit air, lalu tanaman disungkup dengan plastik transparan lalu diikat dengan tali plastik
- Amati pertumbuhan tanaman setiap minggu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Melati
1.1 Berdasarkan Jumlah Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 6 4 5 1 2 1,5 2 2 2 3 2 2,5
27/09-07 6 4 5 2 2 2 4 3 3,5 3 2 2,5
4/10-07 6 2 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
11/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
18/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
25/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
1.2 Berdasarkan Tinggi Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 0,7 1,5 1,1 2,5 2,25 2,37 2,5 2,5 2,5 2,3 2,4 2,4
27/09-07 0,95 2 1,95 3 2,5 2,75 2 2,5 2,25 3,5 3,25 3,375
4/10-07 3 6 4,5 3,5 3 3,25 4 2,5 3,25 4 3,5 3,25
11/10-07 3,5 6 4,75 4 4 4 4 3 3,5 5,8 7,2 6,5
18/10-07 4 6,4 5,2 4,25 5,25 4,75 4,5 3,5 4 7,1 10,25 8,6
25/10-07 5 6,7 5,85 4,5 7 5,25 4,5 3,5 4 8 12 10
2. Mawar
2.1 Berdasarkan Jumlah Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 2 1 1,5 0 5 2,5 0 2 1 2 0 1
27/09-07 3 6 4,5 3 5 4 1 3 2 0 0 0
4/10-07 1 1 1 3 2 2,5 3 1 2 0 0 0
11/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
18/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
25/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
2.2 Berdasarkan Tinggi Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 1,85 3 2,4 0 1,2 0,05 0 1,2 0,6 0 0 0
27/09-07 3 6 4,5 0 3 1,5 0,5 2 1,25 0 0 0
4/10-07 5,5 7,5 6,5 2 3,5 2,75 1,5 6 3,75 0 0 0
11/10-07 6 10 8 4 4,5 4,25 2 4 3 0 0 0
18/10-07 7 14 10,5 5,5 6 5,75 4 4,2 4,1 0 0 0
25/10-07 9 18 13,5 6 6,8 6,4 7,3 4,5 5,9 0 0 0
Pembahasan
Dalam percobaan yang dilakukan, pada perlakuan kontrol, pertambahan panjang tunas maupun jumlah tunas dari mawar dan melati akan bertambah. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan pemotongan untuk setek, bahan yang digunakan adalah bagian tanaman yang sehat seperti cabang yaitu cabang yang masih berwarna hijau yang banyak mengandung N dan CO2. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (1994) yang menyatakan bahwa salah satu syarat untuk melakukan setek agar pertumbuhan tanaman bagus adalah memiliki bagian tumbuhan yang bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna hijau karena cabang ini mengandung N dan CO2 yang tinggi sehingga mempercepat pertumbuhannya yang ditandai tumbuhnya akar.
Dalam percobaan ini digunakan stek batang yaitu dari batang tanaman
mawar dan batang tanaman melati, stek batang yang digunakan adalah bagian batang yang masih berwarna hijau. Hal ini sesuai dengan literature Lakitan (1994) yang mengatakan bahwa salah satu satu syarat untuk melakukan setek agar pertumbuhan tanaman bagus adalah memiliki bagian tumbuhan yang bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna hijau karena cabang ini mengandung N dan CO2 yang tinggi,sehingga mempercepat pertumbuhanyang akar.
Pada percobaan dengan komoditi mawar dengan parameter panjang tunas dan perlakuan 1000 ppm tidak akan mengalami pertumbuhan. Hal ini disebabkan konsentrasi zat pengatur jumlah yang terlalu besar akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan sperti inhibitor. Hal ini sesuai dengan Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
Pada percobaan dengan parameter panjang tunas untuk komoditi melati memiliki panjang tunas yang paling panjang adalah dengan perlakuan 500 ppm. Hal ini disebabkan karena larutan ZPT dalam konsentrasi rendah akan mempercepat proses pertumbuhan bunga melati tersebut. Hal ini sesuai dengan literature Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
Pada percobaan dengan komoditi mawar dengan parameter panjang tunas
dan perlakuan 1500 ppm tidak mengalami pertumbuhan. Hal ini disebabkan konsentrasi zat pengatur jumlah yang terlalu besar akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan seperti inhibitor. Hal ini sesuai dengan literature Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pasa perlakuan konsentrasi 1500 ppm akar mengalami pertumbuhan lebih lambat bahkan 0.
2. Pada komoditi melati dengan parameter jumlah tunas paling sedikit ada pada perlakuan 500 ppm yaitu berjumlah 1,5.
3. Pada komoditi melati dengan parameter jumlah tunas paling besar ada pada perlakuan kontrol yaitu berjumlah 5.
4. Pada komoditi mawar dengan parameter jumlah tunas paling sedikit ada pada perlakuan 1500 ppm yaitu berjumlah 0.
5. Pada komoditi mawar dengan parameter jumlah tunas paling banyak ada pada perlakuan kontrol yaitu berjumlah 4,5.
Saran
Sebaiknya pada waktu pengambilan data lebih baik dilakukan dengan hati hati.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI – Press. Jakarta.
Devlin, R. M dan F. H Witham. 1983. Physiology of Tropical Wadsworth.
Publishing Company. California.
Dwidjosepoetro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Gramedia. Jakarta.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. UGM – Press. Yogyakarta.
Fisher, N. M dan R. S. Peter. 1984. Physiology of Tropical Field Groups.
John Wiley and Sons. New York.
Gardner, F. P; Pearce R. B.; Mitchel R. L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI – Press. Jakarta.
Lakitan, B. 1994. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Pardey, S. N and B. K. Sinha. 2002. Plant Physiology. Vikas Publishing House.
Kampur
Prawiranata. 1981. Tanaman Hijau Daun. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prihmantoro, H. 1997. Tanaman Hias Daun. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana, R. 1997. Usaha Tani Melati. Karnisius. Yogyakarta.
Salisbury, F. B and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB – Press. Bandung.
Sunaryono. 1990. Hormon Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.
Sutedjo. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Wudianto, R. 1998. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Diposting oleh arenloveu di 10:52:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, inisiasi akar
inisiasi akar
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Stek adalah mengusahakan perakaran dan bagian tanaman ( cabang daun ) dari induknya untuk ditanam. Pada umumnya sebelum tanaman stek ditanam atau disesuaikan dahulu pada medium stek yang terdiri dari campuran pasir dan tanah. Ada bagian lain dari suatu tanaman yang bias digunakan atau diperbanyak dengan jalan vegetatif ( Ashari, 1995 ).
Seperti halnya mencangkok, dan perbanyakan dengan cara stek ini juga diperoleh tanaman baru yang mempunyai sifat seperti induknya. Sifat ini meliputi ketahanan terhadap serangan penyakit. Rasa buah, warna dan keindahan bunga dan sebagainya. Tetapi bila dibandingkan dengan cangkokan, tek mempunyai kelebihan. Kalau cangkok memerlukan bantuan pohon induk untuk menumbuhkan akar – akarnya sampai mampu berdiri sendiri, tapi stek tidak demikian. Stek dengan kekuatannya sendiri akan menambahkan akar dan daun sampai menjadi tanaman sempurna d an mampu menghasilkan bunga dan buah ( Wudianto, 1998 ).
Media stek harus selalu dijaga kelembabannya. Stek dalam wadah, tingkat kelembaban medianya bias dilihat dari titik – titik air yang menempel pada plastik atau kaca penutupnya. Tidak danya titik air pada tempat itu menandakan bahwa media telah kering. Cara mengatasinya dengan menyirami media ( Sutedjo, 2002 ).
Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan daun sampai menjadi tanaman sederhana dan mampu menghasilkan buah dan bunga. Pada stek juga diperoleh tanaman baru yang mempunyai stek seperti induknya. Sifat ini meliputi ketahanan terhadap serangan penyakit, rasa buah, warna dan keindahan bunga. Hormon yang ada pada tanaman itu, jumlahnya sangat sedikit, maka perlu ditambah, agar pertumbuhan tanaman lebih cepat ( Lakitan, 1994 ).
Fungsi sistem akar yang paling nyata adalah untuk mendukung tumbuhan secara kukuh dalam tanah. Walaupun demikian, bila suatu tanaman dicabut, kebanyakan akar – akar halus tertinggal dalam tanah. Dari pandangan mekanik sistem akar akan lebih spesifik kalau akar pokok lebih kuat dan jumlah cabang harus dikurangi ( Sutedjo, 2002 ).
Stek dapat dilakukan dengan menggunakan bagian – bagian tumbuhan seperti batang, daun, akar sampai cabang suatu tanaman, sehingga stek terbagi menjadi stek akar, stek cabang, stek daun dan stek umbi dan sebagainya. Sebagian orang menyebut stek cabang dengan stek kaya, karena umumnya tanaman yang dikembang biakkan dengan cabang ini adalah tanaman yang berkaya. Cara pengembangan vegetatif dengan stek daun banyak diterapkan pada tanaman hias, terutama tanaman hias yang sekunder, daunnya berdaging dan kandungan airnya tinggi. Daun yang dipilih untuk stek ini harus yang telah cukup umurnya, dengan itu daun memiliki karbohidrat yang tinggi ( Sunaryono, 1990 ).
Sebelum praktek membuat stek perlu disadari bahwa tidak setiap jenis tanaman mudah di stek. Dikenal tiga jenis stek yang umumnya dipakai yaitu ; stek lunak ; stek setengah lunak ; stek keras ( Prawiranata, 1981 ).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan Inisiasi akar adalah untuk mengetahui pertumbuhan stek tanaman Mawar ( Rosa sp) pada konsentrasi zat pengatur tumbuhan yang berbeda.
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak – pihak yang membutuhkan
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rukmana ( 1997 ) mawar merupakan bunga hias berupa herba dengan batang berduri yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Familia : Rosaceae
Genus : Rosa
Spesies : Rosa sp
Mawar adalah semak dari genus Rosa sekaligus bunga yang dihasilkan tanaman ini . Rosa sp ( mawar ) memiliki akar tunggang yang dapat memanjat hingga dua sampai lima meter ( Lakitan, 1994 ).
Batang bunga mawar pada umumnya memiliki dari berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat ditanaman lebih bisa mencapai 20 meter ( Prihmantoro, 1997 ).
Rosa sp terdiri dari lima helai daun mahkota dengan Rosa cericea yang hanya memiliki empat helai daun mahkota. Sebagian spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5 – 15 cm, dua – dua berlawanan. Daun majemuk dari setiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit tiga atau lima hingga sembilan atau tiga belas anak daun dan daun penumpu ( stipula ) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi bergerigi, meruncing pada ujung daun ( Prawiranata, 1981 ).
Bunga menghasilkan buah agregat ( berkembang dari satu bunga dengan bunga putik ) yang disebut Rosa hips. Masing – masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal, sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar ( Lakitan, 1994 ).
Warna bunga biasanya putih, dan merah jambu, atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Bunga biasanya terletak di ujung cabang atau batang, kadang tersusun dalam kelopak, kelopak bentuk segitiga, berbulu, panjang ± 1 cm. Mahkota berbentuk dual asimetris, panjang 2 – 4 cm dan halus ( Dwidjosepoetro, 1986 ).
Bunga mawar memiliki buah berbentuk seperti buah buni, bila masak bewarna hitam, berlekuk dan berbiji yang berjumlah 1 - 2 biji dalam satu buah ( Gardner, dkk, 1991 ).
Syarat Tumbuh
Iklim
Angin tidak mempengaruhi dalam pertumbuhan bunga mawar. Sedangkan untuk curah hujan, bagi pertumbuhan bunga mawar yang baik adalah 1500 – 3000 mm / tahun. Memerlukan sinar matahari 5 – 6 jam per hari. Di daerah cukup sinar matahari, mawar akan rajin dan lebih cepat berbunga serta berbatang kokoh. Sinar matahari pagi lebih baik dari pada sinar matahari sore, yang menyebabkan pengeringan tanaman ( Fisher and Peter, 1984 ).
Tanaman mawar mempunyai daya adaptasi sangat luas terhadap lingkungan hidup / tumbuh, dapat ditanam di daerah beriklim sub-tropis / dingin maupun di daerah tropis / panas. Suhu udara 18 – 25 ˚C dan kelembaban 70 – 80 % ( Fisher and Peter, 1984 ).
Tanah
Penanaman dilakukan secara langsung pada tanah secara permanen di kebun atau di dalam pot. Tanaman mawar cocok pada tanah liat berpasir ( kandungan liat 20 – 30 % ), subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik ( Gardner, dkk, 1991 ).
Pada tanah latosol, endosol memiliki sifat fisik dan kesuburan tanah yang cukup baik ( Prihmantoro, 1997 ).
Derajat keasaman tanah yang ideal adalah pH = 5,5 – 7,0. Pada tanah asam ( pH = 5,8 ) perlu pengapuran kapur dolomit, Calcit ataupun Zeagro dosis 4 – 5 ton / hektar.Pemberian kapur bertujuan untuk menaikkan pH tanah, menambah unsur – unsur Ca dan Mg, memperbaiki kehidupan mikroorganisme, memperbaiki bintil – bintil akar, mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al, serta menambah ketersediaan unsur – unsur P dan Mo. Tanah berpori – pori sangat dibutuhkan oleh akar mawar ( Fahn, 1991 ).
Media Tanam
Tumbuhan yang umumnya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan. Tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kandungan humus yang tinggi dan tata air cukup, mulai dari ketinggian 200 m -1800 m di atas permukaan laut ( Lakitan, 1994 ).
Untuk menghindari kelebihan air dalam pot, maka dasar pot diberi lubang dan sebelum media itu di masukkan ke dalam pot lebih baik dasar pot diberi pecahan genting atau koral ( Rukmana, 1997 ).
Banyak media yang dapat digunakan untuk menyesuaikan stek ini asalkan gembur dan halus sehingga akar yang baru keluar tidak terhalang pertumbuhannya ( Fisher and Peter, 1984).
ZPT IBA
Rootone F adalah salah satu contoh ZPT yang berbentuk tepung. Cara pemakaiannya yaitu dengan membasahi lebih dulu pangkal stek kurang lebih 2 cm, lalu dicelupkan ke dalam ZPT ( Salisbury dan Ross, 1995 ).
Bila sewaktu akan menyemaikan stek tadi, kita tidak menggunakan ZPT, maka ZPT bisa diberikan pada saat stek telah disemaikan. ZPT ini berfungsi untuk memperbaiki pertumbuhan batang dan tunas ( Prihmantoro, 1997 ) .
IBA ( Indol Butirat ) dapat aktif pada konsentrasi yang sangat kecil. Akan lateral juga dipengaruhi auksin dan pemakaian zat – zat pendorong akar. IAA dibagi menjadi IBA, NAA, dan Alkohol ( Devlin and Witham, 1985 ).
C3H6COOH
N
H
( Salisbury dan Ross, 1990 ).
Kelebihan ZPT IBA :
- Meningkatkan produksi bunga
- Meningkatkan jumlah tunas
Kekurangan ZPT IBA :
- Tidak dapat bekerja / aktif pada konsentrasi tinggi
( Pardey and Sinha, 2002 ).
Inisiasi Akar
Stek adalah suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian dari tanaman ( akar, batang, daun, dan tunas ) dengan tujuan agar bagian – bagian itu membentuk akar, dengan dasar itu muncullah istilah stek akar, stek batang, stek daun, dan stek umbi ( Pardey and Sinha, 2002 ).
Salah satu syarat untuk melakukan stek agar pertumbuhan tanaman bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna kehijauan, karena cabang ini memiliki kandungan nitrogen dan karbohidrat yang tinggi sehingga mempercepat pertumbuhannya yang ditandai dengan tumbuhnya bagian – bagian baru dari tanaman ( Devlin and Witham, 1983 ).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Departemen Budidaya Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian ± 25 m dpl. Percobaan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 7 September 2007.
Bahan dan Alat
Bahan yang di gunakan pada percobaan yaitu Mawar sebagai objek percobaan, top soil dan pasir dengan komposisi 2 : 1 yang digunakan sebagai media tanam, polibeg sebagai tempat media tanam, plastik untuk menutup atau menyungkup batang tanaman, tali plastik untuk mengikat plastik dengan polibeg, label nama untuk menulis perlakuan kosentrasi.
Alat yang digunakan yaitu gunting sebagai alat potong, meteran sebagai alat ukur panjang / tinggi, gelas beaker sebagai tempat rootone, timbangan untuk mengukur berat, alat tulis untuk menulis hasi di buku data, dan buku data sebagai tempat untuk menuliskan hasil.
Prosedur Percobaan
- Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda sepanjang ± 30 cm
- Direndam cabang bagian bawah dalam larutan rootone F, masing – masing 0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, dan 1500 ppm selama ± 5 menit
- Diisi media ke dalam polibeg yaitu campuran top soil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 lalu disiram dengan air
- Ditanam tanaman, disiram sedikit air, lalu tanaman disungkup dengan plastik transparan lalu diikat dengan tali plastik
- Amati pertumbuhan tanaman setiap minggu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Melati
1.1 Berdasarkan Jumlah Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 6 4 5 1 2 1,5 2 2 2 3 2 2,5
27/09-07 6 4 5 2 2 2 4 3 3,5 3 2 2,5
4/10-07 6 2 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
11/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
18/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
25/10-07 4 4 4 2 2 2 2 3 2,5 3 2 2,5
1.2 Berdasarkan Tinggi Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 0,7 1,5 1,1 2,5 2,25 2,37 2,5 2,5 2,5 2,3 2,4 2,4
27/09-07 0,95 2 1,95 3 2,5 2,75 2 2,5 2,25 3,5 3,25 3,375
4/10-07 3 6 4,5 3,5 3 3,25 4 2,5 3,25 4 3,5 3,25
11/10-07 3,5 6 4,75 4 4 4 4 3 3,5 5,8 7,2 6,5
18/10-07 4 6,4 5,2 4,25 5,25 4,75 4,5 3,5 4 7,1 10,25 8,6
25/10-07 5 6,7 5,85 4,5 7 5,25 4,5 3,5 4 8 12 10
2. Mawar
2.1 Berdasarkan Jumlah Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 2 1 1,5 0 5 2,5 0 2 1 2 0 1
27/09-07 3 6 4,5 3 5 4 1 3 2 0 0 0
4/10-07 1 1 1 3 2 2,5 3 1 2 0 0 0
11/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
18/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
25/10-07 2 1 1,5 2 2 2 3 1 2 0 0 0
2.2 Berdasarkan Tinggi Tunas
Tangal
Penga-
matan Perlakuan (PPM)
Kontrol 500 1000 1500
1 2 x
1 2 x
1 2 x
1 2 x
20/09-07 1,85 3 2,4 0 1,2 0,05 0 1,2 0,6 0 0 0
27/09-07 3 6 4,5 0 3 1,5 0,5 2 1,25 0 0 0
4/10-07 5,5 7,5 6,5 2 3,5 2,75 1,5 6 3,75 0 0 0
11/10-07 6 10 8 4 4,5 4,25 2 4 3 0 0 0
18/10-07 7 14 10,5 5,5 6 5,75 4 4,2 4,1 0 0 0
25/10-07 9 18 13,5 6 6,8 6,4 7,3 4,5 5,9 0 0 0
Pembahasan
Dalam percobaan yang dilakukan, pada perlakuan kontrol, pertambahan panjang tunas maupun jumlah tunas dari mawar dan melati akan bertambah. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan pemotongan untuk setek, bahan yang digunakan adalah bagian tanaman yang sehat seperti cabang yaitu cabang yang masih berwarna hijau yang banyak mengandung N dan CO2. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (1994) yang menyatakan bahwa salah satu syarat untuk melakukan setek agar pertumbuhan tanaman bagus adalah memiliki bagian tumbuhan yang bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna hijau karena cabang ini mengandung N dan CO2 yang tinggi sehingga mempercepat pertumbuhannya yang ditandai tumbuhnya akar.
Dalam percobaan ini digunakan stek batang yaitu dari batang tanaman
mawar dan batang tanaman melati, stek batang yang digunakan adalah bagian batang yang masih berwarna hijau. Hal ini sesuai dengan literature Lakitan (1994) yang mengatakan bahwa salah satu satu syarat untuk melakukan setek agar pertumbuhan tanaman bagus adalah memiliki bagian tumbuhan yang bagus dan sehat seperti pada cabang yaitu cabang yang berwarna hijau karena cabang ini mengandung N dan CO2 yang tinggi,sehingga mempercepat pertumbuhanyang akar.
Pada percobaan dengan komoditi mawar dengan parameter panjang tunas dan perlakuan 1000 ppm tidak akan mengalami pertumbuhan. Hal ini disebabkan konsentrasi zat pengatur jumlah yang terlalu besar akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan sperti inhibitor. Hal ini sesuai dengan Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
Pada percobaan dengan parameter panjang tunas untuk komoditi melati memiliki panjang tunas yang paling panjang adalah dengan perlakuan 500 ppm. Hal ini disebabkan karena larutan ZPT dalam konsentrasi rendah akan mempercepat proses pertumbuhan bunga melati tersebut. Hal ini sesuai dengan literature Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
Pada percobaan dengan komoditi mawar dengan parameter panjang tunas
dan perlakuan 1500 ppm tidak mengalami pertumbuhan. Hal ini disebabkan konsentrasi zat pengatur jumlah yang terlalu besar akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan seperti inhibitor. Hal ini sesuai dengan literature Pardey and Sinha (2002) yang mengatakan bahwa kelebiahn ZPT akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti inhibitor sedangkan ZPT yang diberikan secara tepat sesuai dosis akan mempercepat proses pertumbuhan suatu tanaman.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pasa perlakuan konsentrasi 1500 ppm akar mengalami pertumbuhan lebih lambat bahkan 0.
2. Pada komoditi melati dengan parameter jumlah tunas paling sedikit ada pada perlakuan 500 ppm yaitu berjumlah 1,5.
3. Pada komoditi melati dengan parameter jumlah tunas paling besar ada pada perlakuan kontrol yaitu berjumlah 5.
4. Pada komoditi mawar dengan parameter jumlah tunas paling sedikit ada pada perlakuan 1500 ppm yaitu berjumlah 0.
5. Pada komoditi mawar dengan parameter jumlah tunas paling banyak ada pada perlakuan kontrol yaitu berjumlah 4,5.
Saran
Sebaiknya pada waktu pengambilan data lebih baik dilakukan dengan hati hati.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI – Press. Jakarta.
Devlin, R. M dan F. H Witham. 1983. Physiology of Tropical Wadsworth.
Publishing Company. California.
Dwidjosepoetro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Gramedia. Jakarta.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. UGM – Press. Yogyakarta.
Fisher, N. M dan R. S. Peter. 1984. Physiology of Tropical Field Groups.
John Wiley and Sons. New York.
Gardner, F. P; Pearce R. B.; Mitchel R. L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
UI – Press. Jakarta.
Lakitan, B. 1994. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Pardey, S. N and B. K. Sinha. 2002. Plant Physiology. Vikas Publishing House.
Kampur
Prawiranata. 1981. Tanaman Hijau Daun. Penebar Swadaya. Jakarta.
Prihmantoro, H. 1997. Tanaman Hias Daun. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana, R. 1997. Usaha Tani Melati. Karnisius. Yogyakarta.
Salisbury, F. B and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB – Press. Bandung.
Sunaryono. 1990. Hormon Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.
Sutedjo. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Wudianto, R. 1998. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Diposting oleh arenloveu di 10:52:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, inisiasi akar
inisiasi akar
INISIASI AKAR
LAPORAN
Oleh:
BRAM ARDA BINTARIO BANGUN / 070301036
STHEFANI MELKASARI / 070301065
BUDIDAYA PERTANIAN – AGRONOMI
IV / 13
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008
INISIASI AKAR
LAPORAN
Oleh:
BRAM ARDA BINTARIO BANGUN / 070301036
STHEFANI MELKASARI / 070301065
BUDIDAYA PERTANIAN – AGRONOMI
IV / 13
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test
di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
Disetujui oleh:
Dosen Penanggung Jawab Laboratorium Fisiologi Tumbuhan
( Prof. Dr. Ir. J. A. Napitupulu, MSc. )
NIP. 130231557
Diketahui oleh: Diperiksa oleh:
Asisten Koordinator Laboratorium Asisten Penanggung Jawab Group IV
( Rimember A. Lubis ) ( Sylvia Fransisca S. )
NIM. 040301014 NIM. 040301039
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Judul laporan ini adalah “INISIASI AKAR” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar Prof. Dr. Ir. J. A. Napitupulu, MSc.; Prof. Dr. Ir. J.M. Sitanggang, MP.; Ir. Meiriani, MP.; Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP.; Ir. Haryati, MP. dan Ir. Lisa Mawarni, MP., selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan dan abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari laporan ini banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Medan, November 2008
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………. i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………... ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ……………………………………………………….. 1
Tujuan Percobaan …………………………………………………….. 2
Kegunaan Percobaan …………………………………………………. 3
TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………. 4
Botani Tanaman ……………………………………………………….
Syarat Tumbuh ………………………………………………………...
Iklim ……………………………………………………………..
Tanah …………………………………………………………….
Inisiasi Akar ……………………………………………………………
Stek …………………………………………………………………….
Zat Pengatur Tumbuh ………………………………………………….
BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
Tempat dan Waktu ………………….………….……………………... 7
Bahan dan Alat ………………………………….…………………….. 7
Prosedur Percobaan …………………………….……………………... 7
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ……………………………………………………………….….. 9
Perhitungan …………………………………………………….……... 9
Gambar ……………………………………………………………….. 10
Pembahasan …………………………………………………….…….. 11
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ………………………………………………………...… 13
Saran …………………………………………………………………. 13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mawar merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Mawar yang di kenal nama bunga Ros atau Ratu Bunga merupakan symbol atau lambang kehidupan religi dalam peradaban manusia. Mawar berasal dari dataran Cina, Afrika tengah,dan Eropa timur. Dalam perkembangannya, menyebar luas di daerah-daerah beriklim dingin (sub-tropis) dan panas (tropis) (http://www.o-fish.com, 2008)
Mawar adalah tanaman semak dari genus rosa sekaligus nama bunga yang di hasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakkan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjang yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang di temui, tinggi tanaman mawar merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter. (http://www.wikipedia. org, 2008)
Pokok bunga mawar merupakan jenis tumbuhan berbunga yang sering di tanam sebagai pohon hiasan. Tanaman berbunga pertama muncul pada zaman cretaceous. Pokok berbunga pertama adalah angiospermae. Bunga mawar adalah satu bunga asing bagi bangsa melayu dan suatu kebudayaan asing yang baru terdapat di dunia melayu. Bunga mawar merupakan suatu kebudayaan asing yang baru bertapak di dunia melayu. Bunga mawar mempunyai keharuman yang lemah dan tidak sekuat bunga tempatan. Ini mungkin di sebabkan bunga mawar,agar tidak banyak mempunyai persaingan. Dalam kebudayaan barat,dan kini dalam kebudayaan melayu bunga mawar melambangkan bunga cinta (http://www.wikipedia .org, 2008)
Suatu bunga mawar adalah suatu jenis tumbuhan tetap hijau yang berbunga semak belukar atau anggur mengangkut suatu jenis rosa itu,dalam keluarga rosaceace yang berisi di atas 100 jenis. Jenis membentuk suatu kelompok semak belukar lurus dan pabrik tumbuhan seret atau pemanjangan, dengan batang yang sering memiliki duri tajam/jelas. Kebanyakkan adalah asli asia, dengan angka jenis lebih kecil yang asli ke eropa, amerika utara, dan afrika barat laut. (http://www.wiki pedia.org, 2008)
Ada beberapa jenis bunga mawar tetapi budidaya bunga mawar sangat dijelaskan adalah bunga yang berjenis mawar teh hibrida. Untuk memperoleh produksi mawar yang diperhatikan saat tanam yang tepat (Soekartawi,1996).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan Inisiasi Akar adalah untuk mengamati pertumbuhan stek tanaman pada konsentrasi zat pengatur tubuh yang berbeda.
Kegunaan Percobaan
1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laburatorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut http;//www.o-fish.com. (2008), adapun sistematika mawar diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Didisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rosanales
Family : Rosaceae
Genus : Rosa
Species : Rosa damascene Mill,
Rosa multiflora Thunb
Rosa hybrida Hort
Sebagian besar species mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan. Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun penumpu (stipulan) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip tepi daun beringgit meruncing pada bagian ujung daun berduri pada batang yang dekat ke tanah (http://www.wikipedia.org, 2009).
Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan pengecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Nama bunga biasanya putih dan merah jambu atau kunung dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan dau kelopak. (http://www.wikipedia.org.2008)
Rosa (Rosa ceae) bunga mawar yang tabah, dan memanjat, tumbuhan yang kebanyakan berganti daun setiap daun berduri, yang terbaik mencintai mungkin yang menanam secara luas menanam semak belukar di kebun di zona temperatur tempat bunga mawar asli di temukan. Melalui mutsi dan hibrisasi dalam jumlah kelas berbeda dengan bunga yang besar atau tunggal kecil atau ganda pada umumnya dengan manis semerbak hampir di semuanya. (Graf, 1998)
Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips . masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Species dengan bunga yang terbuka lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yangmembantu penyerbukan sehingga cenderung mengahasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa pengecualian seperti Rose pimpinellifolia menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam. (http://www.wikipedia.org.2008)
Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk sebagai pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa species yang tumbuh liar ditanah berpasir di daerah pantai seperti Rose rugosa dan Rose pimpinellifolia beradaptasi dengan duri halus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurang kerusakan akibat binatang, menahan pasir yang diterbangkan angin dan melindungi akar dari erosi. Walaupun sudah dilindungi duri, rusa tidak takut dan sering merusak tanaman mawar. (http://www.wikipedia.org.2008)
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanama bunga mawar memerlukan suhu berkisar antara 19 - 30 oc atau menurut Tim Directorat Bina Produksi Holtikultura (1988) suhu berkisar antara 16 – 32 oc bergantung pada jenisnya, dan kelembapan rata – rata 50-60 oc
(Widyawan dan Prahastuti)
Curah hujan bagi pertumbuhan bunga mawar yang biak adalah 1500 – 3000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 5 – 6 jam perhari. Di daerah cukup sinar matahari mawar akan rajin dan lebih cepat berbunga serta berbatang kokoh. Sinar matahari pagi lebih baik dari pada sinar matahari sore, yang menyebabkan pengeringan tanaman (htpp ://www.o-fish.com, 2008)
Tanamn mawar mempunyai daya adaptasi sangat luas terhadap lingkungan tumbuh, dapat ditanam di derah beriklim dingin/sub-tropis maupun didaerah panas/tropis. Suhu udara sejuk 18-26 oc dankelemnapan 70-80 % (http://www.o-fish.com.2008)
Tanah
Bunga mawar dapat tumbuh didataran rendah hingga dataran tinggi. Tetapi untuk mawar tertentu seperti mawar the arabica hanya menyukai dataran tinggi sebab bunganya akan tumbuh dengan sempurna, baik bentuk, ukuran, warna, maupun baunya. Media tumbuh sebaiknya tanah yang gembur dan kayaakan kadar hara sebab tanah yang demikian daya tahannya terhadap air relatif baik. Tanaman mawar tidak menyukai air yang menggenang. Mawar tumbuh dengan baik pada tanah yang derajat kesamaannya antara 6 – 8 (Soekartawi, 1996)
Mawar tumbuh baik pada : ketinggian 560 – 800 mdpl, suhu udara minimum 16 - 18 oc dan maksimum 28 – 30 oc. Ketinggian 1100 mdpl, suhu udara minimum 14 – 16 oc, maksimum 24 – 27 oc. Ketinggian 1400mdpl, suhu udara minimum 13,7 – 15,6 oc dan maksimum 19,5 – 22,6 oc. Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman mawar dapat tumbuh produktif berbunga di dataran rendah samapi tinggi ( pegunungan ) rata-rata 1500 mdpl ( http : //www.o – fish.com, 2008 )
Penanaman dilakukan secara langsung pada tanh secara permanen di kebun atau di dalam pot. Tanaman mawar cocok pada tanah liat berpasir (kandungan liat 20 – 30 %), subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi, dan drainase baik ( http : // www. O – fish.com, 2008 )
Inisiasi Akar
Sistem akar menjaga pohon dengan kuat di dalam lipatan air dan material makanan dapat larut adalah lahan dan gudang kelebihan susunan makanan. Dan makanan mentah dikirim kepada melalui sampai sistem vaskuler dari akar, dan daun-daun. Sistem akar adalah cabang manapun dan membentang dari semua tempat atau yang sebagian besar pada ketukan yang dalam landasan. Pohon dalam mengambil adalah nampaknya angin dibanding suatu sistem dangkal ( Miller, 1992 ).
Para pelaku pertanian menyatakan bahwa akar (radix )adalah bagian tumbuhan yang berada di bawah permukaan tanah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut : organ yang tidak berbuku-buku dan beruas-rusa, organ tumnuhan yang umumnya tidak berkhlorofil, organ tumbuhan yang umumnya sebagian besar ataupun keseluruhannya berada dalam air (Sutejo dan Karta Sapoetra, 1995 )
Seperti batang, akar mempunyai titik tumbuh di ujungnya, yang pada tumbuhan berbiji terdiri dari sekumpulan sel, sedang pada tumbuhan Plendophyta hanya dari sel tunggal terdapat bentuk piramid tegak, sel apikal. (Tjitrosomo, 1994)
Zat Pengatur Tumbuh
Hormon tumbuh pada bebrapa organ tumbuhan, tetapi pada dasarnya dihasilkan oleh tenunan yang tumbuh dengan aktif, sehingga ujung pucuk dan daun serta buah muda. Kalau konsentrasinya meningkat, hormon ini bergerak dari sumbernya, biasanya melalui sel-sel hidup. (Tjitrosomo.1994)
Sesuai dengan fungsi dan kegunaanya bahwa zat pengatur tumbuh Rootone-F merupakan senyawa atau zat kimia yang dalam konsentrasi rendah dapat merangsang, menghambat atau sebaliknya mengubah proses fisiologi dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada bagian-bagian vegetatif dari tanaman, dimana hal ini tergantung dari tiap-tiap jenis tanaman atau sifat-sifat dan masing-masing jenis tersebut berasal. (http://www.freewebs.com.2008)
IBA (Indol Butirat Acid) dapat aktif pada konsentrasi yang sangat kecil, akar latral seperti halnya kuncup lateral juga dipengaruhi dari pemakaran zat-zat pendorong pertumbuha akar. IAA dibagi menjadi IBA, NAA, dan aklkohol (Malcohan.1992)
Media Tanam
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. (www.willy.situs hijau.co.id.2008)
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan in dilaksanakan pada hari sabtu, 6 september 2008 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25 m dari permukaan laut.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah mewar sekitar 30 cm untuk objek percobaan, top soil sebagai media tanam, pasir sebagai media tanam, rootone-F sebagai zat pengatur tumbuh tanaman yang berbeda, polibag sebagai tempat tanaman, plastic untuk membungkus bagian tanaman yang di stek, tali pelastik untuk mengikat hasil stek, label nama untuk memberi tanda bagi polobag.
Alt-alat yang digunakan adalah gunting/pisau untuk memotong tanaman yang akan di stek, cangkul untuk mencampur dan meletakkan tanah dalam polibag, dan meteran untuk mengukur.
Prosedur Percobaan
Dipilih cabang tanaman yang baik, tidak terlalu tua, dan tidak terlalu muda sepanjang + 20 cm.
Direndam cabang bagian bawah dari larutan Rootone F….% selama….menit.
Diisi media kedalam polibag yaitu campuran top soil dan pasir dengan perbandingan 2:1 lalu disiram dengan air.
Ditanamn tanaman, siram sedikit air, lalu tanaman di tutuodengan plastic transparan lalu diikat dengan tali plastik.
Diamati pertumbuhan tanaman setiap minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Parameter: Jumlah Tunas
Tanggal
Pengamatan Perlakuan
Kontrol 250 ppm 500 ppm 750 ppm
1 2 x 1 2 x 1 2 x 1 2 x
27 September 2008 1 2 1,5 1 2 1,5 1 1 1 2 2 2
4 Oktober 2008 1 3 2 1 2 1,5 1 1 1 2 2 2
11 Oktober 2008 1 3 2 2 3 2,5 1 1 1 2 2 2
18 Oktober 2008 1 2 1,5 2 3 2,5 1 1 1 2 3 2,5
25 Oktober 2008 1 2 1,5 2 3 2,5 1 1 1 2 3 2,5
1 November 2008 1 2 1,5 3 3 3 1 1 1 2 3 2,5
Parameter: Tinggi Tunas
Tanggal
Pengamatan Perlakuan
Kontrol 250 ppm 500 ppm 750 ppm
1 2 x 1 2 x 1 2 x 1 2 x
27 September 2008 4,5 4,5 4,5 1,5 3,5 2,5 2 4,5 3,25 3,5 5,5 4,5
4 Oktober 2008 5 5 5 2,5 4 5,25 4 5,3 4,65 4,1 4 4,05
11 Oktober 2008 5,2 5,4 5,3 3,5 4,5 4 6 6 6 4,2 4,1 4,15
18 Oktober 2008 5,5 5,4 5,42 4 5 4,5 7 7,5 7,25 4,3 4,1 4,2
25 Oktober 2008 5,5 5,4 5,5 4,5 5 4,75 8 8 8 4,5 4,3 4,4
1 November 2008 5,5 5,5 5,5 5 5,5 5,25 8 8 8 4,6 4,5 4,55
Pembahasan
Pada percobaan,digunakan batang mawar yang sehat dengan diameter batang yang cukup besar dan panjangnya 20 cm. Stek diambil dari bagin bawah batang, dan dikurangi daun-daunnya untunk mengurangi penguapan. Bagian batang mawar yang baik diambil yang tidak layu dan masih berwarna hijau. Hal ini sesuai literartur Hasim (1998), bahan stek yang baik harus diambil dari tanamanyang sehat. Tanaman yang telah mempunyai diameter tangkai panjangnya 20 cm. Stek diambil dari bagian bawah batang. Setelah itu, daunnya dikurangi untuk mengurangi penguapan. Setelah diolesi hormone perangsang pertumbuhan akar, stek langsung ditangkupkan ke media pasir yang telah dicuci dan diseterilkan.
Dari hasil percobaan, semua daun yang tumbuh di batang dipotong agar dapat mengurangi penguapan. Tunas daun pada minggu pertama jumlahnya antara 1-2. tetapi tinggi tunas sudah hamper sekitar antara 2,5 – 4,5. hal ini sesuai literatur Atjung (1988), bahwa sebelum stek ditanam daun yang dibawah sekali dan daun-daun diatasnya separuh dibuang supaya kurang air menguap.
Dari hasil percobaan diperoleh jumlah tunas setip minggunya pertambah dari minggu ke minggu. Pada minggu pertama tanggal 27 September 2008, pada control rata-ratanya 1,5 ; 250 ppm rata-ratanya 1,5 ; 500 ppm rata-ratanya 1 ; dam 750 ppm rata-ratanya 2. sedangkan pada minggu terakhir, tanggal 1 November 2008, control rata-ratanya 2 ; pada 250 ppm rata-ratanya 3 ; pada 500 ppm rata-ratanya 1, dan pada 750 ppm rata-ratanya 2,5. hal ini sesuai literature Tjitrosomo (1994), hormone tumbuh pada beberapa tumbuhan tetapi pada dasarnya dihasilkan oleh tenunan yang tumbuh dengan aktif, sehingga ujung pucuk dan daun serta buah muda. Kalau konsentrasinya meningkat, hormone itu bergerak dari sumbernya,biasanya melalui sel-sel hidup.
Dari hasil percobaan diperoleh pada tanggal 27 September 2008, pada perlakuan control rata-rata 4,5 ; pada 250 ppm rata-ratanya 2,5 ; pada500 ppm rata-ratanya 3,25 ; dan pada 750 ppm rata-ratanya 3,5. sedangkan pada minggu terakhir, tanggal 1 November 2008, pada perlakuan kontrol rata-ratanya 5,5 ; pada perlakuan 250 ppm rata-ratanya 5,25 ; pada perlakuan 500 ppm rata-ratanya 8 ; dan pada perlakuan 750 ppm rata-ratanya 4,55. pada percobaan diberikan zat penatur tumbuh yaitu rootone-F yang membantu tumbuhan sehingga dapat tumbuhlebih besar. Hal ini sesuai literature http//www.freewebs.com (2008), sesuai dengan fungsinya dan kegunaanya bahwa zat pengatur tumbuh Rootone-F merupakan senyawa atau zat kimia yang didalam konsentrasi rendah dapat merangsang, menghambat atau sebaliknya mengubah proses fisiologis dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada bagian-bagian vegetatif.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Rata-rata tinggi tunas pada perlakuan 500 ppm adalah 8 cm pada minggu keenam.
2. Tinggi tunas rata-rata paling rendah pada perlakuan 250 ppm adalah 2,5 pada minggu kesatu.
3. Jumlah tunas paling rendah pada perlakuan 250 ppm pada minggu pertama sebesar 1.
4. Jumlah tunas tertinggi pada perlakuan 250 ppm dengan rata-rata 3 pada minggu keenam.
5. Pada perlakuan 750 ppm, perkecambahan dan pertumbuhan jumlah dan tinggi tunas berjalan lambat.
Saran
Sebaiknya pada waktu pengamatan, para praktikan agar teliti dalam menghitung tinggi dan jumlah tunas sesuai dengan hasil yang sebenarnya.
Diposting oleh arenloveu di 10:44:00 AM 0 komentar
Label: fisiologi tumbuhan, inisiasi akar
